Bukan Hewan kok Dikebiri

Oleh : Muhammad Rizki A

Pernah suatu ketika membaca novel karangan artis sekaligus stand up comedy-an terkenal, Raditya Dika. Lupa sih judulnya apa, tapi pada salah satu halaman diceritakan tentang kucingnya yang dikebiri. Jadi kucing tersebut hasrat untuk buah-membuahinya dihilangkan. Gara-garanya si Raditya Dika ini takut nantinya kucingnya beranak-pinak dan jadi jelek. Pengennya si Raditya ini kucingnya bagus atau cantik terus. Bisa dibayangkan kalau kucing memiliki anak banyak. Kalau masih bingung membayangkan, bayangkan saja manusia setelah melahirkan dan anaknya banyak. Meskipun nggak bisa disamakan antara manusia dengan kucing sih. Sebatas untuk memudahkan analoginya saja. Intinya yang dilakukan oleh Raditya Dika tersebut adalah menghilangkan produktifitas kucingnya, dalam hal bereproduksi atau beranak.

Kebiri

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri, kebiri –/ke•bi•ri/– memiliki arti sudah dihilangkan/dikeluarkan kelenjar testisnya pada hewan jantan atau dipotong ovariumnya pada hewan betina. Dalam artian lain bisa juga sudah dimandulkan. Kebiri sendiri dalam bahasa kerennya disebut kastrasi. Yang memiliki pengertian tindakan bedah dan atau menggunakan bahan kimia yang bertujuan untuk menghilangkan fungsi testis pada jantan atau fungsi ovarium pada betina. Meskipun kebiri sendiri tidak hanya untuk hewan, manusia pun bisa di kebiri. Namun apakah manusiawi? Ketika manusia di mandulkan. Terkadang melihat hewan di kebiri saja iba dan kasihan, hidupnya dibatasi untuk tidak buah-membuahi.

Jambore dan Silaturahmi Mahasiswa Indonesia

Beberapa hari yang lalu, santer terdengar acara nasional yang mengumpulkan mahasiswa dari penjuru Indonesia, Sabang sampai Merauke. Jambore dan Silaturahmi Mahasiswa Indonesia, begitulah judulnya. Judul acara yang terlihat sangat ”wow” dan mungkin keren untuk mahasiswa di Indonesia. Jelaslah, acara nasional dan gratis. Siapa yang tidak tergiur dengan acara nasional dan gratis se apa-apanya. Kalau di fikirkan lagi, sejak saya menjadi seorang mahasiswa, dari semester satu sampai sekarang itu belum pernah mendengar acara sebesar itu dan gratis mulai dari akomodasi dari rumah sampai rumah lagi ditanggung oleh yang ngadain acara lho! Keren kan ya? Tepatnya kemarin tanggal 4 sampai 6 Februari 2017 di Cibubur.

Banyak sekali keanehan dan kejanggalan acara tersebut, dari berbagai sumber yang saya baca. Dari sedikit saja yang saya ceritakan di atas, kalau kita bisa membaca tanda dan suasana, apa iya acara yang skalanya nasional bisa gratis? Lalu muncul kejanggalan berikutnya siapa yang mampu membiayai mahasiswa di seluruh Indonesia untuk berkumpul di satu tempat? Mahasiswa seluruh Indonesia itu bukanlah sesuatu yang sedikit jika dihitung dengan angka. Apalagi konon katanya diikuti oleh 3000 mahasiswa dari 500 kampus di Indonesia. Wow. Uang siapa untuk menggratiskan 3000 mahasiswa, pertanyaan besar yang mengendap di hati dan otak. Sepertinya memang acara tersebut sudah tidak jelas mulai dari awal.

Acara besar yang “wow” saking ketidakjelasannya. Panitianya tidak jelas. Dari lembaga atau organisasi apa juga tidak jelas. Dari segi rundown acaranya pun tidak jelas sampai-sampai dananya pun tidak jelas. Acara besar, luar biasa, tapi tidak jelas. Lucu lho! Tetapi ada jelasnya juga acara 3000 mahasiswa ini. Pertama jelas yang mengisi acara adalah beberapa jajaran kementerian rezim penguasa saat ini, seperti dari Kemeneterian Pertanian, lalu dari Kementerian Komunikasi dan Informasi.
Masih ada juga lho Kepala Staff Kepresidenan, bapak Teten Masduki. Keren kan acaranya? Terus juga banyak sekali karangan bunga, ada dari ibu Menteri Sosial, lalu bapak Menteri ESDM, terus dari Menteri Perhubungan juga ada. Hebat ya! Padahal dalam sejarahnya mahasiswa mengadakan acara seminar atau yang serumpun, untuk mendatangkan menteri satu saja susahnya minta ampun, tapi ini? Mudah sekali menteri-menteri kabinet kerja rezim pemerintah sekarang meluangkan waktu untuk menghadiri jambore mahasiswa. Padahal ketika 5000 mahasiswa di depan istana hanya di diamkan. Apa ini? Lucu sekali.

Dari beberapa berita juga, di Jambore tersebut ada jargon-jargon provokatif. Perlu kita renungkan, untuk apa jargon provokatif menyudutkan salah satu pihak. Sebagai contoh “bubarkan FPI” kemudian “Tangkap SBY”. Lalu malah-malah ada jargon, “Indonesia Kita”. Ya, semua tahu lah itu jargon partai apa, partai penguasa kan bebas. Kembali muncul di benak hati. Untuk apa hal tersebut itu dikeluarkan/diadakan jargon politisi dan penyudutan. Eh, katanya yang mengadakan acara dari politisi partai penguasa pemerintahan. Jadi acara tersebut dirintis oleh politisi dan rezim penguasa Negara ini. Politisi dan rezim yang ingin memprovokasi, memecah belah, dan menunggangi gerakan mahasiswa untuk kepentingan pribadi dan kekuasaan mereka. Menyedihkan sekali Negara ini.

Upaya Pengebirian

“Kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda adalah idealisme”, begitu kata Tan Malaka. Dan itulah satu-satunya yang di miliki oleh pemuda khususnya mahasiswa yang tidak bisa dibeli siapapun apalagi dengan nasi bungkus. Idealisme. Sekali lagi idealisme gerakan, diatas kepentingan-kepentingan rakyat. Benar ketika banyak yang bilang mahasiswa banyak ditunggangi. Benar ditunggangi kepentingan rakyat banyak. Mahasiswa bergerak atas dasar keresahan hati yang dirasionalkan dalam otak dan pikiran, kemudian dinyatakan dalam bentuk fisik sebuah aksi, bukan berdasarkan provokasi dan bayaran. Karena jalan perjuangan pergerakan untuk rakyat tidaklah sebercanda itu.

Saya rasa, acara Jambore yang sedikit diuraikan diatas adalah upaya penggembosan gerakan mahasiswa yang sejatinya adalah Agent Of Control Social. Dimana bukan lagi untuk memainkan peran mahasiswa, sebagai pengontrol dan pengawal kebijakan pemerintahan, mitra kritis ataupun oposisi strategis, tapi malah mematikan peran mahasiswa dengan memprovokasi, memecah belah, serta menunggangi mahasiswa untuk kepentingan pribadi, rezim penguasa. Memang sudah jelas dan terbukti, ketika kekuatan para pemuda, gerakan mahasiswa mampu menggulingkan rezim-rezim penguasa di negeri ini. Mulai dari zaman penjajahan, berlanjut pada tahun 66, kemudian rezim 32 tahun pada 98. Jelas dan terbukti bahwa gerakan mahasiswa ditunggangi, ditunggangi kepentingan rakyat. Dan mampu menumbangkan rezim penguasa.

Apakah rezim penguasa mulai panik dan takut akan ditumbangkan oleh kekuatan besar gerakan mahasiswa? Sampai harus mereka mebuat acara Jambore yang memprovokasi, memecah belah, dan menunggangi gerakan mahasiswa. Saya rasa tidak berlebihan ketika mengatakan hal ini sebagai upaya pengebirian gerakan mahasiswa. Upaya memandulkan dan pelemahan gerakan mahasiswa. Upaya mematikan produktifitas gerakan mahasiswa. Mungkin saya menyarankan hal yang lebih baik daripada mengebiri gerakan mahasiswa, yang sampai kapan pun tidak akan mampu karena idealisme gerakan mahasiswa sudah tertanam dalam hati dan jiwa para pejuang. Saran saya adalah jangan buat gaduh Negara ini, sejahterakan rakyatnya, benarkan apa yang tidak benar.

Namun sampai kapanpun gerakan mahasiswa dan idealismenya tidak akan pernah luntur. Gerakan mahasiswa akan selalu ada ditempat terdepan untuk rakyat dan siap ditunggangi oleh rakyat. Gerakan mahasiswa yang selalu siap utuk menjadi tempat bercerita rakyat tertindas. Gerakan mahasiswa yang siap dan selalu menjadi agent of change, agent of control social, mitra kritis maupun oposisi strategis pemerintah. Dan upaya pengebirian dalam bentuk apapun tidak akan mampu merontokkan gerakan mahasiswa, “karena dari dalam kubur suaraku terdengar lebih keras!”⁠⁠⁠⁠

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *