Menuju Open Data

Yoms data uns

Data dan transparasi menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Karena data akan berbicara fakta yang tejadi di lapangan. Transparansi penting untuk menjawab permasalahan yang selama ini penting untuk menjawab permasalahan yang selama ini polanya selalu berulang di level kampus. Protes akan fasilitas yang tidak memadahi, uang UKT yang semakin tinggi, dosen yang tidak sesuai dengan harapan dalam memimbing, serta mahasiswa yang berlaku tidak sesuai dengan harapan dosen, adalah hal-hal yang terus menjadi masalah tanpa solusi yang tepat sasaran. Dampaknya adalah sebuah kualitas belajar-mengajar atau pun lingkungan akademis yang seringkali mengecewakan bagi civitas akademika.
Konsep open data tidaklah sama dengan transparasi. Akan tetapi keduanya memilki keterkaitan yang erat. Keterkaitan itu berasal dari potensi besar yang dimiliki dari open data untuk menciptakan transparansi manajemen lembaga pada level yang tinggi. Konsep ini pun sangat mungkin untuk diadaptasi dalam lingkup perguruan tinggi. Bisa jadi dengan open data menjadi satu dari solusi yang bisa dilakukan. Namun ada baiknya kita melihat sekilas terlebih dahulu tentang apa sebenarnya yang disebut dengan open data.

Apa open data?
Open data adalah sebuah konsep modern yang mulai berkembang sejak beberapa dekade terakhir. Hal ini tidak terlepas dari berkembangnya sumber daya IT dan peningkatan manajemen yang modern. Secara mudah open data dapat diartikan sebagai data yang dapat dipergunakan secara bebas, dimanfaatkan, dan didistribusikan kembali oleh seluruh masyarakat tanpa syarat dengan tetap menyantumkan sumber dari data tersebut. Untuk dapat digunakan kembali, data tersebut harus dirilis dalam format yang reusable dan machine-readable.

Pada level nasional, open data dengan sangat mudah diakses di kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah (K/L/D). Data kemudian dapat dipergunakan oleh masyarakat sebagai modal untuk pengembangan usaha. Pemberian nilai tambah dari data-data yang telah disediakan oleh pemerintah dengan demikian menciptakan lapangan ekonomi yang begitu luas. Business startup dapat berkembang dengan memanfaatkan data yang telah terbuka. Dari sisi pengawasan, adanya open data memungkinkan masyarakat untuk terus mengawasi kinerja pemerintah. Rancangan pembangunan jangka panjang atau pun menengah dari pemerintah dapat dievaluasi ketercapaiannya dengan membandingkan data empiris dan indikator kesuksesan sebuah kebijakan. Selain itu dengan data yang terbuka masyarakat juga dapat berkontribusi aktif dalam memecahkan masalah yang dihadapi pemerintah.

Indonesia sendiri sudah mengadaptasi open data di level nasional maupun daerah. Portal data.go.id telah beroperasi dan menyajikan data-data yang tersedia dari berbagai K/L/D. Sementara itu pemerintah-pemerintah daerah juga telah melakukan hal yang sama, bahkan beberapa di antaranya melakukan open data lebih dahulu sebelum pemerintah pusat. Sebut saja Jakarta, Bandung, atau pun Bojonegoro yang open data-nya cukup berkembang. Salah satu kekurangan utama dari open data pemerintah saat ini adalah masalah pemutakhiran data. Tersedianya data tidak cukup apabila tidak terus diperbaharui terus-menerus secara berkala. Selain itu belum semua lembaga turut berpartisipasi dalam inisiatif open data.

Ilustrasi sederhana dapat menjelaskan mengapa open data menjadi hak masyarakat. Masyarakat membayar pajak. Pajak digunakan untuk operasi lembaga Badan Pusat Statistik (BPS). BPS lalu mendapatkan data melalui riset. Maka sudah sepatutnya masyarakat secara umum memiliki hak untuk mengetahui data yang didapat oleh BPS (tentu sesuai peraturan perundangan yang berlaku). Dasar dari hak ini sendiri sudah terdapat dalam UU No. 14 tentang Keterbukaan Informasi Publik tahun 2008. Dengan UU ini pada dasarnya masyarakat memiliki hak atas data publik yang dikelola oleh pemerintah. Hanya saja permasalahan birokrasi dan manajemen pemerintahan yang belum efektif seringkali menjadi kendala.
Mengadopsi di tataran kampus

Keterbukaan data ditingkat nasional bukan tidak mungkin di adopsi di tataran kampus. Mengingat kampus merupakan representasi dari negara. Berbagai prinsip open data seperti format terbuka, machine-readable, interoporabel, dan data mutakhir hanya membutuhkan sistem yang jelas dan kemauan yang kuat dari pemangku kebijakan di kampus. Kolaborasi dengan mahasiswa pun perlu dilakukan untuk mengembangkan inovasi dari keterbukaan data serta pemanfaatannya untuk kemajuan kampus. ITB, merupakan pelopor dari data terbuka di tataran kampus. Mereka telah lebih dahulu membuat portal open data KM-ITB yang diprakarsai oleh mahasiswa sendiri di data.km.itb.ac.id.
UNS kapan?

Salah satu kelemahan dalam setiap kajian-kajian yang dilakukan oleh lembaga kampus Uns mengenai isu adalah soal data. Seringkali berbagai kajian hanya berbasis pada asumsi. Sekalipun berbasis data, hanya segelintir orang yang memilikinya. Dalam isu-isu kampus, seringkali yang mengetahui data hanyalah mereka yang terlibat langsung. Sebutlah masalah uang kuliah. Sesuai dengan pengalaman penulis, yang sering dilakukan dalam menyikapi kenaikan biaya kuliah adalah dilakukan konsolidasi terbuka dengan berbagai unsur mahasiswa-mahasiswi. Seringkali yang menjadi pembicara adalah mereka yang telah lama berkecimpung menangani biaya kuliah. Mereka yang paling tahu data. Sisanya hanya bertindak sebagai penonton. Beruntunglah kalau ada yang mencatat dalam pemaparan. Kebanyakan hanya datang, mendengarkan angka demi angka dan berbagai alternatif sistem pembayaran, lalu pulang tanpa mengingat semua yang mereka serap.

Hal di atas perlu untuk dirubah. Data tidak bisa lagi hanya menjadi milik segelintir mahasiswa-mahasiswi. Pemberian data hanya melalui mulut ke mulut atau lewat paparan tidak lagi efektif. Apalagi hanya melalui infografis yang sambil lewat saja, pun tidak viral dengan efektif. Pola monopoli data sudah sepatutnya dihilangkan. Mungkin saja memang mahasiswa-mahasiswa yang memiliki data tidak berkehendak untuk memonopoli. Hanya saja memang selama ini tidak terpikirkan secara serius untuk memberikan akses data kepada semua pihak. Atau bahkan terdapat ketakutan antar mahasiswa/i sendiri untuk membuka data yang mereka rasa rahasia. Padahal masalah kerahasiaan data dapat didefinisikan lebih lanjut. Pada dasarnya seluruh mahasiswa-mahasiswi memiliki hak yang sama atas data. Uns memerlukan sebuah portal yang berisi semua data kampus yang sudah seharusnya menjadi hak mahasiswa dan civitas akademika lain.

Salam,
Menteri Penelitian dan Pengembangan BEM UNS 2016
Norma Ayu Setyabudi (085727378171)

Referensi :
Open Data Day: Teten Ajak Jurnalis Berkarya dengan Data [online] (http://ksp.go.id/open-data-day-teten-ajak-jurnalis-berkarya-dengan-data/, diakses tanggal 29 Oktober 2016)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *