Samanhudi untuk Rakyat, Ekonomi untuk Kemaslahatan Umat

15_20150904_091247Terik matahari pagi, membuat asaku semakin membuncah, keresahan demi keresahan semakin menghujam diri ini akan permasalahan silih berganti yang terjadi di bumi pertiwi ini, Bumiputera, Pribumi, Nusantara, dan sekarang menjadi Indonesia yang usianya masih sangat muda untuk diteruskan perjuangannya. Mendengar tentang kata ekonomi, seringkali kita terpaku pada kata “keuntungan dan menguntungkan , laba yang sebesar-besarnya, dengan modal sesedikit mungkin”. Telah kita akui bahwa sektor ekonomi condong kepada ekonomi kapitalis, dimana mereka yang punya modal saja yang dapat berkuasa. Sungguh miris hal ini terjadi ditengah masyarakat Indonesia yang heterogen. Masyarakat yang tempat tinggalnya terdapat sumber-sumber kekayaan alam yang sangat luar biasa banyaknya, dan sekarang hanya menjadi penonton setia pengeksplorasian oleh para investor yang mayoritas investor asing.

Lalu apa yang didapatkan oleh rakyat dari penjualan aset-aset kekayaan alam yang telah dikontrakkan bahkan dijual oleh pemerintah? Mungkin limbahnya saja atau justru bencananya saja? Iya memang kita dapat hasil pajak, imbalan, atau CSR tapi apakah hal ini sebanding dengan kekayaan yang telah dieksploitasi yang harganya melejit tinggi saat dijual kepada para konsumen? Sungguh, ini suatu pembodohan publik, ini sungguh tidak adil. Melihat keadaan seperti ini apakah kita sebagai calon penerus bangsa hanya akan diam saja? Tentu tidak !

Kian lama kian senja usia sang Nusantara ini, bukannya semakin sejahtera justru semakin sengsara. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. kekuasaan rakyat seperti yang Abraham Lincoln definisikan dalam arti demokrasi sudah sekian lama luntur, bahkan lenyap seperti ditelan bumi. Negeri ini milik penguasa ! negeri ini milik partai politik! apakah kalian sadar? Negeri ini milik investor ! negeri ini milik para koruptor ! inilah sindiran terbesar untuk Indonesiaku yang paling kucinta dan yang kubela sampai ku menutup mata. Perlu gebrakan dan pemikiran yang besar untuk mengembalikan Indonesia yang adil dan makmur, tentram dan damai, serta sehat secara ekonomi.

Berbicara tentang ekonomi, khususnya ekonomi yang berbasis kerakyatan atau Ekonomi kerakyatan, yang kemarin saat moving class pertama diadakan, didatangkan pembicara dari Yogyakarta yaitu ibu Mursida Rambe. Beliau adalah seorang Direktur dari KSSPS BMT Beringharjo yang tergerak hatinya untuk mendirikan koperasi berbasis syariah kerakyatan. Melihat permasalahan yang pelik dipasar tradisional, khususnya di Yogyakarta, ibu Rambe mempunyai pemikiran-pemikiran salah satunya yaitu bagaimana beliau akan dapat membebaskan masyarakat khususnya pedagang dari tipu menipu dan dari segala permasalahan yang terkait dengan riba dan mengentaskannya dari kemiskinan.

Ekonomi kerakyatan dapat didefinisikan sebagai ekonomi jejaring yang berbasis pada kekuatan ekonomi rakyat yang berlandaskan semangat kekeluargaan dan dalam pelaksanaan kegiatan, pengawasan, serta hasil dari kegiatan ekonomi dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat.

Ciri dari sistem ekonomi kerakyatan adalah :

Yang menguasai kebutuhan hidup masyarakat adallah negara atau pemerintah negara tersebut. Misal : bahan bakar minyak, air, tanah, dll.

Peran negara dalam ekonomi ini sangatlah penting tetapi tidak dominan. Intinya, antara pihak pemerintah dan swasta harus saling bersinergi dan saling mendukung agar tidak terjadi perekonomian yang liberalis.

Melibatkan masyarakat dalam perekonomian untuk mengawasi, pelaksanaan produksi, dan kepemimpinan.

Buruh maupun modal tidak mendominasi perekonomian sebab ekonomi didasarkan atas asas kekeluargaan.

Akan tetapi yang terjadi di Indonesia sekarang ini, justru kekuatan swasta asing lah yang mendominasi kekuatan-kekuatan ekonomi skala besar yang membuat Bangsa Indonesia sendiri jatuh dalam keterpurukan yang nyata. Pemerintah seperti kurang punya andil dalam membatasi kekuasaan sektor swasta dalam mengelola modalnya diIndonesia. Berbagai macam ancaman semakin melanggengkan kejayaan sang kapitalis dalam mengepakkan sayapnya di Indonesia. Sungguh memprihatinkan, esesnsi kemerdekaan seperti sudah lenyap didepan mata.

Tujuan ekonomi kerakyatan adalah :

Untuk membangun negara yang berdikari secara ekonomi, berdaulat secara politik serta memiliki kepribadian dan kebudayaan.

Untuk mendukung pemerataan pendapatan masyarakat.

Dapat mendorong pertumbuhan perekonomian yang berkesinambungan.

Dan untuk meningkatkan efisiensi perekonomian nasional

Sebagai generasi muda penerus bangsa sebaiknya kita mulai memikirkan suatu tindakan dimana kita dapat sesegera mungkin membumikan ekonomi kerakyatan. Dimulai dari hal yang paling kecil yaitu memberikan eddukasi-edukasi misal kepada pedagang dipasar tradisional agar mereka tidak terjerat oleh hutang yang diperoleh dari rentenir. Memberikan edukasi tentang bagaimana berwirausaha dengan baik dan benar, membiasakan untuk menabung, serta membangun kesadaran agar mereka dapat berdagang dengan jujur. Berikan Edukasi syariah, karena Syariah bukan hanya tentang produk dan akad nya saja tetapi lebih ke realisasinya. Isi ulang semangat kerakyatan, Semangat ini juga dapat “to push loan shark” menekan agar pedagang tidak meminjam uang kepada rentenir sehingga bunga dari pinjaman dapat ditekan sehingga turun sedrastis mungkin. Jadi hal ini pada hakikatnya dapat membatu “empowerment” atau pemberdayaan dikalangan masyarakat.

Telah kita sadar bahwa semua gagasan-gagasan ini sulit untuk diaplikasikan, akan tetapi jikalau kita mampu bersinergi untuk membumikan ekonomi kerakyatan ya mengapa tidak?

Selain itu permasalahan yang menjadi benang merah dalam nasib perburuhan indonesia yang semakin tidak karuan. Mereka diperlakukan seperti hewan peliharaan, yang harus patuh dengan sang majikan. Hal ini daapat digambarkan ketika produk-produk yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik besar milik asing yang notabene memperkerjakan buruh selama 24 jam non stop dijual dengan harga selangit didalam maupun diekspor keluar negeri. Disatu sisi sang investor untung banyak, disisi lain sang buruh hanya menunggu untuk digaji sesuai UMK (upah minimum kota) dan mereka masih terancam diputus kontrak dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Mereka harus datang tepat waktu dan mengerahkan segala tenaga untuk pekerjaan yang dinilai cukup membosankan itu. Tapi pada kenyataanya, serikat buruh Indonesia pun juga seperti dihalang-halangi langkahnya oleh kedua pihak dalam memperjuangkan hak-hak yang harus mereka peroleh. Maka dari itu, sebagai generasi muda, kita bisa memberikan kritik-kritik kepada pemerintah agar lebih tegas pada kebijakan-kebijakan pabrik yang dinilai cukup menyiksa buruh-buruh tersebut.

Serta ada kata-kata bijak yang cukup untuk menjadi refleksi dalam diri kita agar lebih bersemangat dalam memperjuangkan kebermanfaat bagi sesama yaitu

Tujuh dosa sosial–Kekayaan tanpa kerja, kenikmatan tanpa suara hati, pengetahuan tanpa karakter, bisnis tanpa moralitas, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, agama tanpa pengorbanan, politik tanpa prinsip. (quotes by Mahatma Gandhi)

Inti sari nya adalah sebagai seorang manusia kita harus mau dan mampu untuk senantiasa bekerja agar rezeki terus mengalir. Ketika kita mendapat nikmat kita harus snantiasa dapat bersyukur dan berbagi yang berlandaskan hati nurani. Ketika kita mempunyai ilmu kendalikan agar kita tidak sombong dan mersa paling tau dan paling benar, jadi kebermanfaatan ilmu itu berlandaskan karakter yang kuat. Ketika kitaberbinis harus memahami etika-etika dalam berbisnis agar bisnis kitadapat berjalan dengan apik dan berkesinambungan. Dan lain seterusnya.

Suatu pekerjaan akan menjadi suatu keberkahan jika dilaksanakan berdasarkan, keyakinan (bisnis itu bukan untuk dipikirkan tapi dikerjakan) jangan terlalu banyak memberikan gagasan konseptual, tapi penerapan itu lebih penting.

Kesungguhan, akukan bisnis dengan bersungguh-sunguh, gar hasil yang kita dapatkan itu maksimal dalam segi kuntitas dan kualitas.

Semangat berbagi mutlak diperlukan agar kita mampu memperbanyak jaringan dan memperkuat tali persaudaraan serta menjunjung tinggi asas kegotongroyongan.

Kemudian, berbicara tentang penerapan ekonomi kerakyatan. Semangat KH Samanhudi memang pantas untuk dijadikan panutan, karena ia memperjuangkan kemerataan ekonomi dan membebaskan rakyat Indonesia dari cengkeraman pemerintahan Hindia Belanda. Semangat ini juga disampaikan oleh bapak Rosnendya yang merupakan alumni FH UNS yang menjadi pemateri kedua pada rangkaian acara mocas I . KH Samanhudi merupakan pendiri Sarekat Islam. Tahukah kamu apakah Sarekat Islam itu? Pada mulanya Sarekat islam adalah sebuah perkumpulan para pedagang yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. Garis yang diambil oleh SDI adalah koperasi, dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam. Keanggotaan SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang, jadi tidak memiliki anggota yang cukup banyak. Oleh karena itu, agar memiliki anggota yang banyak dan luas ruang lingkupnya maka pada tanggal 18 September 1912, SDI diubah menjadi SI (Sarekat Islam). Sebenarnya ada pula sebagian pendapat yang mengatakan bahwa SDI telah berdiri pada tahun 1905. Tujuan SDI adalah memajukan perdagangan, melawan monopoli pedagang Tionghoa dan memanjukan Agama Islam. Karena itulah, SDI disebut gerakan nasionalistis-religius-ekonomis. Dalam perkembangannya, SDI tidak sekadar menjadi organisasi yang bergerak dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga dalam bidang politik.

Salah satu faktor yang mendorong berdirinya SI adalah politik pemerintah Belanda di bidang sosial, yaitu membuat kelas sosial dimasyarakat sehingga penduduk Indonesia terbagi menjadi golongan Pribumi, Asia, Eropa. Ini mengakibatkan rendahnya martabat penduduk pribumi yang berada dibawah bangsa asing.

Pembagian kelas dalam tata kehidupan rakyat ditahap jajahan itu membuat rakyat pribumi menjadi kelas terendah diantara golongan Eropa dan dipersamakan. Pada zaman politik pintu terbuka, dengan diperluasnya penguasa swasta maka peranan golongan cina dalam sektor perdagangan menempati posisi yang strategis terutama dalam sektor perdagangan ekspor. Besarnya peranan golongan cina dalam hal ini memang beralasan, sebab dengan keluarnya UU agraria tahun 1870, menunjukkan bahwa batasan terhadap kepemilikan tanah atas orang-orang cina. Hanya orang cina yang merasa setaraf dengan orang belanda, dan memandang rendah terhadap bangsa Indonesia.

Kedudukan orang cina tidak hanya sekedar dalam hal perdagangan saja, tetapi juga dalam hal penarikan pajak atas jalan-jalan tertentu yang dibuat oleh pemerintah. Tujuan Sarekat Dagang Islam adalah ingin memajukan perdagangan, melawan monopoli tionghoa. Oleh karena itu pada akhir tahun 1911 di bawah pimpinan Haji Samanhudi kumpulan pedagang batik sepakat membentuk Sarekat Dagang Islam dengan tujuan mempersatukan pedagang batik dan mempertinggi derajat bumi putera.

Lalu manfaat apa yang dapat kita peroleh dari semangat Samanhudi? Yaitu walaupun ia menjadi perintis dan pendiri cikal bakal organisasi diindonesia, dan sampai akhir hayatnya seperti tak dikenal oleh banyak orang ia tetap menjunjung tinggi kecintaanya terhadap kota Solo, terhadap Batik Solo, terhadap masyarakat khususnya masyarakat ekonomi solo. Lalu apa korelasi dari ekonomi kerakyatan dengan kisah sejarah Samanhudi ? korelasinya adalah organisasi yang dibangun Samanhudi adalah organisasi yang terpusat pada ekonomi yang terpusat pada asas kekeluargaan dimana seperti diceritakan pada sejarah, pembuatan batik yang dipelopori oleh Samanhudi dikerjakan bersama-sama oleh para warga. Dan diperjual belikan di sepanjang aliran sungai desa sondakan. Lalu, kebersamaan itulah yang menjadi dasar ekonomi kerakyatan sama rasa sama rasa. Perekonomian yang masih terus berjaa walaupun dalam intervensi dari pihak Belanda. Dan tetap kokoh dalam pencarian kader-kader untuk organisasinya. Serta nilai yang sangat kental adalah terjadilah kehidupan yang seimbang antara bermasyarakat, kestabilan ekonomi, tumbuhnya islam, dan semangat nasionalisme.

Written by :

Niken Setyarini

Accounting

FEB-UNS

#BridgeToElevate

#KnowledgeForProsperity

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *