Transparansi Kasus Siyono

siyono

[Rilis Aksi Kasus Siyono]
Ketika asas-asas yang mulai dilupakan oleh negara ini. Asas kemanusiaan, asas keadilan, dan lain sebagainya.

Kemarin, BEM UNS bersama beberapa BEM Fakultas di UNS kembali melakukan aksi di depan Polresta Surakarta. Aksi ini dilakukan untuk menuntut pertanggungjawaban Polri atas kematian Siyono.

Adalah kasus Siyono (39) yang diberitakan meninggal dunia kurang lebih 1 bulan yang lalu (Jum’at, 11/3) dalam sebuah insiden pada saat penyelidikan kasus dirinya sebagai terduga teroris. Berbagai spekulasi muncul atas apa penyebab kematiannya. Dari hasil visum, ditemukan ada sejumlah luka memar di wajah, tangan dan kaki yang diduga kuat adalah hasi, tindak penganiayaan oleh petugas Densus 88. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa Siyono mengalami tindak penganiayaan oleh petugas. Kejanggalan juga terjadi karena
kurangnya keterbukaan dari pihak Polri dan keluarga terkait kondisi jenazah Siyono. Padahal, Siyono belumlah memperoleh status tersangka ataupun terdakwa dalam kasus terorisme yang mencatut namanya.
Dalam penjelasannya, Kabiro Penmas Polri menyatakan bahwa ketika Siyono dibawa kembali dari penyelidikan atas kasusnya, Siyono diklaim melakukan perlawanan yang akhirnya berujung pada kematiannya. Dalam keterangannya, Siyono dinyatakan meninggal karena kelelahan setelah melakukan perlawanan kepada petugas Densus 88 yang mengawalnya.
Namun banyak pihak yang menduga ada kejanggalan atas keterangan resmi dari Polri. Munculah, PP Muhammadiyah didampingi Komnas HAM yang menggandeng Sembilan dokter forensik dari Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia cabang Jawa Tengah dan satu dokter forensik Polda Jawa Tengah. Mereka mengadakan autopsi pada Minggu (3/4) pagi di pemakaman Siyono.
Setelah dilaksanakan kajian mengenai hasil autopsi terduga yang telah dilakukan oleh komnas HAM dan PP Muhammadiyah

Dari hasil autopsi tersebut didapat 3 poin :
1. Siyono meninggal bukan hanya karena luka dibagian kepala saja, namun dari hasil otopsi, Siyono juga mengalami tindak kekerasan dibagian dada yaitu patah tulang dada yang mengarah ke jantung, patah Lima tulang di iga kiri masuk ke organ dalam, patah satu tulang di IGA kanan ke arah luar tubuh dan punggung memar akibat tekanan dari depan.
2. Jasad Siyono belum pernah mengalami autopsi sebelumnya
3. Tidak ada luka defensif yang menandakan tidak ada perlawanan dari Siyono.

Dari ketiga poin tersebut sangat berbeda dari pernyataan yang disampaikan oleh humas polri. Mereka mengatakan bahwa siyono meninggal karena luka dibagian kepala dan juga Siyono meninggal karena melakukan perlawanan terhadap Densus 88.
Dari hal yang telah disampaikan diatas jelas bahwa Humas Polri telah melakukan kebohongan publik berupa pernyataan yang tidak sesuai dengan fakta.

Maka dari itu, BEM UNS, BEM FP UNS, BEM FKIP UNS, dan BEM FMIPA UNS menyatakan beberapa sikap terkait masalah Siyono pada khususnya dan penanganan kasus terorisme pada umumnya, yaitu :

1. Menyesalkan tindakan Densus 88 atas kasus Siyono dan kasus – kasus serupa sebelumnya.
2. Menuntut keterangan dari Polri atas perbedaan antara hasil autopsi atas kasus Siyono dari polri dengan PP Muhammadiyah
3. Menuntut penyelesaian yang tuntas dan transparansi dari pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus Siyono dan 120 kasus sebelumnya.
4. Menuntut penindakan tegas terhadap oknum Densus 88 yang lalai dalam tugasnya sehingga menyebabkan kematian.
5. Menuntut perbaikan sistem secara menyeluruh dalam tubuh Densus 88
6. Peninjauan kembali UU mengenai kewenangan Densus 88 yang terlalu luas
7. Menuntut adanya evaluasi terhadap penanganan kasus terorisme supaya kedepannya tidak terjadi kesalahan yang justru malah merugikan pihak yang tidak bersalah.

Karena belum ada tanggapan dari pihak kepolisian, maka kami memutuskan akan kembali melakukan aksi serupa pada hari Rabu, 20 April 2016.

Kami kembali mengajak rekan-rekan semua, dari seluruh elemen untuk menuntut pertanggungjawaban ini. Apakah harus ada 100 Siyono lagi agar kita sadar? Atau masih perlu berapa kasus seperti ini lagi untuk menggugah kita? Atau harus keluarga kita yang menjadi seperti Siyono agar kita rela meninggalkan bangku kuliah kita un tuk sesaat.

Beruntunglah, kasus ini tidak terjadi pada keluarga kita, sehingga kita masih bisa santai menikmati aktivitas kita. Mari bergerak, kawan. Jangan sampai Tuhan harus menakdirkan kita yang mengalami kasus seperti itu agar kita mau untuk bergerak.

Namun sekali lagi, Siyono adalah saudara kita sebangsa dan se tanah air yang juga memiliki hak hidup. Mari bergerak. Kita buktikan kita mampu membuat Polri bertanggungjawab. Hidup mahasiswa.

Download kajiannya di : bit.ly/kajiansiyono

http://nasional.republika.co.id/…/o5tujv354-bem-uns-tuntut-…

http://www.timlo.net/…/mahasiswa-tindak-oknum-densus-88-la…/

http://www.mahasiswanews.com/…/bem-uns-tuntut-transparansi-…

BEM UNS 2016
Inisiator Perubahan
——————————
FB : BEM UNS
TWITTER : @bemuns
IG : @bemuns
LINE : @emi4057n
WEB : bem.uns.ac.id

3 replies
  1. Andika
    Andika says:

    mau tidak mau harus ada reformasi birokrasi untuk penegak hukum.. jika ingin revolusi mental mulailah dari pelaksananya, yakni penegak hukumnya…

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply to Annas Tasyia Sakila Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *