Kado Awal Tahun Pemerintah

Awal tahun adalah dimulainya lembaran baru 365 hari kedepan. Awal tahun identik dengan harapan-harapan baru yang lebih baik. Awal tahun ini, 2017 sayangnya tidak sesuai dengan  ke-identikan itu. Belum selesai rakyat Indonesia memperoleh kenyataan bahwa banyaknya tenaga kerja asing di Indonesia, khususnya china yang padahal tenaga kerja dalam Negara sendiri masih banyak yang membutuhkan lapangan pekerjaan atau pengangguran. Namun pemerintah serasa tutup mata akan hal itu. Awal tahun ini harapan-harapan baru rakyat Indonesia telah di koyak dengan suatu kenyataan yang diberikan oleh pemangku-pemangku kebijakan, pemerintah Indonesia yang mengeluarkan kebijakan yang begitu kontroversial. Menaikkan Tarif Dasar Listrik 900 VA dan juga Menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Non-subsidi. Inilah salah satu kado awal tahun dari pemerintah untuk rakyatnya. Selain itu masih ada lagi biaya mengurus surat kendaraan bermotor yang naik. Sungguh luar biasa bukan? Luar biasa ditengah susahnya ekonomi rakyat. Tahun baru, Penderitaan baru bagi rakyat!

Tarif Dasar Listrik (TDL) 900 VA resmi naik pada awal tahun ini. Dan tarif ini pun parahnya akan naik setiap 3 bulan sekali. Salah satu alasan dinaikkannya TDL ini ialah pengurangan subsidi terhadap Tarif Dasar Listrik (TDL) 900 VA. Pengguna listrik ini tidak semua orang kaya, dan ada pula rakyat menengah kebawah yang menggunakan.  Kenaikan TDL ini begitu tinggi dan tidak wajar. Pasalnya tarif awal hanyalah Rp 605/kWh menjadi Rp 791/kWh per 1 Januari yang kemudian akan naik lagi menjadi Rp 1034/kWh per 1 Maret dan puncaknya adalah menjadi 1352/kWh per 1 Mei 2017. Dan kenaikan pun sampai 242.5 % yang pastinya menambah derita rakyat.

Kemudian satu lagi kado awal tahun pemerintah adalah kenaikan harga BBM non-subsidi (pertalite, premium, dsb). Harga BBM ini sebenarnya sudah naik sejak akhir bulan Desember yang lalu. Kemudian tertanggal 5 Januari 2017 pukul 00.00 resmi BBM non-subsidi ini naik lagi Rp 300/liternya. Padahal sekarang rakyat banyak yang menggunakan BBM non-subsidi karena memang awalnya harga tidak sebegitu tingginya. Dari beberapa temuan yang begitu mencengangkan adalah beberapa SPBU sudah tidak menjual premium yang dalam hal ini bisa ditarik kesimpulan bahwasannya secara tidak langsung memaksa rakyat untuk menggunakan BBM non-subsidi yang sekarang harganya sangat melambung tinggi. Kado awal tahun yang mencekik rakyat.

Dampak dari kenaikan-kenaikan harga ini sangat telak bagi rakyat. Bahkan kenaikan harga inipun berentetan dengan nantinya biaya hidup dan bahan-bahan pokok. Tapi fakta dilapangan yang kita lihat sekarang, pemerintah seolah “lempar batu sembunyi tangan”. Dimana pemerintah saling melempar tanggung jawab seakan-akan tidak ada yang mengusulkan kebijakan-kebijakan kenaikan harga tersebut. Kok bisa ndak ada yang mengusulkan kok jadi kebijakan. Aneh!

Pemangku kebijakan dalam menelurkan suatu kebijakan seharusnya melihat kebawah, untuk siapa kebijakan ditelurkan, dan kebijakan pro rakyat lah yang seharusnya ditelurkan. Bukan suatu kebijakan yang tidak wajar yang mencekik, memberatkan serta menambah derita rakyatnya. Bukan malah seakan-akan melupakan dibawah ada rakyat yang menitipkan amanah kepadamu dan melupakan jeritan rakyat dibawah yang tertindas oleh kebijakan-kebijakan yang ditelurkan.

Panjang umur Perjuangan !
Muhammad Rizki A

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *