Berita Teantang BEM UNS

Gerakan Advokasi Mahasiswa dan Kaitannya dengan Pembangunan Flyover Manahan

Oleh : Hikmah Bima Odityo

“Saat ini, PKL kobar terancam seiring dengan berjalannya rencana pembangunan flyover Manahan …..”

Sebagai pembuka, perkenankan saya sedikit bernarasi, tentang sudut kecil
kota yang akrab dipanggil dengan sapaan kobar (kota barat). Sebagaimana kita
ketahui, kobar merupakan kawasan khas penyaji kuliner di Surakarta. Malam hari
kobar menyulap dirinya, menjadi kawasan eksotik yang dapat memanjakan para
pekerja dan pelajar, sejenak beristirahat dari rutinitas sehari-hari. Kesantunan kota
seakan tercermin dari aktivitas jual-beli, keramahan pedagang, dan kebahagiaan
pembeli dalam menikmati suasana.
Tak heran jika banyak pedagang memilih untuk berjualan di kobar. Karena,
selain dekat dengan pusat ekonomi kota, mereka memiliki “pasar” yang cukup besar,
yaitu keramaian orang. Kebanyakan dari pedagang itu, berasal dari modal yang
kecil. Saat ini, kita kenal dengan istilah PKL(Pedagang Kaki Lima).
Kata “PKL”, acapkali disematkan pada pemaknaan yang negatif dan bernada
miring. Mereka dituding mengganggu ketertiban, kelancaran lalu lintas, dan
penyitaan terhadap ruang-ruang publik. Citra PKL seakan digambarkan, pada
substansi yang memuat berita tentang penertiban, pembongkaran, penggusuran dan
pemindahan.
Tapi tahukah kawan. Kehadiran PKL dapat memberikan kontribusi yang
signifikan bagi pergerakan ekonomi kota. PKLtergolong dalam sektor informal atau
sektor perdagangan kecil. Self employment dalam istilah lain. Self employment
adalah aktivitas perdagangan, dimana pemilik perdagangan terlibat langsung dalam
pengendalian perdagangan, kebanyakan tenaga kerja yang dibutuhkan terdiri dari
kerabat karib dan keluarga. Sektor informal dapat memberikan sumbangan besar
terhadap kehidupan warga kota, seperti; menyediakan barang yang relatif murah dan
terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Selain itu, sektor informal
dapat menumbuhkan jiwa wirausaha dan memberikan lapangan pekerjaan bagi
mereka yang tidak tertampung dalam sektor formal.
Saat ini, keberadaan PKL kobar terancam seiring dengan berjalannya
rencana pembangunan flyover Manahan. Betapa tidak, proyek tersebut akan
memakan waktu yang tidak sebentar, dan jelas menyita lahan dimana para PKL
menggantungkan hidupnya disana. Berita-berita tentang penggusuran akan
menjamur bak buah ceri di musim semi. Masih segar dalam ingatan juga tentang
penggusuran PKL oleh Satpol PP di Prumpung DKI dan kawasan Monas. Dan tentu
kita tidak ingin permasalahannya menjadi berlarut-larut, seperti tragedi Kimar
Sarah.
Maka, penggusuran harus dilakukan dengan mekanisme hukum yang
berlaku. Kebijaksanaan harus bersifat lentur. Setidaknya, PKL harus mendapatkan
penjelasan yang memadai tentang rencana penggusuran, melalui proses negosiasi,
dan tidak dilakukan dengan cara kekerasan. PKL berhak memperoleh kejelasan
nasib, ganti rugi, atau minimal relokasi yang representatif untuk berjualan.
Bagi Pemkot, flyover Manahan dibangun atas alasan macet yang sering
terjadi dari arah bundaran, rel kereta api, dan pertigaan lampu merah. Serta tidak
memungkinkan-nya untuk melebarkan dan menambah jalan baru. Padahal, akar
permasalahan terjadi akibat gagalnya Pemkot dalam menekan kooptasi ruang-ruang
publik, yang perkembangannya selalu minor dengan pembangunan ruang-ruang
privat, seperti; Mall, Hotel, hingga Apartemen mewah. Pemkot juga gagal
menghambat peningkatan jumlah kendaraan di setiap tahunnya.
Secara langsung, pembangunan flyover Manahan akan sangat berdampak
pada pendapatan PKL, dan lapak dagang yang semakin menyempit. Sama halnya
dengan yang dirasakan para pedagang pasca pembangunan flyover Karanganyar.
Banyak diantaranya yang mengeluh, semula menghasilkan minimal pendapatan Rp.
30.000,- per hari, menjadi hanya RP. 30.000,- saja per hari. Sedangkan anak-anak
mereka menunggu di rumah menantikan kehadiran bapak-ibu, untuk sekedar
mendapatkan susu bagi masa depannya.
Lalu, kaitannya dengan gerakan advokasi mahasiswa? Gerakan advokasi
mahasiswa terlahir sebagai wujud tanggung jawab, selaku kaum terpelajar, yang
peka terhadap realitas sosial di sekelilingnya. Gerakan advokasi mahasiswa, tumbuh
dan besar sebagai gerakan moral yang tidak terlepas dari kebebasan mimbar
akademis dan iklim dalam berdemokrasi. Maka sudah sewajarnya, gerakan advokasi
mahasiswa, mampu mendobrak sumbatan-sumbatan saluran komunikasi publik,
sebagaimana yang dilakukan oleh kawan-kawan kita dari Universitas Haluoleo
Kendari pada 2008 lalu.
Diperlukannya komunikasi dialogis, antar mahasiswa, PKL, aparat, dan
walikota, sebagaimana yang dikatakan oleh Habermas. Ketimpangan sosial adalah
realitas yang tidak dapat dihindari. Komunikasi yang tepat merupakan solusi terbaik
bagi seluruh stakeholderterkait.
Akhirulkalam, walikota Seoul, Lee Myung Bak, pada tahun 2008 dapat
melakukan 4.000 kali musyawarah dengan masyarakat dan stakeholder dalam
proyek restorasi sungai Cheonggyecheon. Pembangunan flyover akan segera
dilaksanakan pada bulan oktober depan. Lantas, dimanakah posisi kita?

Bukan Hewan kok Dikebiri

Oleh : Muhammad Rizki A

Pernah suatu ketika membaca novel karangan artis sekaligus stand up comedy-an terkenal, Raditya Dika. Lupa sih judulnya apa, tapi pada salah satu halaman diceritakan tentang kucingnya yang dikebiri. Jadi kucing tersebut hasrat untuk buah-membuahinya dihilangkan. Gara-garanya si Raditya Dika ini takut nantinya kucingnya beranak-pinak dan jadi jelek. Pengennya si Raditya ini kucingnya bagus atau cantik terus. Bisa dibayangkan kalau kucing memiliki anak banyak. Kalau masih bingung membayangkan, bayangkan saja manusia setelah melahirkan dan anaknya banyak. Meskipun nggak bisa disamakan antara manusia dengan kucing sih. Sebatas untuk memudahkan analoginya saja. Intinya yang dilakukan oleh Raditya Dika tersebut adalah menghilangkan produktifitas kucingnya, dalam hal bereproduksi atau beranak.

Kebiri

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri, kebiri –/ke•bi•ri/– memiliki arti sudah dihilangkan/dikeluarkan kelenjar testisnya pada hewan jantan atau dipotong ovariumnya pada hewan betina. Dalam artian lain bisa juga sudah dimandulkan. Kebiri sendiri dalam bahasa kerennya disebut kastrasi. Yang memiliki pengertian tindakan bedah dan atau menggunakan bahan kimia yang bertujuan untuk menghilangkan fungsi testis pada jantan atau fungsi ovarium pada betina. Meskipun kebiri sendiri tidak hanya untuk hewan, manusia pun bisa di kebiri. Namun apakah manusiawi? Ketika manusia di mandulkan. Terkadang melihat hewan di kebiri saja iba dan kasihan, hidupnya dibatasi untuk tidak buah-membuahi.

Jambore dan Silaturahmi Mahasiswa Indonesia

Beberapa hari yang lalu, santer terdengar acara nasional yang mengumpulkan mahasiswa dari penjuru Indonesia, Sabang sampai Merauke. Jambore dan Silaturahmi Mahasiswa Indonesia, begitulah judulnya. Judul acara yang terlihat sangat ”wow” dan mungkin keren untuk mahasiswa di Indonesia. Jelaslah, acara nasional dan gratis. Siapa yang tidak tergiur dengan acara nasional dan gratis se apa-apanya. Kalau di fikirkan lagi, sejak saya menjadi seorang mahasiswa, dari semester satu sampai sekarang itu belum pernah mendengar acara sebesar itu dan gratis mulai dari akomodasi dari rumah sampai rumah lagi ditanggung oleh yang ngadain acara lho! Keren kan ya? Tepatnya kemarin tanggal 4 sampai 6 Februari 2017 di Cibubur.

Banyak sekali keanehan dan kejanggalan acara tersebut, dari berbagai sumber yang saya baca. Dari sedikit saja yang saya ceritakan di atas, kalau kita bisa membaca tanda dan suasana, apa iya acara yang skalanya nasional bisa gratis? Lalu muncul kejanggalan berikutnya siapa yang mampu membiayai mahasiswa di seluruh Indonesia untuk berkumpul di satu tempat? Mahasiswa seluruh Indonesia itu bukanlah sesuatu yang sedikit jika dihitung dengan angka. Apalagi konon katanya diikuti oleh 3000 mahasiswa dari 500 kampus di Indonesia. Wow. Uang siapa untuk menggratiskan 3000 mahasiswa, pertanyaan besar yang mengendap di hati dan otak. Sepertinya memang acara tersebut sudah tidak jelas mulai dari awal.

Acara besar yang “wow” saking ketidakjelasannya. Panitianya tidak jelas. Dari lembaga atau organisasi apa juga tidak jelas. Dari segi rundown acaranya pun tidak jelas sampai-sampai dananya pun tidak jelas. Acara besar, luar biasa, tapi tidak jelas. Lucu lho! Tetapi ada jelasnya juga acara 3000 mahasiswa ini. Pertama jelas yang mengisi acara adalah beberapa jajaran kementerian rezim penguasa saat ini, seperti dari Kemeneterian Pertanian, lalu dari Kementerian Komunikasi dan Informasi.
Masih ada juga lho Kepala Staff Kepresidenan, bapak Teten Masduki. Keren kan acaranya? Terus juga banyak sekali karangan bunga, ada dari ibu Menteri Sosial, lalu bapak Menteri ESDM, terus dari Menteri Perhubungan juga ada. Hebat ya! Padahal dalam sejarahnya mahasiswa mengadakan acara seminar atau yang serumpun, untuk mendatangkan menteri satu saja susahnya minta ampun, tapi ini? Mudah sekali menteri-menteri kabinet kerja rezim pemerintah sekarang meluangkan waktu untuk menghadiri jambore mahasiswa. Padahal ketika 5000 mahasiswa di depan istana hanya di diamkan. Apa ini? Lucu sekali.

Dari beberapa berita juga, di Jambore tersebut ada jargon-jargon provokatif. Perlu kita renungkan, untuk apa jargon provokatif menyudutkan salah satu pihak. Sebagai contoh “bubarkan FPI” kemudian “Tangkap SBY”. Lalu malah-malah ada jargon, “Indonesia Kita”. Ya, semua tahu lah itu jargon partai apa, partai penguasa kan bebas. Kembali muncul di benak hati. Untuk apa hal tersebut itu dikeluarkan/diadakan jargon politisi dan penyudutan. Eh, katanya yang mengadakan acara dari politisi partai penguasa pemerintahan. Jadi acara tersebut dirintis oleh politisi dan rezim penguasa Negara ini. Politisi dan rezim yang ingin memprovokasi, memecah belah, dan menunggangi gerakan mahasiswa untuk kepentingan pribadi dan kekuasaan mereka. Menyedihkan sekali Negara ini.

Upaya Pengebirian

“Kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda adalah idealisme”, begitu kata Tan Malaka. Dan itulah satu-satunya yang di miliki oleh pemuda khususnya mahasiswa yang tidak bisa dibeli siapapun apalagi dengan nasi bungkus. Idealisme. Sekali lagi idealisme gerakan, diatas kepentingan-kepentingan rakyat. Benar ketika banyak yang bilang mahasiswa banyak ditunggangi. Benar ditunggangi kepentingan rakyat banyak. Mahasiswa bergerak atas dasar keresahan hati yang dirasionalkan dalam otak dan pikiran, kemudian dinyatakan dalam bentuk fisik sebuah aksi, bukan berdasarkan provokasi dan bayaran. Karena jalan perjuangan pergerakan untuk rakyat tidaklah sebercanda itu.

Saya rasa, acara Jambore yang sedikit diuraikan diatas adalah upaya penggembosan gerakan mahasiswa yang sejatinya adalah Agent Of Control Social. Dimana bukan lagi untuk memainkan peran mahasiswa, sebagai pengontrol dan pengawal kebijakan pemerintahan, mitra kritis ataupun oposisi strategis, tapi malah mematikan peran mahasiswa dengan memprovokasi, memecah belah, serta menunggangi mahasiswa untuk kepentingan pribadi, rezim penguasa. Memang sudah jelas dan terbukti, ketika kekuatan para pemuda, gerakan mahasiswa mampu menggulingkan rezim-rezim penguasa di negeri ini. Mulai dari zaman penjajahan, berlanjut pada tahun 66, kemudian rezim 32 tahun pada 98. Jelas dan terbukti bahwa gerakan mahasiswa ditunggangi, ditunggangi kepentingan rakyat. Dan mampu menumbangkan rezim penguasa.

Apakah rezim penguasa mulai panik dan takut akan ditumbangkan oleh kekuatan besar gerakan mahasiswa? Sampai harus mereka mebuat acara Jambore yang memprovokasi, memecah belah, dan menunggangi gerakan mahasiswa. Saya rasa tidak berlebihan ketika mengatakan hal ini sebagai upaya pengebirian gerakan mahasiswa. Upaya memandulkan dan pelemahan gerakan mahasiswa. Upaya mematikan produktifitas gerakan mahasiswa. Mungkin saya menyarankan hal yang lebih baik daripada mengebiri gerakan mahasiswa, yang sampai kapan pun tidak akan mampu karena idealisme gerakan mahasiswa sudah tertanam dalam hati dan jiwa para pejuang. Saran saya adalah jangan buat gaduh Negara ini, sejahterakan rakyatnya, benarkan apa yang tidak benar.

Namun sampai kapanpun gerakan mahasiswa dan idealismenya tidak akan pernah luntur. Gerakan mahasiswa akan selalu ada ditempat terdepan untuk rakyat dan siap ditunggangi oleh rakyat. Gerakan mahasiswa yang selalu siap utuk menjadi tempat bercerita rakyat tertindas. Gerakan mahasiswa yang siap dan selalu menjadi agent of change, agent of control social, mitra kritis maupun oposisi strategis pemerintah. Dan upaya pengebirian dalam bentuk apapun tidak akan mampu merontokkan gerakan mahasiswa, “karena dari dalam kubur suaraku terdengar lebih keras!”⁠⁠⁠⁠

PRESS RELEASE WORKSHOP ADVOKASI “PROSTITUSI DI SURAKARTA: TANTANGAN DAN SOLUSI”

Workshop Advokasi telah diselenggarakan oleh BEM UNS 2017 Kabinet “Wajah Baru” melalui Kementerian Advokasi Masyarakat pada Sabtu, 20 Mei 2017 bertempat di Gedung DPRD Kota Surakarta yang dimulai pukul 09.00 WIB dan diakhiri pukul 16.00 WIB. Workshop Advokasi bertemakan “Prostitusi di Surakarta: Tantangan dan Solusi” mengundang pembicara yang berkompeten dalam dibidangnya, diantaranya adalah: Pemangku Kebijakan, Akademisi, LSM/ Praktisi, dan pihak-pihak yang terkait dengan dunia “prostitusi” itu sendiri.

Pembicara pertama adalah Dr. Argyo D. MSi, selaku Pakar Sosiologi FISIP UNS. Pembicara selanjutnya berasal dari Organisasi Perubahan Sosial Indonesia yang diwakilkan oleh Ibu Arnie Soraya selaku Koordinator Provinsi Jawa Tengah. Materi juga disampaikan oleh Ibu Kiki selaku eks-WPS yang telah selesai dari proses rehabilitasi kemudian memiliki pekerjaan sebagai wirausaha. Dalam perspektif pemangku kebijakan, penyampaian materi diwakilkan oleh Ibu Rohana selaku Kepala Dinas Sosial

Dr. Argyo D. MSi mengatakan bahwa Prostitusi merupakan hal yang sangat dramatis karena banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya Prostitusi seperti lingkungan, sosial, ekonomi, dan lain sebagainya. Mewakili pandangannya sebagai seorang Akademisi Pak Argyo menjelaskan bahwa Pekerja Seks Komersial (PSK/WPS) merupakan sebuah perbuatan menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan budaya yang kita anut. Selanjutnya, melalui pemaparannya diharapkan Mahasiswa dapat mengkajinya dalam berbagai aspek, serta menemukan solusi atas pemecahan permasalahan prostitusi hingga sampai di tingkat advokasi.

Prostitusi memang identik dengan pelacuran yang tersebar di berbagai kota besar bahkan sampai pelosok yang belum terjangkau listrik. Hal ini adalah sebuah permasalahn yang serius dan kompleks. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut dengan pelacur (PSK), predikat ini melekat pada perempuan PSK tersebut. Di sini perempuan dijadikan objek, hal ini sungguh sangat disayangkan. Pekerjaan melacur sudah dikenal dari berabad-abad lalu. Jauh dari masa nenek moyang kita juga sudah ada kasus pelacuran. “Pada kenyataannya kasus prostitusi merupakan kegiatan dua orang yang saling membutuhkan”, ujarnya.

Sejatinya banyak ditemukan tempat-tempat di Surakarta yang berkedok sebagai tempat panti pijat yang didalamnya terdapat anak-anak berpakaian seksi yang siap melayani pelanggan-pelanggannya. Ironisnya, hal tersebut tidak terjadi pada beberapa tempat saja, namun ada lebih dari 10 tempat yang belum diketahui keberadaannya. “Tentunya kejadian itu merugikan orang-orang yang ingin mempunyai usaha awal yang diniatkan bukan untuk pekerjaan seperti itu”, tambahnya. Selain itu menurut bapak Argyo, pada kasus prostitusi, seringkali terjadi suatu ketidakadilan, yang ditangkap saat razia dan ditindaklanjuti hanyalah “germonya”, tetapi bukan pelaku seksnya.

Ibu Arnie memberikan warna yang lain pada pertengahan diskusi. Menurutnya WPS pantas dimanusiakan, perlindungan harus diberikan kepada WPS. “Jika ingin menyelesaikan permasalahan prostitusi, kita harus masuk dulu ke dalam dunia mereka, menjadi bagian dari mereka, bukan berarti harus menjadi pelacur tetapi bagaimana mendapat kepercayaan dari mereka”, ujarnya. Kemudian Ibu Kiki bercerita mengenai pengalaman kelam yang pernah beliau alami, dan proses untuk menuju perbaikin diri hingga akhirnya keluar dari dunia gelap itu.

Ibu Rohana mengatakan, begitu banyak hal-hal tidak baik masuk ke Surakarta yang membuat pemerintah semakin kewalahan dalam menyelesaikan permasalahan ini. Belum lagi pertimbangan dari segi APBD yang sangat terbatas. Dinas sosial sendiri telah memberikan penanganan berupa pemberian obat-obatan gratis. Hal seperti ini seringkali hanya dilimpahkan hanya kepada pemerīntah kota. Kemudian Ibu Rohana memberikan rekomendasi yang perlu dilakukan dalam mengatasi kasus Prostitusi di Surakarta, yakni sebagai berikut:

  1. Perlunya pendidikan agama sejak dini, hal ini dikarenakan semakin banyaknya pelaku-pelaku seksual yang berasal dari kalangan remaja bahkan anak-anak.
  2. Sosialisasi penyuluhan dampak yang akan ditimbulkan dari kasus prostitusi, kususnya dampak dari sisi kesehatan.
  3. Pendidikan dan pengawasan dari keluarga.
  4. Pemberian pelatihan dan disalurkan untuk mendapat pekerjaan baru. Memberikan keterambil yang mereka mau, namun mantan pekerja seks komersial seringkali banyak yang kembali lagi ke jalan yang salah, dikarenakan pemikiran bahwa mencari uang dengan menjajahkan seks adalah pekerjaan yang lebih mudah untuk mendapatkan uang.
  5. Memberikan pemahan kepada masyarakat, bahwa pekerja seks komersial yang sudah berhenti jangan dikucilkan, melainkan harus didukung.
  6. Pendidikan edukasi yang salah untuk diambil, bahwa pekerja seks komersial harus paham bahwa apa yang ia pilih sebagai seorang pekerja seks merupakan jalan yang salah.
  7. Penegakkan hukum dan sanksi kepada pelaku seksial yang belum dan tidak pas.

“Tentunya dalam mewujudkan Kota Surakarta berseri tanpa Prostitusi diperlukan adanya kejasama dari seluruh elemen, misalnya bekerjasama dengan LSM terkait”, tambahnya.

Pada kegiatan workshop ini diselenggarakan dengan pemaparan materi, diskusi, pelatihan, dan Focus Group Discussion. Kegiatan ini berjalan lancar dengan dihadiri kurang lebih 100 orang Mahasiswa yang berasal dari seluruh Fakultas di UNS. Di akhir acara, terdapat beberapa resolusi dan rekomendasi yang diberikan guna menyelesaikan permasalahan Prostitusi di Kota Surakarta. Kemudian dilanjutkan dengan deklarasi Forum Advokasi Masyarakat “FOR AKAT” UNS sebagai wadah dan wujud pengabdian Mahasiswa dalam menyelesaikan isu-isu advokasi di Kota Surakarta.

Selain itu, melalui kegiatan ini diharapkan Mahasiswa dapat mengasah daya kritis dan kepekaan social terhadap lingkungan sekitar serta pencerdasan dapat dilakukan terhadap masyarakat pada umumnya. Prostitusi adalah isu awal yang digunakan sebagai gerbang dalam penyelesaian permasalahan advokasi. Pasca terselenggaranya workshop, tentunya akan diadakan follow-up berkelanjutan guna membahas langkah teknis penyelesaian masalah seperti, diadakannya penyuluhan/sosialisasi serta kegiatan penunjang lain.

 

Perempuan, Fitrah Ilahiah: Rumah dan Medan Juang

 

Perempuan menggarisi kodrat dari Yang Maha Kuasa, inilah yang disebut Fitrah Ilahiah. Bahwa mengandung, melahirkan, menyusui bahkan menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya yang mengajarkan kebaikan, memberi teladan, membentuk kepribadian, menyebutkan alphabet lantas terangkai menjadi sepatah-dua patah kata, bahkan yang dari nol mengejakan kata “Mama Papa”, hingga mengenalkan si anak pada Tuhannya adalah sebuah keniscayaan.

Perempuan menggarisi pula kodrat dari Yang Maha Kuasa akan perasaannya yang peka dan multitasking. Coba tanya, siapa makhluk yang akan berkacak pinggang, menghembuskan napas, lantas sedetik kemudian sibuk mengomel panjang lebar, sibuk pula tangannya cekatan bergerak membersihkan remah-remah roti di atas karpet. Atau yang ketika sembari berjalan menuju dapur, sibuk tangannya membereskan apa yang terserak atau membetulkan letak suatu barang. Detail-detail demikianlah -yang mungkin dianggap remeh- yang membuatnya istimewa-berbeda, sehingga sering dimintai pertimbangan akan sesuatu. Semacam dijadikan tolok ukur akan suatu hal apabila ada yang luput dan keliru. Maka sering pula pendapatnya dijadikan landasan sebuah peraturan atau himbauan.

Maka dua hal yang tidak dapat dipisahkan, perempuan dengan fitrah ilahiahnya pada peran kewanitaannya dan perannya dalam sebuah kebijakan atau medan juang.

“Wanita adalah tiang negara, jika baik wanitanya maka baiklah negaranya dan jika rusak wanitanya maka rusak pula negaranya”. Bahwa tugas dan keseharian menjadi seorang perempuan bukan hanya berkutat pada make-up atau padu padan pakaian, tapi Negara menjadi taruhannya. Sebab dari para perempuan inilah akan lahir para pemimpin dan pewaris bangsa di masa yang akan datang. Nasib bangsa ini tidak semata bergantung pada seperti apa pemimpin atau penguasa negaranya, tetapi lebih pada bagaimana keadaan kaum perempuannya. Karenanya perempuan berperan penting dalam membina keutuhan dan kinerja sistem dalam suatu negara. Maka membekali diri untuk menjadi cerdas adalah sebuah kewajiban bahkan kebutuhan. Sebelum jauh berbicara, pahamilah, apabila madrasah pertamanya buruk, maka buruklah bibit yang tumbuh kelak.

Mari tengok bersama, secuplik sejarah para srikandi dunia, perannya dalam mencetak para estafeta perjuangan dan perannya dalam kisi-kisi ranah juang.

Adalah Shahabiyah Ummu Imarah, seorang martir perisai Rasulullah dalam perang Uhud.

Adalah Laksamana Keuemalahayati, srikandi bangsa asal Aceh. Pemimpin 2.000 orang pasukan inong balee (janda-janda para martir) berperang melawan kapal-kapal Belanda di hari bersejarah 11 September 1599. Srikandi yang berhasil membunuh Cornelis De Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Namanya harum dikenang dan heroik. Bahkan salah satu kapal perang TNI Angkatan Laut dinamakan KRI Keumalahayati.

Adalah Ibu Fatmawati, yang tanpa perannya tidak akan pernah ada Sangsaka Merah Putih yang hingga hari ini akan berkibar.

Adalah harapan, doa dan motivasi dari seorang Ibu imam besar Masjidil Haram, Syeikh Abdurrahman As-Sudais yang telah membentuk tekad Sang Imam untuk menghafalkan Al-Qur’an dan menjadi Imam Besar Masjidil Haram.

Adalah Bunda Teresa, yang membaktikan diri dan memberi hatinya untuk melayani di tengah-tengah masyarakat miskin India.

Maka adalah perempuan, yang sadar tanpa harus mencundangi dan meninggalkan peran kodrati kewanitaannya namun tetap berdiri siaga di medan juang.

Selamat Hari Perempuan Internasional untuk semua madrasah pertama dan tonggaknya negara. Kita adalah bagian dari hari ini yang menciptakan peradaban yang akan datang kelak.

Aya Shofia
Mahasiswi Public Relations Universitas Sebelas Maret

Fabel Keberpihakan

 

Ketika kecil, saat-saat sebelum tidur merupakan salah satu saat yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, saat itu adalah saat dimana orangtua membacakan cerita-cerita pengantar tidur yang begitu menyenagkan hingga mewarnai mimpi-mimpi. Mulai dari Si Kancil, Timun Mas, Bawang Merah & Bawang Putih, Bahtera Nabi Nuh, Kehebatan Nabi Sulaiman, hingga kisah-kisah heroik para Nabi. Sayangnya itu semua tidak terjadi pada masa kecil saya T^T.

Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah kisah Nabi Ibrahim yang dibakar di dalam parit berkubang kobaran api. Kisah nabi Ibrahim yang biasa disampaikan adalah bagaimana heroiknya nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung sesembahan kaumnya yang berlanjut dengan keapikan penggiringan opini kaumnya melalui logika berfikir yang menawan dan berbuah penenggelaman nabi Ibrahim ‘alaihissalam oleh Namrud dalam parit berkubang kobaran api yang ternyata dengan Izin Allah tak membakar dan menyakiti nabi Ibrahim sedikitpun. Namun, ternyata dibalik penenggelaman tersebut terdapat kisah-kisah lain yang bahkan dampaknya ada yang terbawa hingga masa kini. Kisah yang hadir karena adanya panggilan hati dari pelakunya.

Kabar pengganjaran nabi Ibrahim kala itu tersebar ke seluruh penjuru negeri. Seluruh warga yang mendengar kabar tersebut berbondong-bondong membawa kayu yang merupakan tumbal untuk men summon api yang mereka harapkan kehadirannya dapat menjadi eksekutor untuk mengganjar Ibarahim ‘alaihissalam. Tak ayal, mulai dari pemuda, tetua, laki-laki, perempuan, bahkan orang yang sedang sakit dan hamilpun tak ingin ketinggalan dalam mempersiapkan prosesi tersebut. Begitu tumbal yang telah terkumpul dirasa cukup untuk menenggelamkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ke dalam kubangan kobaran api, sang raja Namrud memerintahkan para summoner yang telah ditunjuknya untuk men summon sang api yang mereka harapkan sebagai eksekutor pengganjar Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Benar saja, api yang ter summon membara begitu ganas, sebanding dengan tumbal-tumbal yang mereka persembahkan untuk men summon_nya. Namrud dan juga Warga-warganya bersorak sorai melihat sang api dengan liarnya menenggelamkan nabi Ibrahim _’alaihissalam yang kala itu dalam kedaan terikat dalam tubuh sang api, mereka mengira sang api yang mereka summon benar-benar menjadi teman mereka dan menjadi eksekutor Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Kabar tentang tenggelamnya Nabi Ibrahim ‘alaihisslam ke dalam kubangan kobaran api seketika itu menyebar ke seluruh penjuru negeri.

Kabar tentang prosesi pengganjaran Nabi Ibrahim ‘alaihisslam tersebut ternyata tak hanya beredar dikalangan manusia-manusia saja, binatangpun tak ketinggalan mendapat kabar tersebut. Salah satunya ialah semut, seekor binatang kecil yang jika dibandingkan dengan manusia tidak akan sebanding sama sekali. Disaat binatang lain hanya dapat menyaksikan prosesi tersebut tanpa mampu berbuat apapun, semut tergerak hatinya untuk melakukan usaha. Semut tersebut berusaha untuk mengambil air yang pada dasarnya merupakan item yang dapat memberi damage yang cukup besar pada api yang telah di summon tersebut. Namun bagaimanapun juga, air yang dapat dibawa oleh semut hanyalah seberapa jika dibandingkan dengan sang api yang dapat menenggelamkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam tubuhnya. Walau begitu, semut tetap melakukan usahanya yang dimotori oleh panggilan hatinya. Ternyata perbuatan semut tersebut menarik perhatian seekor gagak yang dengan herannya menanyai semut,

Gagak : “Apa yang kamu pikul itu sampai-sampai kau begitu payah membawanya?”
Semut : “Aku membawa bejana berisi air.”
Gagak : “Untuk apa air itu?”
Semut : “Tidakkah kau mendengar bahwa Namrud laknatullah telah menyalakan api untuk membakar Khalilullah Ibrahim ‘alaihis salam?”
Gagak : “Tidak, aku belum mendengar kabar itu. Namun, aku tak mengerti hubungan itu dengan air yang kau bawa ini?”
Semut : “Aku ingin turut ambil bagian untuk memadamkan api si Namrud.”
Gagak (seraya mencemooh) : “Hai semut bodoh, apakah kau merasa yakin bahwa dirimu bisa memadamkan api besar Namrud dengan sedikit air dalam bejana kecil ini?”
Semut : “Aku tahu bahwa aku takkan mampu memadamkan api besar itu karena hal itu memang berada di luar kemampuanku. Akan tetapi aku melakukan ini karena dua alasan.”
Gagak : “Apa kedua alasan itu?”
Semut : “Aku memastikan (di posisi mana aku berdiri) dan mengetahui sasaranku sehingga aku tahu apa yang kutuju. Dengan demikian aku bukanlah jenis makhluk yang tak peduli sehingga rela dengan keburukan yang terjadi. Aku harus punya andil untuk memberikan pertolongan meskipun itu di luar kemampuanku.”
Gagak: “Apa alasan kedua?”
Semut : “Agar aku punya alasan yang benar di depan Rabb-ku. Aku mengetahui khalilullah akan dibakar tapi aku tak melakukan apa-apa? Oleh karena itu aku bangkit memberikan bantuan sebesar kemampuanku. Aku tak mau membiasakan diri hidup tanpa kepedulian.”

Ternyata hewan yang tergerak hatinya tak hanya semut saja. Ada pula cicak yng hatinya juga ikut tergerak melihat prosesi tersebut. Sama seperti semut, cicak tak mau diam saja melihat hal tersebut. Namun, reaksi yang dihasilkan oleh gerakan hati cicak tak sama seperti semut. Ketika semut memutuskan untuk berusaha memberikan damage kepada sang api, yang cicak lakukan adalah berusaha untuk melakukan healing kepada sang api dengan skill dari elemen angin berupa hembusan yang disemburkan melalui mulutnya. Yah, walaupun memang efek yang diberikan oleh skill dari cicak tak terlalu berdampak, itu telah menandakan keberpihakan cicak terletak pada pihak mana.

Dan sekarangpun kita dapat melakukan farming pahala dengan cara membunuh cicak, seperti dalam hadist

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, “Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam.” (HR. Bukhari, no. 3359)

Jadi, di pihak manakah kakanda akan meletakkan keberpihakan?

Dan juga, akankah kakanda diam saja setelah memutuskan dimana kakanda berpihak?

M. Wahid Hasyim

“(Masih) Pecandu Coklat Kondisinal”

Kendeng Masih Melawan dan Terus Melawan!

 

Oleh : Muhammad Rizki Almalik
(Mahasiswa Fakultas Hukum UNS 2015)

“Ibu bumi wis maringi, Ibu bumi dilarani, Ibu bumi kang ngadili, Laillahailallah Muhammadurrasulullah”

Kita ketahui bersama bahwa permasalahan atau konflik agraria di negeri ini sangatlah banyak, terkhusus di wilayah Jawa Tengah. Kurang lebih ada sekitar 450 konflik agraria yang mengemuka di Indonesia pada tahun ini. Salah satunya adalah Pembangunan dan pertambangan pabrik semen PT. Semen Indonesia Tbk. di daerah pegunungan karst Kendeng, Rembang, Jawa Tengah. Sejak tahun 2012, ketika itu Gubernur Jatengnya adalah Bibit Waluyo mengeluarkan izin lingkungan dengan Surat Keputusan Nomor 660.1/17 Tahun 2012 tanggal 7 Juni 2012 dengan nama PT. Semen Gresik. Dapat diketahui disini bahwa perjuangan dan perlawanan dulur-dulur petani Kendeng dimulai sejak tahun 2012, bahkan sebelum itu. Sudah kurang lebih 5 Tahun. Kemudian pada tahun 2014 mulailah pembangunan pabrik dan permulaan konflik panjang pemerintahan melawan rakyatnya sendiri.

Berlanjut, ketika Gubernur Jawa Tengah berganti menajadi Ganjar Pranowo. Di tahun 2016 merupakan salah satu puncak perjuangan dan perlawanan masyarakat Kendeng. Di tahun ini juga Ganjar Pranowo mengganti SK Nomor 660.1/17 Tahun 2012 menjadi SK Nomor 660.1/30 Tahun 2016 tanggal 9 November 2016 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan Bahan Baku Semen dan Pembangunan Serta Pengoperasian Pabrik Semen PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Kabupaten Rembang. Yang dahulunya bernama PT. Semen Gresik kemudian menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Padahal sebelum keluarnya SK Nomor 660.1/30 Tahun 2016 sebelumnya telah keluar putusan Mahkamah Agung yang memenangkan masyarakat Kendeng via jalur hukum, yaitu Putusan MA Nomor 99 PK/TUN/2016 tertanggal 5 Oktober 2016 dengan amar putusan adalah membatalkan obyek sengketa, dalam hal ini adalah izin pada SK Nomor 660.1/17 Tahun 2012. Seharusnya jika pihak tergugat dalam hal ini adalah pemerintahan daerah Jawa Tengah paham akan aturan hukum maka seharusnya tidak mengeluarkan SK Nomor 660.1/30 Tahun 2016 dan yang seharusnya dilakukan adalah memenuhi putusan Mahkamah Agung secepatnya.
Kenapa disini SK tersebut dapat digugat dikarenakan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2010-2030 Juncto KeputusanPresiden Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2011 tentang Penetapan Cekungan Air Tanah, dan yang menjadi pokok alasan dari regulasi yang diebutkan sebelumnya adalah Cekungan Watuputih adalah kawasan lindung imbuhan air yang seharusnya dilindungi karena air merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan maupun pertanian.

Setelah itu akhirnya, di detik-detik terakhir 60 hari tenggang waktu untuk memenuhi putusan MA, Ganjar pun akhirnya mengeluarkan SK Gubernur Nomor 660.1/4 tahun 2017 tertanggal 16 Januari 2017 dengan isi yang dirasa bermata dua. Seolah-olah memenuhi putusan MA tetapi juga seperti membukakan pintu baru untuk PT. Semen Indonesia Tbk. untuk melanjutkan pembangunan pabrik dan penambangan semen. Dan benar saja ketika proses AMDAL dengan mudah di loloskan, akhirnya izin baru dikeluarkan lagi yaitu SK Nomor 660.1/30 Tahun 2017 tentang Izin Penambangan Bahan Baku Semen.

Perjuangan Perlawanan

Berkaitan dengan perjuangan dan perlawanan, maka yang terngiang dikepala adalah puisi seorang pencari keadilan di negerinya sendiri, Wiji Thukul. “Maka hanya ada satu kata: lawan!”. Begitu juga masyarakat kendeng ketika keadilan dan keberpihakan pemerintah sudah tidak lagi berada di kubu rakyat dan hanya mementingkan kaum korporat. Ya, tidak ada jalan lain selain melakukan perlawanan. Melalui jalur sopan dan santun atau yang lebih familiar “damai” dilakukan, jalur hukum juga ditempuh, jalur jalanan pun juga ditempuh. Hukum sudah berbicara mana yang benar adalah benar dengan Putusan MA Nomor 99 PK/TUN/2016 namun dalam implementasinya tetap saja diakali dan dikalahkan.

Perjuangan dan perlawanan ini dimulai sejak tahun 2006, pada saat itu baru terendus rencana pembangunan dan penambangan pabrik semen dan akhirnya pada tahun 2012 turunlah SK tentang hal tersebut. Tidak berhenti disitu, dulur-dulur petani kendeng kemudian mendirikan tenda-tenda perjuangan di daerah didirikan pabrik dan penambangan. Mereka semua rela meninggalkan rumah bahkan tempat tidur mereka untuk kemudian memperjuangkan kebenaran dan keadilan untuk keberlangsungan kelestarian lingkungan dan anak-cucu kita semua dikemudian hari.

Perjuangan dan perlawanan ini tidaklah jalan ditempat, karena perlawanan sekecil mungkin yang di dasarkan pada niat dalam kebaikan di kemudian hari akan menjadi api yang menjalar dan besar. Pada tanggal 12 April 2016, mereka melakukan aksi pasung kaki dengan semen di depan Istana Rakyat, sebagai simbol protes mereka terhadap pembangunan pabrik semen di daerah pegunungan karst, Kendeng. Selama kurang lebih satu minggu mereka melakukan aksi ini, begitu kuatnya niat dan ikhlas di hati mereka untuk memperjuangkan kebaikan, kebenaran, dan keadilan. Pada tanggal 2 Agustus 2016 akhirnya mereka dulur-dulur petani kendeng yang senantiasa berprasangka baik dengan berjanji akan melakukan kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) di Pegunungan Kendeng. Selama kajian dilakukan, pabrik semen dilarang untuk beroperasi. Namun kemudian memang itu hanyalah secercah harapan yang kosong dan hanya menjadi pemanis dalam pahitnya perjuangan petani kendeng yang diberikan oleh pemerintahnya. Layaknya “tong kosong, nyaring bunyinya”.

Karena masih saja beroperasi, maka dulur-dulur petani kendeng pada tanggal 5 Desember 2016 memutuskan untuk longmarch, berjalan kaki dari Kendeng, Rembang menuju ke Semarang tepatnya di rumah rakyat Jawa Tengah, Gubernuran untuk bertemu dengan pemimpinnya, Ganjar Pranowo yang katanya “Tuanku adalah Rakyat, Gubernur hanyalah Mandat”. Jarak sekitar 150 kilometer tidak menghalangi mereka untuk terus berjalan dalam jalan kebenaran untuk memperoleh suatu keadilan dan juga dilakukan untuk mengetuk hati seorang Ganjar Pranowo, yang mungkin telah membatu. Berjalan selama 3 hari bukanlah perkara yang gampang dan mudah, namun demi apa yang mereka perjuangkan maka mereka lakukan. Namun sayang ketika sampai di gubernuran seorang yang dicari tidak ada, dan yang menemui hanyalah staffnya. Seharusnya ketika mengetahui dari awal rakyatnya bersusah payah dengan berjalan kaki ingin bertemu dengan pemimpinnya barang sebentar saja untuk menemui dan beriktikad baik, tapi ini tidak, payah.

Perjuangan dan Perlawanan masih berlanjut, ketika amar putusan MA belum juga dipenuhi oleh seorang Ganjar Pranowo, maka mereka memutuskan untuk menginap di depan gubernuran dengan mendirikan tenda-tenda perjuangan. Bukan tanpa usikan dari pemerintah yang seharusnya menemui rakyatnya, malah menggusur mereka untuk berpindah yang kemudian pada akhirnya di bongkar paksa. Tak menyurutkan semangat, dan ketika itu perjuangan mereka dibersamai oleh berbagai elemen, mulai dari buruh sampai pada kawan-kawan mahasiswa. Meskipun tenda di bongkar mereka tidak pindah tempat, mereka tidak surut, dan kemudian menggunakan payung untuk berteduh dari panasnya matahari serta dinginya hujan. Mereka menunggui seorang Ganjar Pranowo untuk memenuhi putusan MA dan sampai dengan 30 hari, dimanakah hatinya. Dan pada akhirnya di detik-detik akhir batas waktu pemenuhan putusan MA, akhirnya Ganjar Pranowo mengeluarkan SK Nomor 660.1/4 tahun 2017. Namun seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa keputusan ini seperti mengakali putusan MA yang dengan tegas membatalkan obyek sengketa dalam hal ini adalah PT. Semen Indonesi Tbk. dengan bermata dua seperti yang dijelaskan sbelumnya. Namun dengan berprasangka baik, mereka menerima keputusan tersebut dengan kemudian mengawal keputusan tersebut.

Pada akhirnya yang diprasangkai baik oleh dulur-dulur petani kendeng menjadi pupus karena terbitnya SK baru seorang Ganjar Pranowo yang mengaku “Tuanku adalah Rakyat, Gubernur hanyalah Mandat”, SK Nomor 660.1/30 Tahun 2017 tentang Izin Penambangan Bahan Baku Semen yang mebuat kembali mengobarnya perlawanan mereka, sampai saat mereka kembali ke tenda-tenda perjuangan di pegunungan karst yang kemudian di bongkar paksa oleh aparat kemudian di bakar, dimana hati nuraninya? Sampai-sampai mushola pun dibakar.

Lagi-lagi hal ini tak menyurutkan semangat perlawanan dan perjuangan. Hari ini perjuangan dan perlawan mereka tetap berlanjut bahkan sampai tulisan ini dibuatpun mereka masih berjuang mencari keadilan di depan Istana Rakyat, Istana Negara dengan memasung kaki dengan semen sebagai bentuk simbolik dan protes dengan berlanjutnya pabrik semen. Mereka telah jenuh dan bingung mau melakukan apalagi agar pemerintah mendengarkan mereka. Dan hari ini pun, belum juga bapak Presiden Jokowi menemui mereka dan malah terdengar kabar malah akan meresmikan pabrik semen dan malah nge-vlog sama kambing.

Alasan kenapa sampai detik ini dulur-dulur kendeng masih berjuang dan melawan? Salah satu faktornya adalah lingkungan dan minim manfaatnya ketika dibangun pabrik disana. Secara factor lingkungan adalah mata pencaharian utama mereka, tani, ketika karst atau batu kapur kemudian ditambang dampaknya adalah tidak adanya penadah air ketika hujan, tak ada lagi yang mampu menyalurkan air ke dalam tanah. Layaknya spons, setiap karst itu mampu untuk menampung air hujan yang kemudian menyalurkan ke air tanah. Lalu untuk pabrik sendiri, hanya menyerap skitar 300 orang, belum lagi mengenai spesifikasi pegawainya, apakah petani nantinya dibutuhkan? Apakah yakin lahan pertanian tetap ada untuk menghidupi para petani? Silahkan kemudian untuk juga difikirkan karena Indonesia adalah Negara agraris, bukan negaranya korporat-korporat.

Pemerintah, Dimana Kau?

Ketika kita ketahui bersama dalam konstitusi negara kita, Republik Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia telah dijelaskan dalam pembukaannya bahwa salah satu tugas negara adalah mensejahterakan rakyatnya. Tapi ketika kita melihat lagi dengan kondisi negara pada hari ini, bisa dikatakan bahwa tujuan tersebut belumlah serpenuhnya tercapai dan konstitusi hanyalah sebagai dasar sekedarnya saja. Dengan segala permasalahan bangsa dimana petani, buruh, dan rakyat miskin kota pun masih sengsara. Lalu hadirnya pemerintah sebagai regulator, sebagai perangkat negara untuk mencapai salah satu tujuan ini kemana?

Kemudian dimanakah pemerintah ketika dulur-dulur petani kendeng meminta dan memperjuangkan keadilan untuk kesejahteraannya? Suatu pertanyaan yang begitu menohok bagi siapapun. Seharusnya disini pemerintah adalah hadir ditengah permasalahan-permasalah rakyat karena memang pemerintah adalah regulator, pemerintah memiliki kuasa penuh yang dimandatkan oleh rakyatnya untuk kemudian mampu hadir ditengah-tengah permasalahan rakyat, khususnya dalam hal ini adalah perjuangan dulur-dulur petani kendeng.

Namun kalau dilihat yang terjadi pada hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini pemerintah seakan acuh, tutup mata, tutup telinga, bahkan membatukan hati mereka dengan permasalahan yang dirasakan oleh dulur-dulur kendeng, ancaman kesejahteraan yang terenggut. Kita semua tidak melihat hadirnya pemerintah sebagai pohon rindang penyejuk hati rakyat tapi yang kita lihat hnayalah api yang membakar amarah rakyat. Terlihat bahwa disini pemerintah sudah tidak lagi menggunakan keberpihakannya sebagaimana mestinya, keberpihakan terhadap rakyat.

Sangat jelas bahwa pemerintah kini sudah tidak berpihak lagi dengan rakyat, ketika kita dapat memahami duduk perkara yang di alami oleh dulur-dulur kendeng. Ketika apa yang diamanahkan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD NRI yang berbunyi “Negara Indonesia adalah Negara hukum”, malah dikangkangi oleh pemerintahnya sendiri, dalam hal ini adalah Ganjar Pranowo yang dirasa tidak menjalankan putusan MA Nomor 99 PK/TUN/2016 yang menyatakan bahwa batal obyek sengeketa yang berarti Izin yang pernah dikeluarkan Ganjar harusnya di cabut.

Kemudian berkaitan dengan hati nurani, kemanakah hati nurani pemerintah ketika melihat dulur-dulur kendeng ini mengaksikan, memperjuangakan kebenaran dan keadilan dengan berbagai cara sampai berhari-hari hanya ingin berdialog dengan pemerintah tapi nyatanya, pemerintah tetap saja bungkam dan tidak mau hadir ditengah-tengah rakyat. Bahkan sampai hari ini telah jatuh korban meninggal dunia dengan tulusnya memperjuangankan keadilan dan kebenaran. Sampai disini, terlihat bahwa hati nurani pemerintah sudah lah mati. Lebih mementingkan eksistensi didunia maya daripada menemui rakyat yang mengamanahinya dan malah memberikan janji janji omong kosong belakang.

Kalau boleh berkesimpulan, dimanakah pemerintah hari ini? Pemerintah sudah mati nuraninya, sudah tak mampu melihat dengan hati, dan juga sudah tak mampu lagi berpihak kepada rakyat. Bahwasanya hari ini pemerintah hanya mementingkan korporasi daripada lahan pertanian yang mampu menghidupi rakyatnya. Bahwasanya hari ini negara Indonesia sebagai negara agraris sudah tidak berlaku lagi dan menjadi negara korporat.

Matinya hati nurani pemerintah sangat terlihat jelas hari ini dengan tetep memilih untuk bungkam ketika perjuangan dan perlawanan dulur-dulur kendeng sampai menelan korban jiwa. Dan ketidakberpihakan kepada rakyat pun semakin terlihat sangat jelas hari ini dengan kemudian yang jelas hari ini adalah keberpihakan rezim pemerintah kepada korporasi-korporasi dan pemodal-pemodal dan tak menggemingkan kesejahteraan rakyat.

Sedikit kutipan dari seorang Ganjar Pranowo yang menisbatkan “Tuanku adalah rakyat, Gubernur hanyalah mandat” yang saya rasa kita sepakat sudah tidak lagi relevan. Karena kenyataannya bagi seorang Ganjar Pranowo adalah “Tuanku ya korporat, Gubernur hanyalah mandat!”. Dan sangat menyesalkan sikap Presiden Jokowi yang malah memilih untuk bermain vlog dengan kambing-kambing daripada menemui rakyatnya!

Maka dari itu, saatnya nurani ini berbicara, saatnya hati ini menggerakkan raga kita, pikiran kita, untuk kemudian melawan rezim yang dzalim ini, rezim yang sudah tidak berpihak kepada rakyat. Maka segera penuhilah jalanan dengan warna-warni almamatermu untuk kembali mengingatkan pemerintah agar kembali kepada mandat Undang-Undang Dasar yaitu mensejahterakan rakyatnya, bukan menyengsarakan rakyatnya. Untuk kembali menegaskan bahwa mahasiswa bersama rakyat menentang ketidakadilan ini!

*E*hh- *K*orupsi *T*oh *P*ak(?)

 

Belum selesai problematika yang ada di negeri ini,namun sekarang malah bertambah dengan munculnya problematika lama yang menjadi keresahan setiap masyarakat,permasalahan yang menyangkut hajat orang banyak dan tentunya Warga Negara Indonesia.Yaa,korupsi.Kasus yang sekarang sedang marak-maraknya terdengar ditelinga dan sekarang yang menjadi sasaran dalam korupsi tersebut ialah proyek Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP). Dan yang lebih mengejutkan ialah orang-orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut notabenenya adalah pejabat-pejabat pemerintahan.Tidak tanggung-tanggung,dana yang dikorupsi mencapai Rp 2,3 Triliun dan itu bukanlah dana yang sedikit.

Satu hal lagi yang penting,uang yang dikorupsi adalah uang kami,yang sudah seharusnya uang itu kembali kepada kami,bukan malah dikorupsi. Baik pak ini ada pesan dari kami untuk bapak-bapak disana :

Pak
Kami bingung dengan semua ini
Ketika kami sibuk mencari uang untuk makan sehari-hari
Ehh kalian malah asik korupsi

Pak
Tidakkah bapak sadari (?)
Uang yang kalian pakai adalah uang kami
Yang harusnya uang itu digunakan untuk kesejahteraan kami

Pak
Apakah semuanya akan terus seperti ini(?)
Hingga kami mati,karena uang kami kalian korupsi
Dengan seenak hati

Salam Cinta dari Kami

Kami adalah rakyatmu pak,yang disini kami susah mencari uang untuk makan sehari-hari,ehh kalian malah korupsi dengan seenak hati,tanpa memikirkan kesejahteraan kami.

Dan kami juga mohon kepada bapak-bapak yang masih memiliki hati nurani,tolong usut tuntas kasus korupsi ini,karena jika semua ini terus dibiarkan seperti ini,maka dimanakah letak kekuatan hukum pak(?) Apakah saat ini hukum itu tajam ke bawah dan tumpul ke atas (?)

Tolong selesaikan segera permasalahan ini pak,jangan sampai ada yang ditutup-tutupi lagi,karena dari dulu korupsi seperti sudah menjadi tradisi,tolong usut tuntas semua kasus korupsi yang ada di negeri ini.

Sejatinya tugas dari bapak-bapak adalah melindungi kami,mensejahterakan kehidupan kami,bukan malah menyengserakan kami seperti ini.

Mungkin itu pak sedikit pesan dari kami,semoga bapak-bapak disana masih memiliki hati nurani.

Oleh: Firzan Gifari
Rakyatmu

Kado Awal Tahun Pemerintah

Awal tahun adalah dimulainya lembaran baru 365 hari kedepan. Awal tahun identik dengan harapan-harapan baru yang lebih baik. Awal tahun ini, 2017 sayangnya tidak sesuai dengan  ke-identikan itu. Belum selesai rakyat Indonesia memperoleh kenyataan bahwa banyaknya tenaga kerja asing di Indonesia, khususnya china yang padahal tenaga kerja dalam Negara sendiri masih banyak yang membutuhkan lapangan pekerjaan atau pengangguran. Namun pemerintah serasa tutup mata akan hal itu. Awal tahun ini harapan-harapan baru rakyat Indonesia telah di koyak dengan suatu kenyataan yang diberikan oleh pemangku-pemangku kebijakan, pemerintah Indonesia yang mengeluarkan kebijakan yang begitu kontroversial. Menaikkan Tarif Dasar Listrik 900 VA dan juga Menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Non-subsidi. Inilah salah satu kado awal tahun dari pemerintah untuk rakyatnya. Selain itu masih ada lagi biaya mengurus surat kendaraan bermotor yang naik. Sungguh luar biasa bukan? Luar biasa ditengah susahnya ekonomi rakyat. Tahun baru, Penderitaan baru bagi rakyat!

Tarif Dasar Listrik (TDL) 900 VA resmi naik pada awal tahun ini. Dan tarif ini pun parahnya akan naik setiap 3 bulan sekali. Salah satu alasan dinaikkannya TDL ini ialah pengurangan subsidi terhadap Tarif Dasar Listrik (TDL) 900 VA. Pengguna listrik ini tidak semua orang kaya, dan ada pula rakyat menengah kebawah yang menggunakan.  Kenaikan TDL ini begitu tinggi dan tidak wajar. Pasalnya tarif awal hanyalah Rp 605/kWh menjadi Rp 791/kWh per 1 Januari yang kemudian akan naik lagi menjadi Rp 1034/kWh per 1 Maret dan puncaknya adalah menjadi 1352/kWh per 1 Mei 2017. Dan kenaikan pun sampai 242.5 % yang pastinya menambah derita rakyat.

Kemudian satu lagi kado awal tahun pemerintah adalah kenaikan harga BBM non-subsidi (pertalite, premium, dsb). Harga BBM ini sebenarnya sudah naik sejak akhir bulan Desember yang lalu. Kemudian tertanggal 5 Januari 2017 pukul 00.00 resmi BBM non-subsidi ini naik lagi Rp 300/liternya. Padahal sekarang rakyat banyak yang menggunakan BBM non-subsidi karena memang awalnya harga tidak sebegitu tingginya. Dari beberapa temuan yang begitu mencengangkan adalah beberapa SPBU sudah tidak menjual premium yang dalam hal ini bisa ditarik kesimpulan bahwasannya secara tidak langsung memaksa rakyat untuk menggunakan BBM non-subsidi yang sekarang harganya sangat melambung tinggi. Kado awal tahun yang mencekik rakyat.

Dampak dari kenaikan-kenaikan harga ini sangat telak bagi rakyat. Bahkan kenaikan harga inipun berentetan dengan nantinya biaya hidup dan bahan-bahan pokok. Tapi fakta dilapangan yang kita lihat sekarang, pemerintah seolah “lempar batu sembunyi tangan”. Dimana pemerintah saling melempar tanggung jawab seakan-akan tidak ada yang mengusulkan kebijakan-kebijakan kenaikan harga tersebut. Kok bisa ndak ada yang mengusulkan kok jadi kebijakan. Aneh!

Pemangku kebijakan dalam menelurkan suatu kebijakan seharusnya melihat kebawah, untuk siapa kebijakan ditelurkan, dan kebijakan pro rakyat lah yang seharusnya ditelurkan. Bukan suatu kebijakan yang tidak wajar yang mencekik, memberatkan serta menambah derita rakyatnya. Bukan malah seakan-akan melupakan dibawah ada rakyat yang menitipkan amanah kepadamu dan melupakan jeritan rakyat dibawah yang tertindas oleh kebijakan-kebijakan yang ditelurkan.

Panjang umur Perjuangan !
Muhammad Rizki A

Manifestasi Huru-Hara Politik Kampus

 

Oleh Muhammad Shidiq Fathoni

( Mahasiswa Fisip Sosiologi UNS 2015)

Ihwal politik kampus merupakan sebuah zona dunia baru, suatu perubahan zona progresif yang akan dialami oleh insan yang disebut siswa ketika menjadi insan yang disebut mahasiswa. Elok, mahasiswa sebutanya layaknya objek yang mendapat awalan Maha tak banyak yang menyandang predikat tersebut. Maha Esa misalnya yang mempunyai arti Tuhan yang Maha Esa, maupun Mahadewa yang merupakan sosok Dewa keluhuran, kemuliaan dan kepahlawanan di dalam cerita pewayangan. Dua kata yang mengambarkan bahwasanya tidak main-main predikat Maha dari suatu kata.
.
Syahdan, mahasiswa merupakan status dan peran yang disandang seseorang yang mengalami masa transisi progresif dari seorang siswa. Memasuki zona dunia baru dengan segela beban yang disandang. Jika dulu Plato menggambarkan seorang manusia gua keluar dari gua. Melihat dunia luar, lalu ia terpana. Realita keadaan yang berbeda dengan bayang-bayang di dinding gua. Begitulah alegori gua, dunia idea menurut Plato yang nampaknya cocok untuk mengambarkan zona dunia baru politik kampus yang akan dialami seorang mahasiswa baru. Berorganisasi secara lebih luwes daripada di masa siswa, pergerakan mahasiwa dan berstrategi menarik masa untuk menjadi kader salah satu partai mahasiswa merupakan tiga dari sekian banyak pembelajaran dari zona politik kampus.
.
Namun seperti halnya petikan lagu AMust, “sayang seribu sayang.” Pesimisme dan stigma terhadap politik sendiri merupakan hambatan sesorang untuk terjun atau sekedar menjamah hal yang berkaitan dengan politik kampus. Terpaku pada pandangan Machiavelli pada bukunya II Principe yang mengasosiasikan politik yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, dan para pelakunya disebut Makiavelis. Begitulah menghalalkan segala cara, kekuasaan dan kotor bagaikan air comberan begitulah paradigma ihwal mengenai politik maupun siyasi.
.
Manifestasi huru-hara politik kampus dengan berbagai paradigma negetif mengenai politik itu sendiri adalah hal yang harus dikonstruksi ulang di dalam kultur kampus. Politik kampus itu bukan saja soal kekuasaan, curang maupun hal kotor lainya. Kamu iya kamu, tanamkan dalam benakmu di dalam politik kampus kamu bisa mendapat ilmu mengenai strategi mengatur sebuah siasat untuk mencapai tujuan dalam berorganisasi, berjejaring, atau bahkan dirimu bisa menemukan jodoh jika dirimu beruntung.
.
Mengenai hura-hura politik kampus diriku dan dirimu harus mencari sudut pandang lain ihwal politik. Semisal saja politik atau siyasi menurut pandangan Islam, dalam bukunya risalah pergerakan I Hasan Al-Banna menjelaskan bahwasanya “ Sesungguhnya, dalam islam ada politik, tetapi politik yang padanya terletak kebahagiaan dunia dan akhirat.” Kejujuran, keikhlasan, objektivitas dan selalu berpihak kepada kemaslahatan rakyat sesuai dengan pandangan islam. Pertanda islam bukan hanya mengatur ritual ubudiyah saja.
.
Sudut pandang Islam nampaknya bisa mengubah paradigma kita menganai hal kotor seperti halnya tulisan Soe Hok Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstaran halaman 121, “Dalam politik tak ada moral. Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor. Tetapi suatu saat di mana kita tak dapat menghindar diri lagi maka terjunlah. Kadang-kadang saat ini tiba, seperti revolusi dahulu.”
.
Pandangan Ali Syariati mengenai konsepsi intelektual, Syariati menyebutnya dengan istilah raushanfikr, yaitu orang-orang yang resah akan penderitaan umat serta melakukan kerja-kerja dan kontribusi riil untuk perbaikan ummat adalah hal yang bisa dijadikan sudut pandang gerak politik kampus. Kontribusi riil dan menjadi wadah pembelajaran pelbagai hal adalah politik kampus riang gembira bukan huru-hara.
.
Manifestasi huru-hara politik kampus merupakan masalah bersama, stagnasi politik kampus antara ideal dan realita yang terjadi adalah dua hal yang bertolak belakang. Proses merupakan hal yang harus ditekankan tanpa mengesampingkan hasil. Hadir ikut serta merubah huru-hara menjadi riang gembira dalam manifestasi politik kampus adalah kehendak yang harus tertanam di dalam hati dan dijalankan secara kolektif.
.
Terciptanya politik kampus yang layaknya di alegorikan Plato sebagai gua yang merupakan dunia idea adalah sebuah pekerjaan bersama dirimu, diriku dan dirinya. Seperti halnya Hasan Al-Banna berkata “ Muslim tidak akan sempurna keislamanya kecuali setelah menjadi seorang politisi yang memerhatikan urusan umatnya dan bersemangat membelanya.”
.
Maka dari itu
.
Marilah kawanku, marilah bersamaku
.
Biarkan politik kampus menghiburmu
.
Ayo belajar politik kampus bersamaku
.
Bebaskan hatimu
.
Simpan saja gengsimu
.
(Petikan lagu goyang duyu Project POP, dengan sedikit banyak dicocokan dan diganti dengan kebutuhan tema tulisan)
.
Referensi :
1. Soe Hok Gie, “Catatan Seorang Demonstran”, LP3S : Jakarta. 2005
2. Hasan Al-Banna, “Risalah Pergerakan Al-Ikhwan Al-Muslimin I”, Era Adicitra Intermedia : Surakarta. 2006
3. Syeikh Mushthafa Masyhur, “Fiqih Dakwah Jilid I”, Al-I’tishom Cahaya Umat : Jakarta. 2015
4. Rif’an Anwar, “Si Buta dari Gua Plato dan 99 Anekdot Filsafat Lainya”, Kanisius :Yogyakarta. 2011
5. Ali Syariati, “Ideologi Kaum Intelektual : Suatu Wawasan Islam”, Penerbit Mizan : Bandung. 1990

Cerita Dari Semarang : Perjuangan Dulur-dulur Petani Kendeng!

Muhammad Rizki A

Melihat handphone menyala. Ternyata ada pesan masuk dari seorang kawan. Mahasiswa Universitas Diponegoro, sama-sama asal Klaten sih. “Mas, besok puncak aksi petani kendeng, mangkat semarang yo?”. Bingung dan bimbang. Baru aja nyampe rumah dari Solo, besok diajak ke Semarang. Ah biarlah. Saya balas, “Gas, Mangkat mas”. Karena saya pikir wong petani kendeng jalan kaki dari Rembang sampai Semarang aja kuat kok.

Pagi tak lupa berpamitan orang tua. Karena saya percaya ridho orang tua adalah ridho Allah. “Bu, Pak. Badhe pamit datheng Semarang”, Pamit Saya. “Ngopo le? Karo sopo?”, jawab ibu Saya. “Biasanipun buk. Hehe. Kalih rencang saking Undip”, ketika bilang biasanipun atau biasanya, sudah paham. Karena biasanya ketika mau berangkat aksi atau hanya nonton aksi minta izin orang tua dulu. Hehe. “Yowis, ati-ati”, kata ibu Saya. Meluncur dengan teman setia. Sepeda Motor abu-abu.

Sampai. Para petani kendeng sudah memulai aksinya sejak 30 hari. 30 hari Gubernuran tak dikasih longgar. Dari mulai mereka longmarch dari Rembang sampai Semarang. Bisa dikira-kira jauhnya. Berlanjut dengan menginapnya ibu-ibu petani kendeng didepan Gubernuran. Awalnya mendirikan tenda di depan pintu gerbang, lalu di gusur sedikit kesamping, tidak lagi di depan pintu gerbang. Oke. Ibu ibu ini masih menerima. Kemudian apa? Tenda mereka di bongkar paksa. Namun, alangkah terketuknya hati kawan-kawan yang ada di Semarang memberikan payung untuk berteduh dari teriknya matahari dan guyuran hujan. Dan puncaknya adalah kemarin, 17 Januari 2016. Dulur-dulur petani Kendeng meninggalkan Gubernuran setelah 30 hari bermalam.

Sejak tahun 2012 dulur-dulur kendeng melawan. Jalur apapun mereka tempuh. Hingga akhirnya pun jalur hukum pun juga ditempuh. Karena perjuangan memang tak kenal lelah dalam hal kebaikan. Akhirnya dulur-dulur petani kendeng ini dimenangkan oleh putusan MA yang mengharuskan dan memaksa (karena sudah inkracht) Gubernur Jawa Tengah untuk mencabut izin lingkungan PT. Semen Indonesia (yang awalnya PT. Semen Gresik yang SK nya sudah dicabut yang diganti dengan PT. Semen Indonesia). Seharusnya sebagai pemimpin yang baik. Pemimpin yang katanya “Tuanku adalah Rakyat, Gubernur adalah Mandat”. Tapi seperti tidak ada iktikad baik dalam menjalankan putusan MA ini. Dibuktikan baru sehari sebelum batas waktu yang ditetapkan MA (60 hari) untuk mancabut izin tersebut, baru yang katanya Pelayan Rakyat ini memenuhi putusan MA, tepatnya pada 16 Januari 2016 dengan Surat Keputusan Gubernur No.6601/4 tahun 2017 tertanggal 16 Januari 2017 Tentang Pencabutan Keputusan Gubernur No. 660.1/30 tahun 2016 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan Bahan Baku dan Pembangunan serta Pengoperasian Pabrik Semen PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Namun, ketika kita lihat lagi lebih dalam dalam SK yang dikeluarkan oleh pak Ganjar ini, Poin 1 memang sudah seperti yang diharapkan yaitu “Menyatakan batal dan tidak berlaku” keputusan Gubernur No. 660.1/17 tahun 2012 tanggal 7 Juni 2012 sebagaimana telah diubah oleh Keputusan Gubernur Jawa Tengah No. 660.1/30 tahun 2016 tanggal 9 November 2016 tentang Izin Lingkungan Penambangan Bahan Baku Semen dan Pembangunan serta Pengoperasian Pabrik Semen PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk di Rembang. Yang berartikan bahwa segala izin Pabrik Semen tersebut batal dan tidak berlaku mulai SK tersebut keluar. Kita lihat lebih dalam lagi di poin kedua dan seterusnya, di situ dinyatakan bahwa berdasarkan putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung, Gubernur memerintahkan kepada PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk untuk menyempurnakan dokumen adendum Andal dan RKL-RPL. Selain itu, Komisi Penilai AMDAL Provinsi Jawa Tengah untuk melakukan proses penilaian dokumen adendum Andal dan RKL-RPL, yang saat ini sedang berlangsung untuk memenuhi Putusan Peninjauan Kembali No. 99/PK /TUN/2016 tanggal 5 Oktober 2016. Nah disini terlihat begitu aneh dan ganjil. Lha wong dalam putusan MA itu mencabut segala izin Pabrik Semen, Lha kok ini seperti ini. Ya, berartikan kalau seumpama syarat-syarat yang ditentukan dalam SK tersebut dipenuhi oleh Pabrik Semen ya sama aja to dapat izin lagi buat nambang lagi, terus dulur-dulur Petani Kendeng ini nanti nasibnya bagaimana?

Memang SK Gubernur ini, seakan terlihat bermata dua dan sarat siasat. Seolah-olah memenuhi putusan MA untuk mencabut segala bentuk izin dari Pabrik Semen, tapi di sisi lain memberikan kesempatan untuk Pabrik Semen melengkapi segala berkasnya dan ketika sesuai dengan SK tersebut maka kemungkinan besar akan ada izin lagi untuk Pabrik Semen. Apa-apaan ini?

Karena begitu baiknya hati dulur-dulur petani Kendeng, mereka pun beri’tikad baik menyambut keputusan dari Gunernur Jawa Tengah ini. Mereka masih menerima dan ber- husnudzon dengan apa yang telah dilakukan dan diputuskan oleh Gubernur, pelayan Rakyat. Begitu baiknya hati mereka, setelah perlakuan yang kurang memuaskan oleh sang “Pelayan Rakyat”. Semoga perjuangan dulur-dulur petani Kendeng ini tidak sia-sia, dengan kebaikan dan kelembutan hati mereka.

Bagaimana seorang rakyat yang masih mau menghormati “Sang Pelayan Rakyatnya”, tidak seperti “Sang Pelayan” yang menginjak-injak rakyatnya. Saya percaya bahwa ketika kebaikanlah yang diperjuangkan niscaya keberhasilan pun akan datang dan kedzalimanpun tertumpas. Seperti yang dilakukan dulur-dulur petani Kendeng yang tanpa henti memperjuangkan setiap kebaikan yang merupakan hak-haknya yang tertindas oleh penguasa. Lanjutkan perjuangan! Karena nafas dan umur perjuangan di negeri ini, di alam Kendeng, dan yang membersamai dulur-dulur petani Kendeng masih sangat panjang! Kendeng Lestari!

Yah. Pulang hujan-hujan dari semarang sampai klaten. Brrr. Adem lur!