MENGUKIR CERITA DIBALIK GO SPB

Usai berlalu Grand Opening Sekolah Penerus Bangsa (GO SPB) UNS 2016. Wawasan pengetahuan dan pengalaman yang luar biasa didapat dari serangkaian kegiatan tersebut. Yang mana telah memberikan spirit yang luar biasa bagi 200 mahasiswa yang mengikutinya. Perjuangan pun belum selesai sampai di situ. Kita dibekali ilmu untuk bisa mengimplementasikan dalam kehidupan nyata di masyarakat. Karena pada esensinya kita adalah pemuda para penerus, pembaharu, dan penentu maju-mundurnya peradaban bangsa ini. Terdapat serangkaian tugas-tugas yang telah diberikan setelah mengikuti perjalanan itu. Dibalik semua itu, bukan jalan mahasiswa SPB untuk mengeluh. Memang benar bahwa tugas ketika kuliah itu bertubi-tubi bermunculan. Tugas seorang mahasiswa harus bisa mengatur prioritas waktunya dengan baik. Justru, di dalam tugas yang diberikan dari serangkain acara GO kemarin itu membuat kita lebih paham, sehingga materi-materi yang telah disampaikan pembicara-pembicara yang berkualitas dan berkompeten itu dapat tersimpan lama dalam memori kita.

img_3094

Mengangkat sebuah pertanyaan apa yang kalian dapat setelah GO SPB 2016? Sesungguhnya di dalam pikiran saya banyak hal yang mengagumkan yang sulit untuk tersuratkan. Hanya dalam rentetan kata singkat ini semua tentang serangkaian apa yang saya dapat dari GO SPB tercurahkan.

Awal materi yang disampaikan mengenai konsep diri. Hal yang terngiang dalam memori saya adalah jangan hanya berpikir secara konseptual, tetapi lakukan secara konkrit. Jangan hanya berpikir hal yang besar saja, namun hal yang kecil pun juga harus dipikirkan. Bukan maksud membatasi, namun pahamilah identitas diri siapa kita, dimana kita, dan apa tujuan kita. Silakan jadi siapapun, tapi jangan lupakan esensinya. Karena semua identitas pasti memerlukan sebuah tanggung jawab. Bermimpilah yang sebesar-besarnya, tapi bersegeralah untuk mengerjakan kebaikan yang terdekat. Semua memang dimulai dari diri sendiri, dari yang terkecil, dan dari sekarang. Jangan alergi terhadap perubahan. Buang mental takut akan salah karena hal tersebut merupakan musuh yang nyata yang menyebabkan seseorang tidak berani untuk mengambil sebuah keputusan. Serta, jangan perkecil tujuan hanya untuk menyejahterakan diri sendiri. Karena sesungguhnya yang terpenting adalah kebermanfaatan kita untuk orang lain.

Materi ke dua yang telah disampaikan oleh Edo Rahardi Permana membuat saya sadar akan esensi dari peran mahasiwa yang sesungguhnya. Yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa adalah sebagai Agent of Change. Yakni sebagai seseorang yang dipercaya masyarakat yang akan mengabdi, memimpin, dan menggantikan para pemimpin terdahulu. Seorang mahasiswa itu tugasnya tidak hanya belajar kuliah pulang kuliah pulang yang hanya mengejar akademisi saja. Tugas mahasiswa adalah menciptakan sebuah agen perubahan ke arah yang positif tanpa menghilangkan jati diri bangsa Indonesia. Dengan kegairahan dan semangat juang yang tinggi seperti semangat juang Tri Dharma yang dimiliki diharap bisa merubah bangsa kita ini menjadi bangsa yang maju di mata dunia. Tak luput dengan kerja keras dan menguras banyak energi demi kemajuan yang bangsa didominasi oleh masyarakat intelektual, berkompeten tinggi, dan berkarakter. Seorang mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan untuk merevolusi pembaharuan di negeri ini dengan visi dan tujuan yang jelas agar bisa memberi manfaat kepada masyarakat. Namun sebelum merubah semua itu, rubahlah diri sendiri dalam dunia kebaikan. Kalau bukan kita yang merubah, lantas siapa lagi?

Yang bisa dilakukan mahasiswa berikutnya adalah iron stock. Seorang mahasiswa diharapkan memiliki mental baja dan jiwa kepemimpinan tinggi yang bisa memimpin, mempengaruhi, dan mengarahkan anggotanya. Pemimpin yang baik itu berasal dari anggota yang baik. Bukan seseorang yang secara instant duduk di kursi kekuasaan dengan menggunakan politik uang. Mahasiswa diekspektasikan bisa menggantikan para pemimpin agar menjadi bangsa yang bermoral dan berkarakter dalam kaderisasi kepemimpinan.

Berikutnya adalah dalam hal social control. Sebagai mahasiswa, sudah sepantasnya memberontak kepada pemerintah jika terdapat suatu keganjilan mengenai suatu permasalahan yang dirasa mengancam dan merugikan rakyat. Kepedulian sosial perlu ditanamkan dalam jiwa setiap mahasiswa. Bukan hanya melalu aksi demo atau turun ke jalan saja, melainkan dengan suatu pemikiran yang mendasar, suatu ide yang cemerlang, atau segala sesuatu kebermanfaatan yang bisa diberikan kepada masyarakat dan bangsa kita.

Selanjutnya adalah moral force atau kekuatan moral yang merupakan fungsi utama dari seorang mahasiswa. Mahasiwa dituntut untuk bisa memberikan contoh dan teladan yang baik dalam masyarakat karena mahasiswa sebagai kaum terpelajar yang memiliki keberuntungan dalam dunia pendidikan. Mahasiswa diharapkan bisa memberikan kontribusi nyata di masyarakat. Misalnya, sebagai penyalur aspirasi masyarakat yang belum didengar oleh pemerintah atau dengan mensosialisasikan tentang kebijakan pemerintah yang dirasa sulit dipahami masyarakat.

Pesan dari pembicara kedua ini yang bisa saya ambil adalah tak ada pilihan yang salah, yang ada hanya pilihan yang terbaik. Karena sebuah keinginan-keinginan yang besar harus dibayar dengan resiko-resiko yang besar pula. Membuat plan atau rencana mulai dari sekarang agar tujuan tampak jelas kita akan berlari ke arah mana. Jangan pernah memperkecil tujuan hanya untuk mensejahterakan diri. Mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang melakukan aksi nyata serta mahasiswa yang mencarikan alternatif solusi dari suatu permasalahan.
Materi ketiga yang dibawakan oleh Yuli Ardika Prihatama adalah tentang kepenulisan dengan mengangkat judul Menulis Bukan Untuk Menulis. Tahukah kawan apa arti dari sebuah judul tersebut? Ya, dari judul tersebut terkandung makna bahwa mahasiswa diharapkan menulis karena mengawali pikiran masyarakat atau publik. Menulis karena sebuah kesadaran nasional dalam diri, menulis karena menentang penyimpangan dan ketidakadilan yang nyata di negeri ini, dan menulis karena untuk membangun persatuan. Materi yang bisa saya serap dari pembicara tersebut adalah tulisan yang baik itu adalah tulisan yang mudah dimengerti, komunikatif, sesuai konteks dan kebutuhan, memenuhi standar etika dan keadilan. Modal untuk menulis pada dasarnya adalah bisakan mendengar dari suatu hal dengan melihat dari sudut pandang, cara, jarak, dan resolusi yang ada. Kekreativitasan dan keberanian berekspresi jiwa dalam bahasa memang sangat diperlukan. Marilah kawan, mari menulis. Menulislah untuk persembahanmu kepada tuhan dan terhadap kemanusiaan.

Lengkap sudah jika dari ketiga materi ini kita bisa meresapi, mengimplementasi, dan mengaplikasikan dalam kehidupan nyata dalam bermasyarakat. Peran mahasiswa adalah sebagai pembelajar sekaligus pemberdaya keutuhan bangsa ini. Buatlah masyarakat sadar dan menanti-nanti akan langkah yang kita tanam nanti akan menghasilkan keuntungan bermanfaat untuk rakyat. Kawan, Berorientasilah dengan jiwa kepemimpinan untuk menciptakan pemuda yang berkualitas yang bisa mengoptimalkan potensi sumber daya pemuda demi keuntungan bersama.
Terimakasih. Hidup Mahasiswa!!! Hidup Rakyat Indonesia!!!

Icha Desti, Pendidikan Kimia

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *