Perempuan, Fitrah Ilahiah: Rumah dan Medan Juang

 

Perempuan menggarisi kodrat dari Yang Maha Kuasa, inilah yang disebut Fitrah Ilahiah. Bahwa mengandung, melahirkan, menyusui bahkan menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya yang mengajarkan kebaikan, memberi teladan, membentuk kepribadian, menyebutkan alphabet lantas terangkai menjadi sepatah-dua patah kata, bahkan yang dari nol mengejakan kata “Mama Papa”, hingga mengenalkan si anak pada Tuhannya adalah sebuah keniscayaan.

Perempuan menggarisi pula kodrat dari Yang Maha Kuasa akan perasaannya yang peka dan multitasking. Coba tanya, siapa makhluk yang akan berkacak pinggang, menghembuskan napas, lantas sedetik kemudian sibuk mengomel panjang lebar, sibuk pula tangannya cekatan bergerak membersihkan remah-remah roti di atas karpet. Atau yang ketika sembari berjalan menuju dapur, sibuk tangannya membereskan apa yang terserak atau membetulkan letak suatu barang. Detail-detail demikianlah -yang mungkin dianggap remeh- yang membuatnya istimewa-berbeda, sehingga sering dimintai pertimbangan akan sesuatu. Semacam dijadikan tolok ukur akan suatu hal apabila ada yang luput dan keliru. Maka sering pula pendapatnya dijadikan landasan sebuah peraturan atau himbauan.

Maka dua hal yang tidak dapat dipisahkan, perempuan dengan fitrah ilahiahnya pada peran kewanitaannya dan perannya dalam sebuah kebijakan atau medan juang.

“Wanita adalah tiang negara, jika baik wanitanya maka baiklah negaranya dan jika rusak wanitanya maka rusak pula negaranya”. Bahwa tugas dan keseharian menjadi seorang perempuan bukan hanya berkutat pada make-up atau padu padan pakaian, tapi Negara menjadi taruhannya. Sebab dari para perempuan inilah akan lahir para pemimpin dan pewaris bangsa di masa yang akan datang. Nasib bangsa ini tidak semata bergantung pada seperti apa pemimpin atau penguasa negaranya, tetapi lebih pada bagaimana keadaan kaum perempuannya. Karenanya perempuan berperan penting dalam membina keutuhan dan kinerja sistem dalam suatu negara. Maka membekali diri untuk menjadi cerdas adalah sebuah kewajiban bahkan kebutuhan. Sebelum jauh berbicara, pahamilah, apabila madrasah pertamanya buruk, maka buruklah bibit yang tumbuh kelak.

Mari tengok bersama, secuplik sejarah para srikandi dunia, perannya dalam mencetak para estafeta perjuangan dan perannya dalam kisi-kisi ranah juang.

Adalah Shahabiyah Ummu Imarah, seorang martir perisai Rasulullah dalam perang Uhud.

Adalah Laksamana Keuemalahayati, srikandi bangsa asal Aceh. Pemimpin 2.000 orang pasukan inong balee (janda-janda para martir) berperang melawan kapal-kapal Belanda di hari bersejarah 11 September 1599. Srikandi yang berhasil membunuh Cornelis De Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Namanya harum dikenang dan heroik. Bahkan salah satu kapal perang TNI Angkatan Laut dinamakan KRI Keumalahayati.

Adalah Ibu Fatmawati, yang tanpa perannya tidak akan pernah ada Sangsaka Merah Putih yang hingga hari ini akan berkibar.

Adalah harapan, doa dan motivasi dari seorang Ibu imam besar Masjidil Haram, Syeikh Abdurrahman As-Sudais yang telah membentuk tekad Sang Imam untuk menghafalkan Al-Qur’an dan menjadi Imam Besar Masjidil Haram.

Adalah Bunda Teresa, yang membaktikan diri dan memberi hatinya untuk melayani di tengah-tengah masyarakat miskin India.

Maka adalah perempuan, yang sadar tanpa harus mencundangi dan meninggalkan peran kodrati kewanitaannya namun tetap berdiri siaga di medan juang.

Selamat Hari Perempuan Internasional untuk semua madrasah pertama dan tonggaknya negara. Kita adalah bagian dari hari ini yang menciptakan peradaban yang akan datang kelak.

Aya Shofia
Mahasiswi Public Relations Universitas Sebelas Maret

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *