MAHASISWA DAN PENGUSAHA KREATIF

Jujur saja, saya hanya mahasiswa biasa. Saya juga bukan dari mahasiswa ekonomi atau manajemen. Bahkan, sebelumnya saya tidak berminat dalam bidang entrepreneur. Lalu kenapa saya mengambil topik ini?
Hampir satu bulan ini saya mengikuti Sekolah Penerus Bangsa (SPB), sebuah sekolah kepemimpinan yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di universitas saya. Dari sini saya mendapat berbagai materi yang sangat bermanfaat, salah satunya tentang kewirausahaan. Saya sudah beberapa kali mengikuti seminar kewirausahaan, tapi hanya sekadar ikut-ikut teman. Namun, hati saya mulai tergugah saat mendengar kalimat dari salah satu pembicara di kelas SPB, “Sarjana jangan hanya menunggu mendapatkan pekerjaan, tapi ciptakan lapangan pekerjaan.” Oleh karena itu, kali ini saya akan membagikan ilmu yang saya dapat dari Bapak Ahmad Adib Ph.D. dan Bapak Septandhu H. S.Sn..
Sebagai mahasiswa kita harus mampu berpikir kreatif. Kita harus bisa menetapkan tujuan akhir. Akan seperti apakah kita ke depannya? Untuk memulai sebuah usaha, kita jangan takut gagal. Jika pun pada akhirnya gagal, jangan menyerah. Karena kegagalan bukanlah akhir segalanya. Setiap orang dijatah keberhasilan dan kegagalan masing-masing. Ya, mungkin saya terlalu mudah untuk mengatakan ini, tapi saya juga pernah mengalami kegagalan. Pernah saya ingin menyerah, tapi keyakinan saya pada Allah bahwa akan ada yang lebih indah membuat saya kembali bangkit.
Kebanyakan penduduk Indonesia bangga jika bisa bekerja di perusahaan besar. Mereka tidak berani mengambil risiko. Padahal, itu bukanlah perusahaannya. Alangkah baiknya jika kita bekerja sebaik mungkin, tapi untuk perusahaan sendiri, daripada bekerja mati-matian untuk orang lain.
Sebelum kita mulai melangkah lebih jauh, kita harus mampu mengenali potensi diri. Selain itu, evaluasi diri juga sangat diperlukan. Setiap orang memiliki sumber daya pribadi, jadi kita harus mampu memanfaatkan sumber daya itu sebaik mungkin agar kita juga bisa memberikan manfaat yang lebih untuk masyarakat dan lingkungan.
Akan tetapi, bagi mahasiswa yang sudah memiliki usaha, tetap tidak boleh melupakan tugasnya. Kita harus mampu menyeimbangkan antara pekerjaan, belajar, dan juga organisasi. Kita harus mampu menghargai waktu, menghargai orang lain, dan tentunya menghargai uang.

Ingin berbisnis, tapi bingung berbisnis apa? Saya juga sedang mengalaminya. Namun, yang saya tahu, kita jangan mengambil bisnis yang orang lain bisa melakukannya. Lalu apa? Nah, kreatifitas teman-teman sangat dibutuhkan dalam hal ini. Selamat berjuang! Semoga kita dipertemukan di pertemuan para pengusaha sukses sepuluh tahun kemudian.
(Jihan Maymunah/Tari Seudati)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *