Manifestasi Huru-Hara Politik Kampus

 

Oleh Muhammad Shidiq Fathoni

( Mahasiswa Fisip Sosiologi UNS 2015)

Ihwal politik kampus merupakan sebuah zona dunia baru, suatu perubahan zona progresif yang akan dialami oleh insan yang disebut siswa ketika menjadi insan yang disebut mahasiswa. Elok, mahasiswa sebutanya layaknya objek yang mendapat awalan Maha tak banyak yang menyandang predikat tersebut. Maha Esa misalnya yang mempunyai arti Tuhan yang Maha Esa, maupun Mahadewa yang merupakan sosok Dewa keluhuran, kemuliaan dan kepahlawanan di dalam cerita pewayangan. Dua kata yang mengambarkan bahwasanya tidak main-main predikat Maha dari suatu kata.
.
Syahdan, mahasiswa merupakan status dan peran yang disandang seseorang yang mengalami masa transisi progresif dari seorang siswa. Memasuki zona dunia baru dengan segela beban yang disandang. Jika dulu Plato menggambarkan seorang manusia gua keluar dari gua. Melihat dunia luar, lalu ia terpana. Realita keadaan yang berbeda dengan bayang-bayang di dinding gua. Begitulah alegori gua, dunia idea menurut Plato yang nampaknya cocok untuk mengambarkan zona dunia baru politik kampus yang akan dialami seorang mahasiswa baru. Berorganisasi secara lebih luwes daripada di masa siswa, pergerakan mahasiwa dan berstrategi menarik masa untuk menjadi kader salah satu partai mahasiswa merupakan tiga dari sekian banyak pembelajaran dari zona politik kampus.
.
Namun seperti halnya petikan lagu AMust, “sayang seribu sayang.” Pesimisme dan stigma terhadap politik sendiri merupakan hambatan sesorang untuk terjun atau sekedar menjamah hal yang berkaitan dengan politik kampus. Terpaku pada pandangan Machiavelli pada bukunya II Principe yang mengasosiasikan politik yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, dan para pelakunya disebut Makiavelis. Begitulah menghalalkan segala cara, kekuasaan dan kotor bagaikan air comberan begitulah paradigma ihwal mengenai politik maupun siyasi.
.
Manifestasi huru-hara politik kampus dengan berbagai paradigma negetif mengenai politik itu sendiri adalah hal yang harus dikonstruksi ulang di dalam kultur kampus. Politik kampus itu bukan saja soal kekuasaan, curang maupun hal kotor lainya. Kamu iya kamu, tanamkan dalam benakmu di dalam politik kampus kamu bisa mendapat ilmu mengenai strategi mengatur sebuah siasat untuk mencapai tujuan dalam berorganisasi, berjejaring, atau bahkan dirimu bisa menemukan jodoh jika dirimu beruntung.
.
Mengenai hura-hura politik kampus diriku dan dirimu harus mencari sudut pandang lain ihwal politik. Semisal saja politik atau siyasi menurut pandangan Islam, dalam bukunya risalah pergerakan I Hasan Al-Banna menjelaskan bahwasanya “ Sesungguhnya, dalam islam ada politik, tetapi politik yang padanya terletak kebahagiaan dunia dan akhirat.” Kejujuran, keikhlasan, objektivitas dan selalu berpihak kepada kemaslahatan rakyat sesuai dengan pandangan islam. Pertanda islam bukan hanya mengatur ritual ubudiyah saja.
.
Sudut pandang Islam nampaknya bisa mengubah paradigma kita menganai hal kotor seperti halnya tulisan Soe Hok Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstaran halaman 121, “Dalam politik tak ada moral. Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor. Tetapi suatu saat di mana kita tak dapat menghindar diri lagi maka terjunlah. Kadang-kadang saat ini tiba, seperti revolusi dahulu.”
.
Pandangan Ali Syariati mengenai konsepsi intelektual, Syariati menyebutnya dengan istilah raushanfikr, yaitu orang-orang yang resah akan penderitaan umat serta melakukan kerja-kerja dan kontribusi riil untuk perbaikan ummat adalah hal yang bisa dijadikan sudut pandang gerak politik kampus. Kontribusi riil dan menjadi wadah pembelajaran pelbagai hal adalah politik kampus riang gembira bukan huru-hara.
.
Manifestasi huru-hara politik kampus merupakan masalah bersama, stagnasi politik kampus antara ideal dan realita yang terjadi adalah dua hal yang bertolak belakang. Proses merupakan hal yang harus ditekankan tanpa mengesampingkan hasil. Hadir ikut serta merubah huru-hara menjadi riang gembira dalam manifestasi politik kampus adalah kehendak yang harus tertanam di dalam hati dan dijalankan secara kolektif.
.
Terciptanya politik kampus yang layaknya di alegorikan Plato sebagai gua yang merupakan dunia idea adalah sebuah pekerjaan bersama dirimu, diriku dan dirinya. Seperti halnya Hasan Al-Banna berkata “ Muslim tidak akan sempurna keislamanya kecuali setelah menjadi seorang politisi yang memerhatikan urusan umatnya dan bersemangat membelanya.”
.
Maka dari itu
.
Marilah kawanku, marilah bersamaku
.
Biarkan politik kampus menghiburmu
.
Ayo belajar politik kampus bersamaku
.
Bebaskan hatimu
.
Simpan saja gengsimu
.
(Petikan lagu goyang duyu Project POP, dengan sedikit banyak dicocokan dan diganti dengan kebutuhan tema tulisan)
.
Referensi :
1. Soe Hok Gie, “Catatan Seorang Demonstran”, LP3S : Jakarta. 2005
2. Hasan Al-Banna, “Risalah Pergerakan Al-Ikhwan Al-Muslimin I”, Era Adicitra Intermedia : Surakarta. 2006
3. Syeikh Mushthafa Masyhur, “Fiqih Dakwah Jilid I”, Al-I’tishom Cahaya Umat : Jakarta. 2015
4. Rif’an Anwar, “Si Buta dari Gua Plato dan 99 Anekdot Filsafat Lainya”, Kanisius :Yogyakarta. 2011
5. Ali Syariati, “Ideologi Kaum Intelektual : Suatu Wawasan Islam”, Penerbit Mizan : Bandung. 1990

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *