Mocas #1

Assalamualaikum.wr.wb, aku ingin berbagi kepada kalian tentang materi yang aku dapatkan di moving class pertama SPB 2016. Materi pertama disampaikan oleh pembicara yang bernama ibu Dra. Mursida Rambe. Beliau adalah salah satu pendiri Baitul Mal wat Tamwil (BMT) Beringharjo. Beliau bersama dengan rekannya mendirikan BMT Beringharjo sejak tahun 1994 di serambi Masjid Muttaqien Pasar Beringharjo. Dengan bermodalkan Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) keduanya mulai membangun BMT dengan keikhlasan dan keterbatasan. Keduanya sadar bahwa membangun kepercayaan dari masyarakat dengan prinsip kejujuran dan komitmen untuk tetap bisa membantu masyarakat kecil akan semakin meneguhkan keberadaan BMT di hati masyarakat. Pedoman dari BMT Beringharjo adalah bukan tentang kemiskinan tetapi tentang kepedulian.

Pada saat itu, semuanya serba terbatas kalau tidak ingin dikatakan serba darurat. Untuk keperluan administrasi kantor mereka harus meminjam mesin ketik seorang teman kos selama 1 (satu) tahun. Tidak hanya sekedar meminjam mesin ketik, meja dan kursi pun mereka pinjam dari ruangan takmir Masjid Muttaqien. Bahkan fasilitas telpon mereka pinjam dari seorang sahabat. Pada bulan ketiga pendirian BMT mereka sempat kaget karena mereka mendapat honor sebesar Rp 20.000,- (dua puluh ribu rupiah). Mereka tidak menyangka kalau akhirnya mereka mendapat honor, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan. Bertekad untuk mencapai tiga tujuan utama yaitu untuk menekan gerak langkah rentenir, menegakkan ekonomi syariah dan memberdayakan masyarakat.

Dengan keteguhan hati kedua akhwat tersebut dan di dukung oleh Dompet Dhuafa Republika, berjalanlah proses pematangan BMT Bina Dhuafa Beringharjo. Bermodalkan niat baik untuk melakukan perubahan bagi para kaum dhuafa dan semangat yang pantang menyerah. Oleh karena itu komitmen besar bersama kaum dhuafa terus dipegang dan dijalankan hingga sekarang oleh BMT Beringharjo. Selain sebagai alternatif mitra kerja dalam menjalankan usaha, BMT Beringharjo juga memberikan siraman rohani kepada segenap anggota ataupun nasabah sehingga diharapkan para pedagang kecil tersebut mampu selamat berusaha di dunia dan akhirat. Inilah informasi sekilas tentang BMT Beringharjo.

Berbicara tentang bank syariah atau BMT tentunya terkait dengan ekonomi kerakyatan. Menurut Prof.Dr.Mubyarto, ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, dan menunjukkan pemihakan sungguh – sungguh pada ekonomi rakyat. Dalam praktiknya, ekonomi kerakyatan dapat dijelaskan juga sebagai ekonomi jejaring ( network ) yang menghubung – hubungkan sentra – sentra inovasi, produksi dan kemandirian usaha masyarakat ke dalam suatu jaringan berbasis teknologi informasi, untuk terbentuknya jejaring pasar domestik diantara sentara dan pelaku usaha masyarakat.

Berikut ini ciri dari ekonomi kerakyatan adalah pemerintah menguasai hajat hidup orang banyak seperti yang dituangkan dalam pasal 33 UUD 1945, peran pemerintah dan swasta saling mendukung, masyarakat adalah bagian terpenting dalam sistem ekonomi ,ekonomi didasarkan pada asas kekeluargaan. Kemudian tujuan dari ekonomi kerakyatan adalah mendorong pemerataan pendapatan, mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, serta meningkatkan efisiensi

Terdapat 7 dosa sosial yang diungkapkan oleh Mahatma Gandhi yaitu :
1. Kekayaan tanpa kerja
Ini mengacu pada praktek mendapatkan sesuatu tanpa modal atau usaha, hanya memanipulasi pasar, aset, orang dan barang, sehingga anda tidak harus bekerja atau menghasilkan nilai tambah. Sekarang banyak profesi yang berkenaan dengan menumpuk kekayaan tanpa bekerja, mengumpulkan banyak uang tanpa membayar pajak, mengambil keuntungan dari dana-dana pemerintah tanpa menanggung bagian beban keuangan yang wajar, dan menikmati semua keuntungan dari status suatu warga negara dan keanggotaan suatu badan hukum tanpa mau memikul resiko atau tanggung jawab apa pun. Ini semua didasarkan pada suatu rencana cepat kaya atau spekulasi yang menjanjikan pelakunya dengan iming-iming, “Anda tidak perlu bekerja untuk menjadi kaya.” Motif emosional yang utama adalah ketamakan.

2. Kenikmatan tanpa nurani
Kenikmatan tanpa nurani merupakan salah satu godaan bagi para eksekutif saat kini. Banyak orang menganggap dirinya telah sukses lalu merasa bebas untuk melakukan apa yang diinginkannya. Mereka mencari kenikmatan. Padahal
kenikmatan tanpa suara hati hanya menimbulkan luka dan sakit hati bagi orang-orang lain.

3. Ilmu tanpa kemanusiaan
Apabila ilmu pengetahuan semuanya menjadi teknik dan teknologi, ilmu pengetahuan dengan cepat akan merosot menjadi manusia melawan kemanusiaan. Teknologi berasal dari paradigma ilmu pengetahuan. Jika hanya sedikit sekali tujuan kemanusiaan yang ingin dicapai oleh teknologi, maka kita akan menjadi korban teknologi kita sendiri. Bagaimana pun teknologi harus bersandar pada dinding yang benar; yaitu kemanusiaan. Bila tidak, maka evolusi atau bahkan revolusi dalam ilmu pengetahuan takkan atau sedikit sekali membawa pada kemajuan manusia yang nyata dan berharga.

4. Pengetahuan tanpa karakter
Bagaimanapun berbahayanya pengetahuan yang sempit, jauh masih lebih berbahaya pengetahuan tanpa karakter yang kuat dan berprinsip. Perkembangan intelektual yang murni tanpa perkembangan karakter internal yang sepada sama halnya dengan menyerahkan mobil sport bertenaga tinggi ke tangan remaja yang kecanduan obat bius. Sayangnya ada saja orang yang tak suka dengan pendidikan karakter, karena mereka menganggap, “Itu adalah urusan sistem nilai anda.” Tetapi anda bisa mendapatkan seperangkat nilai umum yang disetujui semua orang, bahwa kebaikan, keadilan, martabat, sumbangsih, dan integritas adalah patut untuk dipertahankan. Tak seorang pun akan menentang anda dalam hal ini.

5. Politik tanpa prinsip
Anda lihat banyak politisi menghabiskan banyak uang untuk membangun citra, meskipun citra itu dangkal, tiada isi, hanya untuk memperoleh suara dan jabatan. Bila ini terjadi, maka sistem politik akan bekerja terlepas dari hukum-hukum alam. Padahal Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat menulis, “Kami percaya kebenaran-kebenaran ini dengan sendirinya, bahwa Manusia diciptakan stara, bahwa mereka diberkati oleh Pencipta dengan Hak-hak tertentu yang melekat pada diirnya, antara lain hak akan kehidupan, kemerdekaan, dan pencarian kebahagiaan.”

6. Bisnis tanpa moralitas
Adam Smith, dalam bukunya Moral Sentiments, menjelaskan betapa mendasarnya dasar moral bagi keberhasilan sistem ekonomi; yaitu bagaimana kita saling memperlakukan satu sama lain, semangat untuk berbuat baik, melayani, memberi bantuan. Apabila kita mengabaikan dan membiarkan sistem ekonomi berjalan tanpa dasar moral serta tanpa pendidikan berkelanjutan, kita akan segera membentuk masyarakat dan bisnis yang tidak bermoral, kalau bukan asusila.

7. Ibadah tanpa pengorbanan
Tanpa pengorbanan kita mungkin aktif dalam kelompok agama namun tidak hidup beriman. Kelompok agama hanyalah tirai sosial agama belaka. Tidak ada kerja sama nyata dengan orang-orang, atau berusaha lebih keras lagi, atau mencoba memecahkan masalah-masalah sosial kita. Melayani kebutuhan orang lain memerlukan pengorbanan, setidaknya pengorbanan kesombongan dan prasangka diri kita sendiri.

Di akhir materinya ibu Mursida menjelaskan modal dari mendirikan BMT Beringharjo atau mewujudkan ekonomi kerakyatan yang membuat saya sekaligus audience yang mendengarnya pun ikut merasakan semangat yang ditebarkan oleh beliau. Modal dari mendirikan BMT Beringharjo adalah keyakinan, kesungguhan, dan doa. Ketulusan ibu Mursida dan teman-temannya untuk membantu masyarakat kecil yang tersangkut paut dengan rentenir supaya dapat melunasi hutang-hutangnya dari rentenir. Terimakasih ibu Mursida Rambe telah menginspirasi saya untuk mempunyai jiwa kepedulian kepada masyarakat.

Nah, materi yang kedua juga gak kalah seru dengan pembicara bapak Rosnendya Yudha Wiguna, S.H. Beliau membawakan materi tentang Sarekat Dagang Islam (SDI). Semangat Samanhudi Semangat Kemandirian Kemerdekaan Negeri merupakan slogan yang harus kita tanam kuat di dalam pikiran maupun perilaku. Akar kesadaran politik rakyat dan bangsa pada masa modern di Indonesia adalah dengan bangkitnya SI (Sarekat Islam) sebelum perang dunia 1 yang merupakan transformasi dari SDI (Sarekat Dagang Islam).

Sarekat Dagang Islam merupakan salah satu tonggak sejarah perkembangan agama Islam di Indonesia. Melalui Sarekat Dagang Islam para penganut agama Islam di Indonesia mulai berani menampakkan diri , dari sebelumnya yang selalu ditekan habis oleh pemerintah Belanda. Berawal dari perkumpulan pedagang batik di Laweyan yang merasa tersaingi dengan datangnya pedagang tionghoa, kemudian H. Samanhudi mendirikan SDI sebagai wadah untuk pedagang bati di laweyan yang tujuannya dalam bidang perdagangan. Sarekat Dagang Islam mengalami masa kejayaan ketika Tjokroaminoto bergabung menjadi anggotanya. Kemudian pada tahun 1909 SDI berganti nama menjadi SI ( Sarekat Islam). Sehingga seiring bergantinya nama juga berganti pun tujuannya bukan hanya dalam hal perdagangan tetapi juga dalam hal politik. Dari sini mulai lah SI disusupi oleh mata-mata Belanda yang akan mengakibatkan malapetaka untuk SI.

Dibawah kepemimpinan Tjokroaminoto, SI menjadi organisasi pergerakan pertama yang mampu mengadakan mobilisasi massa dalam sebuah vergadering (rapat terbuka) yang diadakan pada 26 Januari 1913 di Surabaya. Rapat terbuka tersebut dihadiri 12 afdeling (cabang) dari 15 afdeling yang ada dan berhasil menyedot atensi massa sebanyak 80.000 orang. Pada Kongres Kedua SI yang diadakan di Yogyakarta, April 1914, merupakan momen yang sangat bersejarah bagi Tjokroaminoto, SI, dan bagi rakyat Indonesia saat itu dimana Tjokroaminoto menjadi pemimpin tertinggi SI menggantikan H. Samanhoedi. Pada pembukaan kongres tersebut permintaan Samanhoedi agar tidak ada perubahan kepengurusan ditolak oleh peserta kongres. Mereka menginginkan Samanhoedi untuk menyerahkan kepengurusan kepada generasi muda yang lebih pandai dan memiliki kapasitas. Untuk meredakan suasana dan memberikan apresiasi kepada Samanhoedi Hasan Djajadiningrat mengusulkan agar Samanhoedi ditetapkan sebagai Ketua Kehormatan CSI (Central Sarekat Islam), sebuah posisi tanpa kekuasaan.

Kepiawaian Tjokroaminoto sebagai negosiator ulung tidak perlu diragukan lagi. Melalui lobi-lobinya kepada pemerintah Belanda, SI berhasil memperoleh status hukum dan mengubah afdeling-afdeling menjadi SI lokal. Selain itu, SI juga berhasil mendapat ijin untuk membentuk kepengurusan pusat yang kemudian dinamai Central Sarekat Islam (CSI). Sampai Kongres kedua sudah 60 afdeling yang berhasil diubah menjadi SI lokal dan nantinya terus bertambah. Maka, amat wajar pengaruh Tjokroaminoto semakin besar dan banyak cabang-cabang yang meliriknya untuk menjadi suksesor Samanhoedi. Di tangan Tjokroaminoto-lah SI mengubah konsep pergerakannya dari pergerakan di bidang ekonomi menjadi organisasi pergerakan nasional yang berorientasi sosial politik dan kepemimpinannya beralih dari kelompok borjuis pribumi ke kaum intelektual yang terdidik secara Barat.

Menurut beliau, SDI lebih pantas dijadikan patokan hari kebangkitan nasional, bukan Budi Utomo karena:
1. SDI berdiri pada tanggal 16 Oktober 1905, tiga tahun sebelum Budi Utomo berdiri. Beberapa catatan mengungkapkan bahwa SDI terbentuk pada tahun 1909, setahun setelah Budi Utomo yang lahir pada tanggal 20 Mei 1908. Maka seakan-akan Budi Utomo yang berdiri lebih awal daripada SDI.
2. SDI memiliki cabang di hampir seluruh nusantara sementara Budi Utomo sangat ekslusif karena hanya mendedikasikan untuk perjuangan masyarakat jawa.
3. Keanggotaan SI umum bagi masyarakat yang ingin ikut bergabung dalam perjuangan melawan kolonialisme. Hal ini bertolak belakang dengan tokoh-tokoh dan keanggotaan Budi Utomo. Tokoh-tokoh dan keanggotaan Budi Utomo kebanyakan kaum priyayi dan terpelajar.
4. SI beranggotakan 360.000 orang pada tahun 1916 dan berangsur-angsur naik drastic pada tahun 1919 sekitar 2.000.000 orang. Sedangkan Budi Utomo beranggotakan sekitar 10.000 orang pada tahun 1909.

Pada mulanya Sarekat Islam adalah sebuah perkumpulan para pedagang yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. Garis yang diambil oleh SDI adalah koperasi, dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam. Keanggotaan SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang maka tidak memiliki anggota yang cukup banyak. Oleh karena itu, agar memiliki anggota yang banyak dan luas ruang lingkupnya maka pada tanggal 18 September 1912, SDI diubah menjadi SI (Sarekat Islam). Organisasi Sarekat Islam (SI) didirikan oleh beberapa tokoh SDI seperti H.O.S. Cokroaminoto, Abdul Muis, dan H. Agus Salim. Sarekat Islam berkembang pesat karena bermotivasi agama Islam.

Latar belakang ekonomi berdirinya Sarekat Islam adalah:
a). Perlawanan terhadap para pedagang perantara (penyalur) oleh orang Cina.
b). Isyarat pada umat Islam bahwa telah tiba waktunya untuk menunjukkan kekuatannya, dan
c). Membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera.

Tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan anggaran dasarnya adalah:
a). Mengembangkan jiwa pedagang.
b). Memberi bantuan kepada anggotanya yang mengalami kesukaran.
c). Memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat naiknya derajat bumi putera.
d). Menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam.
e). Tidak bergerak dalam bidang politik, dan
f). Menggalang persatuan umat Islam hingga saling tolong-menolong.

Kecepatan tumbuhnya SI bagaikan meteor dan meluas secara horisontal. SI merupakan organisasi massa pertama di Indonesia. Antara tahun 1917 sampai dengan 1920 sangat terasa pengaruhnya di dalam politik Indonesia. Untuk menyebarkan propaganda perjuangannya, Sarekat Islam menerbitkan surat kabar yang bernama Utusan Hindia.

Pada tanggal 29 Maret 1913, para pemimpin SI mengadakan pertemuan dengan Gubernur Jenderal Idenburg untuk memperjuangkan SI berbadan hukum. Jawaban dari Idenburg pada tanggal 29 Maret 1913, yaitu SI di bawah pimpinan H.O.S. Cokroaminoto tidak diberi badan hukum. Ironisnya yang mendapat pengakuan pemerintah kolonial Belanda (Gubernur Jenderal Idenburg) justru cabang-cabang SI yang yang ada di daerah. Ini suatu taktik pemerintah kolonial Belanda dalam memcah belah persatuan SI.

Bayang pemecahan muncul dari pandangan yang berbeda antara H.O.S. Cokroaminoto dengan Semaun mengenai kapitalisme. Menurut Semaun yang memiliki pandangan sosialis, bergandeng dengan kapitalis adalah haram. Dalam kongres SI yang dilaksanakan pada tahun 1921, ditetapkan adanya disiplin partai rangkap anggota. Setiap anggota SI tidak boleh merangkap sebagai anggota lain terutama yang beraliran komunis. Akhirnya SI pecah menjadi dua, yaitu SI Putih dan SI Merah. :
a). SI Putih, yang tetap berlandaskan nasionalisme dan Islam. Dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus Salim, dan Suryopranoto yang berpusat di Yogyakarta.
b). SI Merah, yang berhaluasn sosialisme kiri (komunis). Dipimpin oleh Semaun, yang berpusat di Semarang.

Dalam kongresnya di Madiun, SI Putih berganti nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Kemudian pada tahun 1927 berubah lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSSI). Sementara itu, SI Sosialis/Komunis berganti nama menjadi Sarekat Raya (SR) yang merupakan pendukung kuat Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ketua SI, Chokroaminoto mengajukan surat permohonan pada bulan September pada tahun 1912 kepada Angkatan Darat agar SI diakui kedudukannya sebagai badan hukum. SI juga mempunyai tujuan yaitu memajukan kecerdasan dan hidup menurut agama dan menghilangkan paham-paham keliru mengenai islam dan memajukan semangat dagang bangsa. Pada tanggal 26 Januari 1913, diadakan kongres 1 Sarekat Islam di Surabaya, ribuan orang dating berbondong-bondong. Ketua SI, H.Samanhudi disambut besar-besaran di stasiun. Beliau disambut dengan korps music dan dibopong beramai-ramai menuju mobil jemputan. Menurut laporan Asisten Residen Kepolisian pada tanggal 12 Februari 1913, menyebutkan bahwa massa yang hadir pada saat itu di taksir antara 8000-10.000 orang.

Kongres tersebut dipimpin oleh chokroaminoto dan pada kongres tersebut menyatakan tujuan SI :
1. Membangun kebangsaan
2. Mencari hak-hak kemanusiaan yang memang sudah tercetak oleh Allah.swt
3. Menjunjung derajat yg masih rendah
4. Memperbaiki nasib yang masih jelek dengan jalan mencari tambahan kekayaan ekonomi

Menurut Deliar Noor, terdapat 8 program kerja SI yaitu :
1. Mengenai politik SI menuntut didirikannya dewan-dewan daerah perluasan hak-hak volksraad dengan tujuan untuk mentransformasikan menjadi suatu lembaga perwakilan yang sesungguhnya untuk legislatif (demokratisasi).
2. SI juga menuntut penghapusan kerja paksa dan sistem izin berpergian ke luar negeri.
3. Dalam bidang pendidikan SI menuntut penghapusan peraturan diskriminatif dalam penerimaan murid di sekolah-sekolah.
4. Dalam bidang agama, SI menuntut dihapuskannya segala peraturan dan undang-undang yang menhghambat tersiarnya agama islam.
5. SI juga menuntut pemisahan lembaga kekuasaan yudikatif dan eksekutif dan menganggap perlu dibangun suatu hukum yang sama bagi menegakkan hak-hak yang sama di antara penduduk negara.
6. SI juga menuntut perbaikan di bidang agrarian dan pertanian dengan menghapuskan Partucullare Landerjen milik tuan tanah serta menasionalisasi industri-industri monopolistic yang menyangkut pelayanan dan barang-barang pokok kebutuhan rakyat banyak.
7. SI menuntut adanya pajak-pajak berdasarkan proporsional serta pajak-pajak yang dipungut terhadap laba perkebunan.
8. SI menuntut pemerintah untuk memerangi minuman keras dan candu, perjudian, prostitusi, melarang penggunaan tenaga anak-anak.

Materi kedua ini ditutup dengan beberapa contoh dari program-program substansial yang mencerminkan perjuangan Samanhudi yang merupakan konkret nyata dari semangat para samanhudi muda yang mampu membuat semangat samanhudi bergema di ruangan ini yaitu:
1. NCO Filantropi Dompet Dhuaafa
2. Muhammadiyah
3. Nahdhatul Ulama
4. Kartini-kartini baru Indonesia
5. Asosiasi bisnis “Beli Indonesia”
6. Jaringan Sekolah Islam Terpadu (2.393 sekolah berprestasi)

Terimakasih untuk pak Nendyan atas penyampaian materi yang penuh dengan gelak tawa karena sudah kenyang dan ngantuk, materi yang beliau sampaikan sangat menginspirasi saya dan teman-teman para generasi muda untuk menebarkan semangat Samanhudi. Jadi kesimpulan yang dapat saya ambil adalah SDI Merupakan organisasi pergerakan nasional pertama yang berlandaskan pada ekonomi kerakyatan sebagaimana yang telah disampaikan bahwa ekonomi kerakyatan yang berlandaskan berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, dan menunjukkan pemihakan sungguh – sungguh pada ekonomi rakyat. Demikian sedikit materi yang telah saya dengar dan tuangkan disini semoga bermanfaat bagi yang membaca. Mohon maaf bila terdapat salah dalam penulisan, akhir kata saya mengucapkan Assalamualaikum Wr.Wb.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *