DONGENG ORANG NO 1 DI KOTA SOLO(EA)

Istana Raja

Istana Raja

Pada suatu zaman ada raja di suatu kota yang bernama Soloea, alkasih sang orang no satu itu diceritakan adalah sosok pemimpin yang bijaksana, ramah, dan solutif atas segala permasalahan-permasalahan yang ada, kebijakanya pun selalu pro rakyat.Pemimpin wong cilik begitu sebutanya, dengan berbgai macam tagline sebut saja WAREG, WARAS, WASIS semakin menguatkan bahwa sang raja adalah sosok yang pro rakyat.Sang pemomong rakyat begitupun sebutanya, selalu terbuka dan selalu menemui elemen yang mempunyai kritik ataupun saran adalah hal pasti yang ia lakukan setiap saat.

Begitulah dongeng Orang no 1 Di Kota Soloea, sebuah dongeng yang terlihat inspiratif bagi sosok pemimpin yang menjadi sosok no 1 di suatu kota.Berbagai macam kelebihan tanpa ada kekurangan di dirinya adalah hal yang wajar dimuat di sebuah dongeng yang biasa diceritakan pada anak-anak yang masih polos sebelum beranjak tidur.

Namun dongeng tetaplah sebuah dengeng dengan berkaca dari pengertian dongeng adalah suatu cerita fiktif yang menggambarkan suatu kejadian dimana cerita tersebut dianggap masyarakat suatu hal yang tidak benar-benar terjadi.Suatu cerita yang tidak benar benar terjadi adalah penakanan yang saya tekankan disini, sebuah cerita untuk anak-anak polos sekedar untuk penghantar tidurnya.Cerita dongeng orang no 1 di kota Soloea yang mencitrakan tokoh utama sang orang no1 dengan kelebihan-kelebihanya bagai seorang manusia setengah dewa adalah hal naif.

Namun apakah dongeng orang no 1 di kota Soloea bisa terjadi di dunia nyata adalah pertanyaan yang kini menjadi perdebatan.Mungkin jelas jawabanya adalah suatu ketidakmungkinan ada seorang no 1 yang mempunyai kelebihan-kelebihan layaknya diceritakan di dongeng orang no 1 di kota Soloea.Pada faktanya seorang pemimpin sekarang adalah sosok yang dicitrakan oleh kebanyakan media menjadi sosok seperti tokoh di dongeng.Realitanya kebanyakan sang pemimpin adalah sosok yang ramah hanya mempermanis tipu muslihatnya, sosok yang solutif jikalau ada kepentingan di belakangnya.

Sebutan pemimpin wong cilik dan pro rakyat adalah suatu impian belaka jikalau pada faktanya banyak rakyat kecil yang ingin mengadu namun ditolak, sedangkan di sisi lain investor investor yang pro kepentinganya diterima dengan senyuman menawan.Tagline indah di dongeng hanya kata kata manis di kehidupan nyata, sarana untuk meraup dukungan adalah hal utama dari fungsi tagline-tagline indah.

Menemui elemen-elemen yang akan mengutarkan kritik dan saran susah untuk direalisasi adalah hal yang biasa terjadi.Dua sisi dongeng dan realita yang seharusnya kini menjadi sorotan seluruh elemen masyarakat.Antara harapan dan kenyataan terjadi suatu kesenjangan di era seperti ini.Jika dongeng orang no1 di kota Soloea seperti itu, jikalau kita mau bandingkan antara negri dongeng Soloea dengan kota nyata seperti Solo adakah persamaan keadaan realitasnya???

Justru jika melihat keadaan kota Solo saat ini adalah sebuah anomali dari keadaan negri dongeng Soloea. Berbagai macam persoalan meruak ke permukaan satu persatu. Dimulai dari permasalahan hilir sampai kepada permasalahan hulu, seperti terbengkalainya TPA Putri Cempo, Kebijakan Sistem Satu Arah Laweyan, Hingga sampai janji palsu pembangunan shelter PKL Gerobak Kuning. Kesemuanya merupakan sebuah permasalahan yang menyangkut hidup wong cilik hingga sampai keberjalanan lebih dari satu tahun Orang no 1 di kota Solo memimpin ternyata tidak mampu diselesaikan bahkan cenderung mengarah tidak pro wong cilik.

Bila kita menilik kembali dan membandingkan dongeng orang no 1 kota Soloea dengan kota Solo. APAKAH KOTA SOLO MEMILIKI PEMIMPIN DENGAN SIFAT SOLOEA YANG PRO RAKYAT ATAU ITU HANYA ANGAN DONGENG SEMATA ?

Muhhamad Shidiq Fathoni,
Jaringan dan Aksi
BEM UNS 2016

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *