lets talk about you

Waw. Mahasiswa. Pernahkah anda mendengar atau bahkan merasakannya sendiri euforia seseorang dalam menyambut ‘gelarnya’ menjadi seorang mahasiswa? Pernahkah? Saya pernah. Saya mengalaminya. Dalam benak saya “ asiik, bisa demo-demo!” , “ asiik, sekolahnya ga pake seragaam” , “ asiik, sekolahnya nggak selalu masuk pagi”, dan seterusnya. Tapi, sejenak saja setelah memasuki dunia perkuliahan, ada sesuatu hal kecil yang menimbulkan pertanyaan – pertanyaan besar di benak calon – calon kader peradaban itu. Sebuah amanah kecil yang dibisikkan dari lingkungan sekitar yang menahan sebuah suara jeritan kehidupan. ck. Sebuah amanah peradaban.

spb

Mahasiswa. Sebuah titel berat yang disandang oleh seorang pria atau wanita yang bahkan ketika fikiran dan perasaannya. Belum terpaku pada tujuannya.

Ketika menginjak posisinya di ranah mahasiswa, beberapa kader peradaban ini terkadang bingung, atau bahkan tidak tahu dengan amanah besar yang bersiap memilih pundaknya untuk bersama mengusap air mata ibu pertiwi.

Hmmmm. Rasanya seperti menakutkan dan menarik di waktu yang bersamaan. Menakutkan karena sebuah amanah sekecil apapun akan dimintai pertanggung jawabannya, dan menarik karena ini adalah tentang kita, tentang negara kita, tentang tuhan kita, tentang mimpi – mimpi kita. Ehm, kok kayak udah penutupan? Wkwkwk.

Yang pasti, amanah tidak pernah salah memilih pundak.

Ya ya ya, berbagai kasus di negara kita, tidak bisa kita mutlak murni menyalahkan pemerintahnya. Yaa walaupun pemerintah itu yaa gitu. Ehm, kasus yang nyata di depan mata dengan kasus yang tidak tampak nyata di depan mata memiliki porsi menakutkannya masing-masing. Kasus nyata seperti korupsi, kejahatan seksual, dan lain-lain, biasanya meresahkan fikiran dan waktu dalam menanganinya. Sedangkan kasus yang tidak tampak di depan mata seperti rusaknya moral, rusaknya sopan santun, biasanya menjadi hal remeh temeh yang dianggap lalu bagi sebagian masyarakat. Inilah yang akhirnya melekat pada sendi – sendi bawah sadar masyarakat kita. Mentolerir kesalahan.

“ Secara peradaban, kita mati ! “ kata seorang orator di sebuah forum diskusi. “ kita krisis literasi ! “ sambungnya.

ada sebuah ayat dalam kitab suci Al quran yang ayatnya sering digunakan dalam ranah dinamika politik islam kita.

Laqad radiyallaahumma ‘anilmukminiina idz yubaayi’unaka tahta sajaratil fa’alimaama fii quluubihim faanzala sakiinata ‘alaihim wa atsaabahum fathan qariiba

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya”

Dalam sebuah orasinya, seorang idola saya berteriak lantang “ bahwa yang dibutuhkan Indonesia kedepan, adalah sebuah OTAK yang baru, HATI yang baru, dan TULANG PUNGGUNG yang baru! Siapapun yang ingin memimpin Indonesia TIDAK AKAN BISA memimpin Indonesia hanya karena dia menjadi seorang presiden, mempunyai banyak menteri. Seseorang yang ingin memimpin Indonesia, BARU BISA memimpin Indonesia kalau dia bisa menjadi OTAKnya Indonesia, HATInya Indonesia, dan TULANG PUNGGUNG Indonesia! Itulah generasi baru yang dibutuhkan indonesia sekarang ini. itulah DNA BARU yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini!”

Wah. Bagus sekali orasinya kawans. itu orator paling jos di Indonesia ini menurut saya kawans. sekian. semoga bisa menjadi pengingat malam sabtu kalian. SEMANGAT PAGI! *hihi, alumni esq.

Khansa Laili Fitria

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *