REALITA PENDIDIKAN TINGGI NEGERI DI INDONESIA

ibu nak REALITA PENDIDIKAN TINGGI NEGERI DI INDONESIA..

“Nak, kuliah di negeri saja ya agar lebih murah”

Mungkin hampir semua orangtua di Indonesia mengharapkan anaknya kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN), karena para orang tua menggangap bahwa kuliah di PTN merupakan sebuah anugerah bagi kesulitan ekonomi yang di hadapi saat ini, dengan biaya kuliah yang murah sehingga tak memberatkan mereka sebagai orang tua namun dalam realita sebenarnya Pendidikan tinggi negeri di Indonesia kian hari semakin tak berpihak pada rakyat kecil, mulai dari kian melambungnya UKT (uang kuliah tunggal), polemik perubahan perguruan tinggi negeri menjadi perguruan tinggi negeri berbadan hukum yang memiliki berbagai permasalahan, hingga anggaran pendidikan tinggi tahun 2016 yang mengalami penurunan. merupakan sebuah pembuktian bahwa pendidikan tinggi di Indonesia masih belum berpihak pada rakyat kecil, di lain sisi pemerintah sedang giat-giat nya membangun infrastruktur Indonesia dengan konsep NAWACITA-nya, karena mungkin sebuah indikator Negara dianggap maju dewasa ini adalah panjangnya jalan tol ,banyaknya pelabuhan atau kereta api yang bisa melaju super cepat agar dapat mengatasi kemacetan, bukan dari berapa banyak warganya dapat mengenyam pendidikan bukan hanya  pendidikan wajib 9 tahun namun juga dapat merasakan bangku perkuliahan, namun nampaknya pendidikan saat ini bukan prioritas utama pemerintahan kita, meskipun kita perlu ingat bahwa dalam NAWACITA salah satu dari 9 agenda prioritas pemerintahan kita adalah meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan namun mungkin Indonesia akan terlihat sedikit maju bila infrastruktur-nya dapat bersaing dengan Negara maju lainnya .

UKT atau uang kuliah tunggal yang pada awal pemberlakuannya di gadang-gadang akan memberikan keringanan pembayaran pada mahasiswa, karena mahasiswa tidak lagi dituntut membayar uang pangkal dan uang gedung karena sudah menjadi satu paket pembayaran dalam UKT, ternyata malah makin memberatkan mahasiswanya.  PTN dengan dalih meningkatnya inflasi di Indonesia dengan semena-mena menaikan ukt hingga 5-7 persen tiap tahunnya, meskipun dalam keberjalannya universitas diberikan bantuan operasional perguruan tinggi negeri atau BOPTN agar mahasiswa dapat membayar UKT lebih ringan, namun tetep saja mahasiswa merasa UKT memberatkan bagi mereka karena selalu naik dan jarang sekali turun. hal ini menyebabkan para orang tua yang memiliki penghasilan minim harus bekerja ekstra keras dan terkadang para mahasiswa harus bekerja paruh waktu guna membantu orang tua nya membayar uang kuliah, hal ini merupakan hal yang miris saat mahasiswa dituntut pihak universitas untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu namun di lain sisi mereka harus membiayaai kuliahnya dengan bekerja paruh waktu yang tak jarang mengorbankan tugas kuliahnya dan mungkin untuk mengembangkan diri dalam organisasi. belum lagi masalah transparansi UKT banyak  mahasiwa bertanya-tanya kemana perginya uang yang mereka bayarkan, karena UKT yang menurut pihak pimpinan universitas UKT adalah untuk pembiayaan semua keperluan mahasiswa itu sendiri, dalam kegiatan belajar-mengajar  namun dalam kenyataannya miris karena untuk belajar saja mahasiswa harus berebut kelas karena keterbatasan kelas yang ada atau tempat kelas yang tak nyaman yang tak jarang bocor saat hujan sehingga menganggu proses pembelajaran, lalu kemanakah UKT itu tersalurkan hanya TUHAN dan pengambil kebijakannlah yang tahu.

Sementara itu beasiswa bidikmisi yang sangat diharapkan oleh calon mahasiswa kurang mampu agar dapat berkuliah  semakin lama semakin turun jumlah kuota-nya, ditiap universitas hingga 50 % penurunannya  karena pemerintah berdalih semakin banyaknya perguruan tinggi negeri di Indonesia maka semakin banyak pula mahasiswa yang harus menerima beasiswa bidikmisi ini,sehingga pemberian beasiswa ini di setiap universitas harus dipangkas.  Selain itu beasiswa PPA 2016 yang diharapkan oleh mahasiswa berprestasi untuk sedikit membantu membayar uang kuliahnya namun masih simpang siur apakah akan diadakan lagi.

Permasalahan dalam PTNBH atau perguruan tinggi negeri berbadan hukum termasuk salah satu permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa perguruan tinggi negeri karena keleluasan yang diberikan pemerintah pada PTNBH untuk mengelola sendiri keuangannya yang dimiliki, menyebabkan liberalisasi pendidikan nampak jelas didepan mata para mahasiswa, ideologi liberal yang memiliki kelemahan yaitu akan adanya monopoli yang dilakukan oleh pemilik kekuasaan nampaknya menular juga pada perguruan tinggi negeri berbadan hukum, karena keleluasan yang dimiliki PTNBH sehingga pemimpin universitas dapat memberikan kebijakan yang memberatkan mahasiswa nya dengan menaikan UKT sesuka hati, agar dapat membantu pembiayaan membangun hotel,mall atau showroom mobil, namun anehnya dengan banyaknya permasalahan dalam format baru perguruan tinggi negeri ini, menristek dikti masih saja mendorong agar perguruan tinggi negeri berubah menjadi perguruan tinggi negeri berbadan hukum, karena mungkin PTNBH yang dapat mencari uang sendiri, tidak akan memberatkan APBN negara sehingga pemerintah tak perlu mengeluarkan terlalu banyak anggaran pendidikan untuk perguruan tinggi.

Sudah saatnya pemerintah kembali membaca sejarah panjang perjuangan para pahlawan pendidikan Indonesia, ki hajar dewantara yang menghabiskan seluruh hidupnya agar semua rakyat Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak, meskipun harus mati karena di anggap menentang penjajah yang mengharapkan rakyat Indonesia untuk tetap bodoh atau tan malaka yang berusaha untuk mencerdaskan anak bangsa yang saat itu sedang terjajah, meskipun akhirnya membuat dia harus di penjara, meyedihkan saat Indonesia tak lagi terjajah saat kita dapat mencerdaskan rakyat kita karena tak ada lagi penjajah yang berharap kita untuk tetap bodoh namun pemerintah kita melupakan kesempatan itu dan membuat pendidikan adalah hal yang mahal bagi rakyatnya.

By : Syeh Adni/ Kementrian Kajian Strategis /BEM UNS 2016

 

1 reply
  1. Ria Ayudya
    Ria Ayudya says:

    Yang saya tahu dari dosen saya, PTNBH memang diberi keleluasaan untuk mengurus keuangan seperti dgn membangun hotel, rumah sakit, dll dengan prinsip bahwa jika usaha2 tersebut memberi keuntungan, maka laba nya akan digunakan untuk meningkatkan fasilitas kampus atau meringankan beban mahasiswa (entah dengan menurunkan ukt atau memberi beasiswa), NAMUN yang perlu digarisbawahi adalah JIKA usaha2 yg dijalankan tersebut malah memberi kerugian pada universitas, maka pihak univ DILARANG untuk membebankan kerugian tersebut ke para mahasiswanya, atau intinya mereka harus mencari sendiri uang atau apalah itu untuk menutupi kerugiannya. Nah, begitu yg disampaikan oleh dosen saya, jadi kata beliau sebenarnya pihak univ juga harus mempertimbagkan matang-matang jika ingin menuju ke PTNBH, tidak asal untuk cari keuntungan, tapi juga memikirkan resiko yg ada.
    Yah bahwa kita memandang sesuatu ga boleh hanya dari satu sisi aja, kita perlu banyak sumber untuk membuat sebuah pernyataan. Dan tentu saja harapan mahasiswa adalah pihak univ melakukan yg terbaik untuk kesejahteraan mahasiswa, untuk keberjalanan PTNBH entah nanti seperti yg diucapkan dosen saya atau seperti yang kita cemaskan, tentu perlu pemantauan lebih lanjut. So, tetap kritis dan pasang mata pasang telinga.

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *