Cerita Dari Semarang : Perjuangan Dulur-dulur Petani Kendeng!

Muhammad Rizki A

Melihat handphone menyala. Ternyata ada pesan masuk dari seorang kawan. Mahasiswa Universitas Diponegoro, sama-sama asal Klaten sih. “Mas, besok puncak aksi petani kendeng, mangkat semarang yo?”. Bingung dan bimbang. Baru aja nyampe rumah dari Solo, besok diajak ke Semarang. Ah biarlah. Saya balas, “Gas, Mangkat mas”. Karena saya pikir wong petani kendeng jalan kaki dari Rembang sampai Semarang aja kuat kok.

Pagi tak lupa berpamitan orang tua. Karena saya percaya ridho orang tua adalah ridho Allah. “Bu, Pak. Badhe pamit datheng Semarang”, Pamit Saya. “Ngopo le? Karo sopo?”, jawab ibu Saya. “Biasanipun buk. Hehe. Kalih rencang saking Undip”, ketika bilang biasanipun atau biasanya, sudah paham. Karena biasanya ketika mau berangkat aksi atau hanya nonton aksi minta izin orang tua dulu. Hehe. “Yowis, ati-ati”, kata ibu Saya. Meluncur dengan teman setia. Sepeda Motor abu-abu.

Sampai. Para petani kendeng sudah memulai aksinya sejak 30 hari. 30 hari Gubernuran tak dikasih longgar. Dari mulai mereka longmarch dari Rembang sampai Semarang. Bisa dikira-kira jauhnya. Berlanjut dengan menginapnya ibu-ibu petani kendeng didepan Gubernuran. Awalnya mendirikan tenda di depan pintu gerbang, lalu di gusur sedikit kesamping, tidak lagi di depan pintu gerbang. Oke. Ibu ibu ini masih menerima. Kemudian apa? Tenda mereka di bongkar paksa. Namun, alangkah terketuknya hati kawan-kawan yang ada di Semarang memberikan payung untuk berteduh dari teriknya matahari dan guyuran hujan. Dan puncaknya adalah kemarin, 17 Januari 2016. Dulur-dulur petani Kendeng meninggalkan Gubernuran setelah 30 hari bermalam.

Sejak tahun 2012 dulur-dulur kendeng melawan. Jalur apapun mereka tempuh. Hingga akhirnya pun jalur hukum pun juga ditempuh. Karena perjuangan memang tak kenal lelah dalam hal kebaikan. Akhirnya dulur-dulur petani kendeng ini dimenangkan oleh putusan MA yang mengharuskan dan memaksa (karena sudah inkracht) Gubernur Jawa Tengah untuk mencabut izin lingkungan PT. Semen Indonesia (yang awalnya PT. Semen Gresik yang SK nya sudah dicabut yang diganti dengan PT. Semen Indonesia). Seharusnya sebagai pemimpin yang baik. Pemimpin yang katanya “Tuanku adalah Rakyat, Gubernur adalah Mandat”. Tapi seperti tidak ada iktikad baik dalam menjalankan putusan MA ini. Dibuktikan baru sehari sebelum batas waktu yang ditetapkan MA (60 hari) untuk mancabut izin tersebut, baru yang katanya Pelayan Rakyat ini memenuhi putusan MA, tepatnya pada 16 Januari 2016 dengan Surat Keputusan Gubernur No.6601/4 tahun 2017 tertanggal 16 Januari 2017 Tentang Pencabutan Keputusan Gubernur No. 660.1/30 tahun 2016 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan Bahan Baku dan Pembangunan serta Pengoperasian Pabrik Semen PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Namun, ketika kita lihat lagi lebih dalam dalam SK yang dikeluarkan oleh pak Ganjar ini, Poin 1 memang sudah seperti yang diharapkan yaitu “Menyatakan batal dan tidak berlaku” keputusan Gubernur No. 660.1/17 tahun 2012 tanggal 7 Juni 2012 sebagaimana telah diubah oleh Keputusan Gubernur Jawa Tengah No. 660.1/30 tahun 2016 tanggal 9 November 2016 tentang Izin Lingkungan Penambangan Bahan Baku Semen dan Pembangunan serta Pengoperasian Pabrik Semen PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk di Rembang. Yang berartikan bahwa segala izin Pabrik Semen tersebut batal dan tidak berlaku mulai SK tersebut keluar. Kita lihat lebih dalam lagi di poin kedua dan seterusnya, di situ dinyatakan bahwa berdasarkan putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung, Gubernur memerintahkan kepada PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk untuk menyempurnakan dokumen adendum Andal dan RKL-RPL. Selain itu, Komisi Penilai AMDAL Provinsi Jawa Tengah untuk melakukan proses penilaian dokumen adendum Andal dan RKL-RPL, yang saat ini sedang berlangsung untuk memenuhi Putusan Peninjauan Kembali No. 99/PK /TUN/2016 tanggal 5 Oktober 2016. Nah disini terlihat begitu aneh dan ganjil. Lha wong dalam putusan MA itu mencabut segala izin Pabrik Semen, Lha kok ini seperti ini. Ya, berartikan kalau seumpama syarat-syarat yang ditentukan dalam SK tersebut dipenuhi oleh Pabrik Semen ya sama aja to dapat izin lagi buat nambang lagi, terus dulur-dulur Petani Kendeng ini nanti nasibnya bagaimana?

Memang SK Gubernur ini, seakan terlihat bermata dua dan sarat siasat. Seolah-olah memenuhi putusan MA untuk mencabut segala bentuk izin dari Pabrik Semen, tapi di sisi lain memberikan kesempatan untuk Pabrik Semen melengkapi segala berkasnya dan ketika sesuai dengan SK tersebut maka kemungkinan besar akan ada izin lagi untuk Pabrik Semen. Apa-apaan ini?

Karena begitu baiknya hati dulur-dulur petani Kendeng, mereka pun beri’tikad baik menyambut keputusan dari Gunernur Jawa Tengah ini. Mereka masih menerima dan ber- husnudzon dengan apa yang telah dilakukan dan diputuskan oleh Gubernur, pelayan Rakyat. Begitu baiknya hati mereka, setelah perlakuan yang kurang memuaskan oleh sang “Pelayan Rakyat”. Semoga perjuangan dulur-dulur petani Kendeng ini tidak sia-sia, dengan kebaikan dan kelembutan hati mereka.

Bagaimana seorang rakyat yang masih mau menghormati “Sang Pelayan Rakyatnya”, tidak seperti “Sang Pelayan” yang menginjak-injak rakyatnya. Saya percaya bahwa ketika kebaikanlah yang diperjuangkan niscaya keberhasilan pun akan datang dan kedzalimanpun tertumpas. Seperti yang dilakukan dulur-dulur petani Kendeng yang tanpa henti memperjuangkan setiap kebaikan yang merupakan hak-haknya yang tertindas oleh penguasa. Lanjutkan perjuangan! Karena nafas dan umur perjuangan di negeri ini, di alam Kendeng, dan yang membersamai dulur-dulur petani Kendeng masih sangat panjang! Kendeng Lestari!

Yah. Pulang hujan-hujan dari semarang sampai klaten. Brrr. Adem lur!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *