MOSI TIDAK PERCAYA

Ini masalah kuasa, alibimu berharga
kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?

kamu tak berubah, selalu mencari celah
lalu smakin parah, tak ada jalan tengah

ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya
ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya

Penggalan lirik lagu Mosi Tidak Percaya dari Efek Rumah Kaca seakan menggambarkan suara para petani desa Sukamulya, Majalengka, Jawa Barat. Rasa-rasanya sudah sejak 5 hari berlalu sejak peristiwa percobaan pendudukan paksa aparat bersenjata dari yang berbaju coklat, hijau loreng hingga aparat sipil yang berlagak militer terjun langsung ke lahan sawah yang kotor dan becek dengan membawa senjata lengkap memukul, menyiksa hingga menangkap secara brutal bak anjing hutan berebut daging.

Ini soal kuasa, ini soal kepentingan public untuk kesejahteraan bersama. Padahal kepentingan pemilik modal saja yang dipuja, ailbi yang tak lebih hanya sampah. Mari sedikit kembali kepada Sejarah.

Pada tahun 1960 diterbitkan SK Menteri Agraria memberikan kembali tanah-tanah tersebut kepada perkebunan Tjikoelang dengan hak guna usaha (HGU) selama 35 tahun, kecuali tanah yang merupakan jalan umum seluas 8,285 Ha tanah-tanah yang diduduki rakyat seluas 94,930 ha, dan tanah-tanah yang diperlukan oleh Angkatan Udara seluas 36.600 Ha. SK ini memberikan hak pengelolahan yang sah kepada TNI AU (36,6 Ha). Demikian terus hingga konflik ini semakin parah seiring dengan semakin diperkuatnya posisi TNI oleh rejim Orde Baru. Serangkaian kebijakan dan perpanjangan kontrak perkebunan juga dikeluarkan oleh pemerintah. Pada tahun 1984, terbit SK Mentri Dalam Negeri yang memberikan perpanjangan HGU selama 35 tahun kepada Perkebunan Tjikoleang kecuali tanah seluas 108,5250 Ha yang diperuntukan untuk keperluan LAPAN, Pemerintah Daerah Tingkat ll Bogor dan Pemerintah Desa.

Kaum Tani dan warga Desa Sukamulya semakin tertindas seiring semakin meluasnya kekuasaan tanah yang dilakukan oleh TNI AU. Warga desa semakin menjadi-jadi penderitaanya ketika TNI AU pada tahun 2003 melakukan klaim atas seluruh tanah di Desa Sukamulya seluas 1000 Ha, hal ini dilandasi dengan SK KSAP tahun 1950. Usaha-usaha picik digunakan TNI untuk mencekal perjuangan sukamulya yang salah satunya melakukanpelarangan/pemblokiran proses sertifikasi tanah rakyat di Kabupaten Bogor. Akibatnya,warga tidak bisa mengurus dan memiliki sertifikat tanahnya yang sudah dikuasai mereka secara turun-temurun itu. Puncaknya pada tahun 2007, TNI AU melalui kementerian pertahanan mengajukan registrasi tanah di Sukamulya sebagai kekayaan milik negara di kementrian keuangan RI. Kemenkeu kemudian meregistrasi tanah seluas 1000 Ha di Desa Sukamulya dengan Nomor Register 5053007 seluas 450 Ha dan nomor Register 5053008 Ha seluas 550 Ha tanpa adanya musyawarah dengan warga. Semua diperuntukan bagi TNI AU untuk membangun lapangan terbang, water training, dan bangunan penunjangnya.

Secara sudut pandang hukum dan sosio-historis tanah, seluruhnya menunjukan bahwa tanah adalah sepenuhnya milik rakyat Desa Sukamulya. Sementara yang menjadi landasan argumentasi TNI AU hanyalah SK KSAP Tahun 1950 untuk mengklaim 1000 Ha tanah desa Sukamulya. Sedangkan secara sosio-historis telah menunjukkan bahwamasyarakat desa telah menduduki tanah Sukamulya jauh sebelum adanya TNI AU bahkan sebelum berdirinya negara Indonesia.

Sejarah tertulis tahun 1888 Petani di Banten menjadi katalis pemberontakan yang dilakukan kepada aparat pemerintah dikarenakan factor agama. Namun dewasa ini, Petani Sukamulya siap melawan bila kesewenang-wenangan aparat melakukan pendudukan paksa hanya untuk melihat Burung Besi terbang di Jawa Barat. Sejarah acapkali bukan hanya milik yang berkuasa, tapi milik orang kecil yang berani melawan ketidakadilan.

“Hei nak habiskanlah nasimu bila tidak, marahlah dewi sri kepadamu !” Ketika kecil teringat akan nasihat ibu tentang pentingnya nasi. Lebih dari itu ini soal perjuangan seorang manusia yang memelitir tubuhnya, membanting tulangnya, mencelupkan raganya dalam kotornya lumpur hanya untuk kedalam sepetak tanah yang mereka bilang kotor tak guna. Tapi mereka yang angkat senjata naksir juga. Mereka yang bersenjata tak lebih sama dari singa kurus pemakan bangkai kelompoknya sendiri……cuihh . “Hei nak, habiskan nasimu, sebelum tanah dan rumah kita jadi aspal kapal terbang !”
Pendudukan paksa yang dilakukan pemerintah melalui aparat keamanan, bukanlah jalan keluar. Pengambil alihan secara represif hanya akan merusak setiap hati rakyat (warga sukamulya) yang mana adalah tuan tanah sesungguhnya. Perlu adanya kemauan pemerintah untuk dapat menghormati rakyat dalam setiap keputusan. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah seharusnya dapat menjadi oase disetiap gurun yang gersang yang menciptakan kesejahteraan, bukan malah sebaliknya merampas kesejahteraan rakyat hanya untuk kenikmatan pemodal asing. Bila memang pemerintah ngotot untuk merebut tanah dan rumah warga yang sah, maka jangan salahkan suara-suara perlawanan menghantui sepanjang perjalanan bak mimpi buruk setiap tidurmu yang nyaman.

INI MOSI TIDAK PERCAYA, KAMI TAK AKAN (PERNAH) LAGI DIPERDAYA

Farkhan Ramadhana
Mahasiswa

KOTA SURAKARTA DAN PEMIMPINNYA

agenda-acara-kota-solo-bulan-desember-2013

Berdasarkan data terbaru yang saya akses dari Badan Pusat Statistika kota Surakarta Penduduk kota Surakarta pada tahun 2014 saja kurang lebih sekitar 510.077 jiwa. Dua tahun yang lalu sih. Kemungkinan juga jumlah penduduknya meningkat kurang lebih 5.000 jiwa. Semoga 510.077 lebih penduduk, masyarakat, rakyat kota Surakarta sejahtera dan makmur. Semoga.
Pemimpin Yang Baik

Pemimpin. Kata pemimpin dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pe·mim·pin (n) yaitu orang yang memimpin. Menurut beberapa ahli yang sempat saya baca, salah satunya menurut Kartini Kartono, Pemimpin, seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan (Kartini Kartono 1994 : 33). Lalu satu lagi dari Henry Pratt Faiechild, Pemimpin dalam pengertian ialah seseorang yang dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan dan posisi. Dalam pengertian yang terbatas, pemimpin ialah seorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan ekseptansi/penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya. (Henry Pratt Faiechild dalam Kartini Kartono (1994: 33)). Dapat saya simpulkan bahwa Pemimpin adalah seorang dalam yang mempunyai kemampuan memimpin, mengatur, membimbing, dan mengorgaisir anggotanya untuk mencapai suatu tujuan yang baik..

Pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik haruslah mampu memberi keputusan yang tepat dan diambil mengutamakan khalayak orang banyak bukan sekedar condong pada kepentingan golongan atau bahkan kepentingan pribadi. Lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas bagi seorang pemimpin dalam menjalani kepemimpinanya. Selain itu, juga tidak kalah penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah mendahulukan untuk mencegah timbulnya keburukan dibandingkan mencari kebaikan. Pemimpin yang baik juga dituntut mampu memahami permasalahan yang ada dari berbagai aspek, sebab setiap keputusan yang diambil dalam jangka waktu panjang maupun pendek terdapat dampaknya. Lalu, pemimpin yang baik dituntut memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan permasalah-permasalahan dengan baik dan bisa mengemasnya agar tidak menjadi kekhawatiran bagi anggota yang dipimpinya. Dan satu lagi pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau menemui rakyatnya, masyarakatnya, penduduknya yang ingin mengadukan permasalahan yang di deritanya.

Pemimpin Kota Surakarta

Pemimpin kota Surakarta, Walikota Surakarta, F.X. Hadi Rudyatmo bersama wakilnya, pemimpin hasil pilkada serentak pada tahun 2015 yang tentunya memang “dipilih” langsung oleh seluruh rakyat kota Surakarta yang juga memang “menghendaki” dia yang menjadi pemimpin. Dialah pemimpin yang akan memimpin kota Surakarta selama satu periode ini, yang dilantik sejak 17 Februari 2016 silam. Sebelumnya juga “Pak Rudy”, sapaan akrab Walikota Surakarta ini oleh “rakyatnya” pernah menjadi Walikota Surakarta ketika menggantikan Jokowi pindah ke Jakarta. Setidaknya sudah satu periode memimpin kota Surakarta, setidaknya sudah tahu seluk beluk dan akar permasalahan yang ada di kota Surakarta, dan setidaknya lebih dekat lagi dengan masyarakat, maupun akademisi (mahasiswa) yang sangat-sangat mencintainya. Tapi apa daya? Ketika teman-teman Mahasiswa pada tahun 2015 ingin mengundang pemimpin kota Surakarta ini untuk menghadiri acara debat calon walikota Surakarta pun masih belum mau. Apakah kami teman-teman mahasiswa ini menakutkan? Kemudian, di tahun 2016, setelah menjadi Walikota Surakarta, pemimpin, atau malah penguasa ini kami, teman-teman Mahasiswa mengundang dalam acara yang bertajuk Rembuk Kota Solo, sangat kecewanya hati saya pribadi ketika mendengar dan mengetahui ketika Pemimpin kota Surakarta ini sudah hadir namun selang beberapa menit Ia pergi tanpa alasan yang jelas. Alangkah kecewanya. Hanya ingin mempertemukan antara pemimpin dan rakyatnya yang ingin menyampaikan keluh kesahnya, bukan niatan untuk membenturkan kepentingan kok tidak mau. Apakah ada yang salah dengan sang pemimpin? Apakah ada yang disembunyikan dibalik semuanya?

Langkah yang ditempuh untuk selanjutnya mencoba menghubungi sang pemimpin, awalnya berjalan lancar. Oke. Sang pemimpin mau untuk diadakan Rembuk Kota Solo Jilid II. Namun lagi-lagi dikecewakan. Ketika mencoba menemui untuk menanyakan kedepannya seperti apa tapi sang ajudan memberikan jawaban yang sekali lagi membuat kecewa. Sang pemimpin tidak mau untuk mengadakan Rembuk Kota Solo Jilid II. Lah katanya mau? Kok jadi seperti ini. Tidak ada niatan untuk membenturkan sang pemimpin dengan rakyatnya, tapi hanya ingin mempertemukan dan menjembatani rakyat yang ingin mengadukan keluh kesahnya. Apakah memang ada yang disembunyikan dibalik ini semua? Sampai-sampai sang pemimpin pun selalu menghindar untuk bertemu dengan rakyat dan mahasiswa. Apakah pemimpin kota Surakarta sudah menjadi pemimpin yang baik? Apakah sudah mampu memberikan keputusan yang tepat sesuai konsekuensinya? Apakah sudah mengutamakan kepentingan umum dariada kepentingan pribadi? Apakah sudah mampu permasalahan dan mampu memandang permasalahan itu dari berbagai aspek? Dan yang terakhir Apakah sang pemimpin sudah mau menemui rakyatnya, masyarakatnya, penduduknya yang ingin mengadukan permasalahan yang di deritanya? Untuk yang terakhir ini saya katakan Belum sama sekali Belum. Pak Ridwan Kamil Walikota Bandung, kemudian Pak Bima Arya Walikota Bogor saja berani kok dan mau bertemu dengan mahasiswa. Kota Surakarta, kota yang berbudaya, memiliki semboyan yang bagus, slogan yang hebat, rakyat yang leih dari 500.000 tidak kalah besarnya dengan Kota Bandung dan Bogor. Jangan sampai bapak, sang pemimpin kota Surakarta menutup mata, telinga, dan hati anda.

Muhammad Rizki Almalik
Jaringan dan Aksi
BEM UNS 2016

DONGENG ORANG NO 1 DI KOTA SOLO(EA)

Istana Raja

Istana Raja

Pada suatu zaman ada raja di suatu kota yang bernama Soloea, alkasih sang orang no satu itu diceritakan adalah sosok pemimpin yang bijaksana, ramah, dan solutif atas segala permasalahan-permasalahan yang ada, kebijakanya pun selalu pro rakyat.Pemimpin wong cilik begitu sebutanya, dengan berbgai macam tagline sebut saja WAREG, WARAS, WASIS semakin menguatkan bahwa sang raja adalah sosok yang pro rakyat.Sang pemomong rakyat begitupun sebutanya, selalu terbuka dan selalu menemui elemen yang mempunyai kritik ataupun saran adalah hal pasti yang ia lakukan setiap saat.

Begitulah dongeng Orang no 1 Di Kota Soloea, sebuah dongeng yang terlihat inspiratif bagi sosok pemimpin yang menjadi sosok no 1 di suatu kota.Berbagai macam kelebihan tanpa ada kekurangan di dirinya adalah hal yang wajar dimuat di sebuah dongeng yang biasa diceritakan pada anak-anak yang masih polos sebelum beranjak tidur.

Namun dongeng tetaplah sebuah dengeng dengan berkaca dari pengertian dongeng adalah suatu cerita fiktif yang menggambarkan suatu kejadian dimana cerita tersebut dianggap masyarakat suatu hal yang tidak benar-benar terjadi.Suatu cerita yang tidak benar benar terjadi adalah penakanan yang saya tekankan disini, sebuah cerita untuk anak-anak polos sekedar untuk penghantar tidurnya.Cerita dongeng orang no 1 di kota Soloea yang mencitrakan tokoh utama sang orang no1 dengan kelebihan-kelebihanya bagai seorang manusia setengah dewa adalah hal naif.

Namun apakah dongeng orang no 1 di kota Soloea bisa terjadi di dunia nyata adalah pertanyaan yang kini menjadi perdebatan.Mungkin jelas jawabanya adalah suatu ketidakmungkinan ada seorang no 1 yang mempunyai kelebihan-kelebihan layaknya diceritakan di dongeng orang no 1 di kota Soloea.Pada faktanya seorang pemimpin sekarang adalah sosok yang dicitrakan oleh kebanyakan media menjadi sosok seperti tokoh di dongeng.Realitanya kebanyakan sang pemimpin adalah sosok yang ramah hanya mempermanis tipu muslihatnya, sosok yang solutif jikalau ada kepentingan di belakangnya.

Sebutan pemimpin wong cilik dan pro rakyat adalah suatu impian belaka jikalau pada faktanya banyak rakyat kecil yang ingin mengadu namun ditolak, sedangkan di sisi lain investor investor yang pro kepentinganya diterima dengan senyuman menawan.Tagline indah di dongeng hanya kata kata manis di kehidupan nyata, sarana untuk meraup dukungan adalah hal utama dari fungsi tagline-tagline indah.

Menemui elemen-elemen yang akan mengutarkan kritik dan saran susah untuk direalisasi adalah hal yang biasa terjadi.Dua sisi dongeng dan realita yang seharusnya kini menjadi sorotan seluruh elemen masyarakat.Antara harapan dan kenyataan terjadi suatu kesenjangan di era seperti ini.Jika dongeng orang no1 di kota Soloea seperti itu, jikalau kita mau bandingkan antara negri dongeng Soloea dengan kota nyata seperti Solo adakah persamaan keadaan realitasnya???

Justru jika melihat keadaan kota Solo saat ini adalah sebuah anomali dari keadaan negri dongeng Soloea. Berbagai macam persoalan meruak ke permukaan satu persatu. Dimulai dari permasalahan hilir sampai kepada permasalahan hulu, seperti terbengkalainya TPA Putri Cempo, Kebijakan Sistem Satu Arah Laweyan, Hingga sampai janji palsu pembangunan shelter PKL Gerobak Kuning. Kesemuanya merupakan sebuah permasalahan yang menyangkut hidup wong cilik hingga sampai keberjalanan lebih dari satu tahun Orang no 1 di kota Solo memimpin ternyata tidak mampu diselesaikan bahkan cenderung mengarah tidak pro wong cilik.

Bila kita menilik kembali dan membandingkan dongeng orang no 1 kota Soloea dengan kota Solo. APAKAH KOTA SOLO MEMILIKI PEMIMPIN DENGAN SIFAT SOLOEA YANG PRO RAKYAT ATAU ITU HANYA ANGAN DONGENG SEMATA ?

Muhhamad Shidiq Fathoni,
Jaringan dan Aksi
BEM UNS 2016

Ketika Masyarakat Memilih

Pilihan?

Di senja itu berbagai kegiatan terasa begitu bergejolak, penuh akan ketidakpastian dan ironi yang begitu beratnya. Masyarakat Surakarta seakan menjadi satu diantara berbagai elemen konflik yang terasa penuh akan lika liku, penuh akan permasalahan, dan penuh akan ketidakpuasan. Apakah itu yang dirasakan oleh bapak penguasa Kota Surakarta kita yang tercinta? Kita tidak tau pasti apa yang dirasakan namun pertanyaan dan pernyataan muncul langsung dan mengalir begitu derasnya.

Ibarat bola salju yang menggelinding semakin lama semakin besar, semakin kuat untuk menyerang apa saja yang ada dibawahnya, opini yang tidak pasti semakin kuat dan semakin menyerang siapa saja yang tidak percaya, sebuah doktrin mampu dengan luasnya menyebar sehingga seolah olah mereka percaya bahwa sebuah hal yang tidak benar merupakan sebuah fakta sehingga merugikan berbagai pihak, apakah itu yang diinginkan Penguasa kota Surakarta?

Bukan sekedar mencari kebenaran, karena kebenaran hanya datang dari Yang Maha Kuasa, bukan hanya sekedar bercakap, yang benar datangnya hanya dari penguasa, masyarakanpun tidak bisa mengetahui kebenaran walau mereka merana sekalipun. Mahasiswa bukan sekedar perusak suasana indah masa masa kepemimpinan, namun mahasiswa adalah salah satu wadah masyarakat untuk berpendapat. Siapa lagi yang mampu memasuki wilayah ber-AC, meja kursi kerja, serta rak buku sebagai hiasan ruangan tempat Walikota bekerja, dan tempat panas terik, penuh akan debu dan polusi sebagai wilayah demonstrasi.

Janji indah pada masa indah, membuat mereka lupa akan hakikat mereka untuk memperindah senyuman para insan, membuat semua penasaran kenapa yang sekarang ada bisa jadi sebuah penyesalan, itupun jika mereka mendengar dan merasakan, karena pemimpin yang mereka cintai dan banggakan, dengan mengecewakan meninggalkan sebuah pertemuan.

Kepada pemimpin yang terhormat mahasiswa adalah kawan anda, dan masyarakat adalah rakyat anda, kami butuh lebih dari janji anda, sebagai seorang pemimpin, dan sebagai orang yang terhormat.

Masyarakat ingin merdeka, entah sampai kapan, sampai saat itukah kiamat tiba?

Ramzy Aprialzy
Jaringan dan Aksi
BEM UNS 2016

PERJUANGAN ITU TERUS BERLANJUT KAWAN !

13173284_1588403134822335_5204610757907111780_o

Tak ada kata selesai dalam sebuah kamus perjuangan. Segala sesuatu yang telah dimulai bersama, tak bisa terhenti ketika berada di tengah perjalanan. Kemarin sekitar 1 minggu yang lalu, dengan bersama dan serentak secara nasional kita telah mengawal mengenai permasalahan pendidikan tinggi. Permasalahan yang ada baik berupa kenaikan UKT, dicabutnya beasiswa BPP-PPA hingga berkurangnya kuota bidikmisi dan berbagai masalah-masalah yang ada lainnya.

Permasalahan-permasalahan tadi sudah ada dan nyata didepan mata kita kawan, pada 2 mei kemarin kita telah menyuarakan aspirasi dan idealisme kita mengenai permasalahan dan hak seorang mahasiswa yang dihilangkan secara sewenang-wenang oleh pemerintah yang dalam hal ini adalah Kemenristekdikti. Suara dan hasil kajian BEM UNS yang dalam hal ini bertindak sebagai Koorsu pendidikan BEM SI telah diterima oleh perwakilan Kemenristekdikti di Jakarta. Berkat keteguhan hati dan memperjuangkan suara-suara penindasan yang dialami mahasiswa hasilnya adalah pemerintah (Menristekdikti) mengundang perwakilan BEM SI dan Koorsu Pendidikan BEM UNS untuk hadir dalam audiensi yang akan diselenggarakan di kantor Kemenristekdikti. Secara terbuka Menristekdikti juga mengundang para Rektor yang bersangkutan untuk “mendampingi” perwakilan Mahasiswa. Audiensi akan dilaksanakan pada hari Selasa, 10 Mei 2016. Pada audiensi ini, BEM UNS selaku Koorsu Pendidikan yang saat ini concern terhadap masalah pendidikan tinggi dan nasib mahasiswa UNS pada khususnya menyatakan komitmen kami untuk terus memperjuangkan nasib-nasib mahasiswa yang tertindas dan dicabutnya hak-hak kita untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi.

Untuk itu BEM UNS memohon doa dukungan dari teman-teman mahasiswa untuk terus membersamai BEM UNS memperjuangkan hak-hak mahasiswa. Mari bersama kita melakukan aksi nyata untuk memperjuangkan nasib pendidikan tinggi kita, nasib hak-hak kita sebagai mahasiswa, nasib berjuta-juta calon mahasiswa yang ingin merasakan empuknya bangku kuliah. Mari kita terus mengawal segala kebijakan Kemenristekdikti mengenai pendidikan tinggi.

Sebuah perjuangan membutuhkan konsistensi pemikiran, pengorbanan tenaga dan waktu serta kesolidan kekuatan dan dukungan untuk menyuarakan sebuah permasalahan. Permasalahan pendidikan tinggi yang notabene adalah ranah mahasiswa, sudah seharusnya menjadi medan perjuangan kita, kawan ! Jadi mari kita bergandeng tangan menyatukan suara TOLAK KENAIKAN UKT, KEMBALIKAN BEASISWA BBP-PPA, TOLAK KOMERSIALISASI KAMPUS !

Salam dari kami, salam cinta atas nama perjuangan

HIDUP MAHASISWA ! HIDUP MAHASISWA ! HIDUP RAKYAT INDONESIA !

BEM UNS 2016
Inisiator Perubahan
——————————
FB : BEM UNS
TWITTER : @bemuns
IG : @bemuns
LINE : @emi4057n
WEB : bem.uns.ac.id

REALITA PENDIDIKAN TINGGI NEGERI DI INDONESIA

ibu nak REALITA PENDIDIKAN TINGGI NEGERI DI INDONESIA..

“Nak, kuliah di negeri saja ya agar lebih murah”

Mungkin hampir semua orangtua di Indonesia mengharapkan anaknya kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN), karena para orang tua menggangap bahwa kuliah di PTN merupakan sebuah anugerah bagi kesulitan ekonomi yang di hadapi saat ini, dengan biaya kuliah yang murah sehingga tak memberatkan mereka sebagai orang tua namun dalam realita sebenarnya Pendidikan tinggi negeri di Indonesia kian hari semakin tak berpihak pada rakyat kecil, mulai dari kian melambungnya UKT (uang kuliah tunggal), polemik perubahan perguruan tinggi negeri menjadi perguruan tinggi negeri berbadan hukum yang memiliki berbagai permasalahan, hingga anggaran pendidikan tinggi tahun 2016 yang mengalami penurunan. merupakan sebuah pembuktian bahwa pendidikan tinggi di Indonesia masih belum berpihak pada rakyat kecil, di lain sisi pemerintah sedang giat-giat nya membangun infrastruktur Indonesia dengan konsep NAWACITA-nya, karena mungkin sebuah indikator Negara dianggap maju dewasa ini adalah panjangnya jalan tol ,banyaknya pelabuhan atau kereta api yang bisa melaju super cepat agar dapat mengatasi kemacetan, bukan dari berapa banyak warganya dapat mengenyam pendidikan bukan hanya  pendidikan wajib 9 tahun namun juga dapat merasakan bangku perkuliahan, namun nampaknya pendidikan saat ini bukan prioritas utama pemerintahan kita, meskipun kita perlu ingat bahwa dalam NAWACITA salah satu dari 9 agenda prioritas pemerintahan kita adalah meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan namun mungkin Indonesia akan terlihat sedikit maju bila infrastruktur-nya dapat bersaing dengan Negara maju lainnya .

UKT atau uang kuliah tunggal yang pada awal pemberlakuannya di gadang-gadang akan memberikan keringanan pembayaran pada mahasiswa, karena mahasiswa tidak lagi dituntut membayar uang pangkal dan uang gedung karena sudah menjadi satu paket pembayaran dalam UKT, ternyata malah makin memberatkan mahasiswanya.  PTN dengan dalih meningkatnya inflasi di Indonesia dengan semena-mena menaikan ukt hingga 5-7 persen tiap tahunnya, meskipun dalam keberjalannya universitas diberikan bantuan operasional perguruan tinggi negeri atau BOPTN agar mahasiswa dapat membayar UKT lebih ringan, namun tetep saja mahasiswa merasa UKT memberatkan bagi mereka karena selalu naik dan jarang sekali turun. hal ini menyebabkan para orang tua yang memiliki penghasilan minim harus bekerja ekstra keras dan terkadang para mahasiswa harus bekerja paruh waktu guna membantu orang tua nya membayar uang kuliah, hal ini merupakan hal yang miris saat mahasiswa dituntut pihak universitas untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu namun di lain sisi mereka harus membiayaai kuliahnya dengan bekerja paruh waktu yang tak jarang mengorbankan tugas kuliahnya dan mungkin untuk mengembangkan diri dalam organisasi. belum lagi masalah transparansi UKT banyak  mahasiwa bertanya-tanya kemana perginya uang yang mereka bayarkan, karena UKT yang menurut pihak pimpinan universitas UKT adalah untuk pembiayaan semua keperluan mahasiswa itu sendiri, dalam kegiatan belajar-mengajar  namun dalam kenyataannya miris karena untuk belajar saja mahasiswa harus berebut kelas karena keterbatasan kelas yang ada atau tempat kelas yang tak nyaman yang tak jarang bocor saat hujan sehingga menganggu proses pembelajaran, lalu kemanakah UKT itu tersalurkan hanya TUHAN dan pengambil kebijakannlah yang tahu.

Sementara itu beasiswa bidikmisi yang sangat diharapkan oleh calon mahasiswa kurang mampu agar dapat berkuliah  semakin lama semakin turun jumlah kuota-nya, ditiap universitas hingga 50 % penurunannya  karena pemerintah berdalih semakin banyaknya perguruan tinggi negeri di Indonesia maka semakin banyak pula mahasiswa yang harus menerima beasiswa bidikmisi ini,sehingga pemberian beasiswa ini di setiap universitas harus dipangkas.  Selain itu beasiswa PPA 2016 yang diharapkan oleh mahasiswa berprestasi untuk sedikit membantu membayar uang kuliahnya namun masih simpang siur apakah akan diadakan lagi.

Permasalahan dalam PTNBH atau perguruan tinggi negeri berbadan hukum termasuk salah satu permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa perguruan tinggi negeri karena keleluasan yang diberikan pemerintah pada PTNBH untuk mengelola sendiri keuangannya yang dimiliki, menyebabkan liberalisasi pendidikan nampak jelas didepan mata para mahasiswa, ideologi liberal yang memiliki kelemahan yaitu akan adanya monopoli yang dilakukan oleh pemilik kekuasaan nampaknya menular juga pada perguruan tinggi negeri berbadan hukum, karena keleluasan yang dimiliki PTNBH sehingga pemimpin universitas dapat memberikan kebijakan yang memberatkan mahasiswa nya dengan menaikan UKT sesuka hati, agar dapat membantu pembiayaan membangun hotel,mall atau showroom mobil, namun anehnya dengan banyaknya permasalahan dalam format baru perguruan tinggi negeri ini, menristek dikti masih saja mendorong agar perguruan tinggi negeri berubah menjadi perguruan tinggi negeri berbadan hukum, karena mungkin PTNBH yang dapat mencari uang sendiri, tidak akan memberatkan APBN negara sehingga pemerintah tak perlu mengeluarkan terlalu banyak anggaran pendidikan untuk perguruan tinggi.

Sudah saatnya pemerintah kembali membaca sejarah panjang perjuangan para pahlawan pendidikan Indonesia, ki hajar dewantara yang menghabiskan seluruh hidupnya agar semua rakyat Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak, meskipun harus mati karena di anggap menentang penjajah yang mengharapkan rakyat Indonesia untuk tetap bodoh atau tan malaka yang berusaha untuk mencerdaskan anak bangsa yang saat itu sedang terjajah, meskipun akhirnya membuat dia harus di penjara, meyedihkan saat Indonesia tak lagi terjajah saat kita dapat mencerdaskan rakyat kita karena tak ada lagi penjajah yang berharap kita untuk tetap bodoh namun pemerintah kita melupakan kesempatan itu dan membuat pendidikan adalah hal yang mahal bagi rakyatnya.

By : Syeh Adni/ Kementrian Kajian Strategis /BEM UNS 2016

 

Ketika Pemuda (Yang) Membangun Bangsa

pangeran diponegoro

Pemuda adalah ujung tombak masa depan bangsa, pemuda adalah sang nakhoda kapal pembawa arah bangsa ke suatu pelabuhan kejayaan, dan pemuda adalah sebuah pedang bermata dua yang bisa saja menjadi harapan atau sebaliknya menjadi suatu bencana bagi bangsanya.Beribicara soal pemuda tergiang jelas kata kata salah satu proklamtor bangsa, Ir.Soekarno.

Beri saya 1000 orang tua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri saya 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia

Kata-kata dari seorang proklamator bangsa layaknya dapat menjadi pengguat argumen bahwasanya benar adanya pemuda adalah aspek pokok kejayaan sebuah bangsa, pengguat argumen bahwasanya benar adanya bahwa karakter pemuda adalah cerminan bangsa.Pemuda, ada dua kata penuh makna yang terlintas ketika mendengar sebutan ini yang pertama adalah idealisme, dan yang kedua adalah semangatnya.Idealisme mempertahankan apa yang mereka anggap itu suatu kebenaran.Semangat membara dalam berjuang demi apa yang hendak mereka perjuangkan.

Peran pemuda dalam membangun bangsa?

Konsep peran dalam sudut pandang sosiologi adalah serangkean hak, kewajiban, harapan, norma, dan perilaku seseorang yang harus dihadapi dan dipenuhi.Ketika peran pemuda dikaitkan dengan membangun suatu bangsa.Apakah sebenernya yang sudah dilakukan sosok pemuda di jaman dahulu dibandingkan dengan pemuda jaman sekarang?.Membuka lembaran lembaran sejarah sama halnya menelisik episode-episode cerita heroik pemuda di jaman dahulu.Jas Merah atau jangan lupakan sejarah membuat kita bernostalgia bahwasanya pemuda jaman dahalu benar-benar menjadi sebuah ujung tombak pergerakan suatu bangsa dan nakhoda kapal menuju suatu kemerdekaan.Mulai dari adanya pergerakan Budi Utomo,Jong Java, Jong Salebes adalah sutu bukti pergerkan berawal dari pemuda.Keberanian kaum muda untuk menekan kaum tua agar segera memerdekakan Indonesia menunjukan bahwa nakhoda arah kemerdekaan juga andil dari pemuda di jaman dahulu.Pemuda jaman dahulu bener-benar menjalankan kewajibanya dalam kesadaran, dan dalam keadaan resah meraka bergerak atas dasar satu rasa yang sama yaitu sama-sama merasakan penjajahan di bumi pertiwi.Luar Biasa ketika kita mau sedikit berkaca dan memandang apa yang dilakukan pemuda di jaman dahulu.

Lalu Bagaimana peran pemuda jaman sekarang untuk membangun bangsa?

Peran pemuda jaman sekarang seharusnya sudah jelas dan mungkin lebih sulit daripada pemuda di jaman penjajahan.Seperti halnya perkataan Ir.Soekarno “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.Hal itu menunjukan bahwa kemerdekaan hanyalah sebuah jembatan emas menuju perjuangan yang sebenarnya.Sejahtera atau sengsara adalah dua pilahan peran konkrit setelah Indonesia merdeka yang harus dipilih pemuda dijaman sekarang.Membawa peradaban Indonesia ke arah peradaban yang luar biasa dengan ilmu yang dimilikinya.Membawa angin segar semangat integritas bangsa untuk tetap menjaga kedaulatan negara.Merupakan beberapa peran yang harus dilakukan pemuda sekarang untuk membangun bangsa.

Peran untuk membangun bangsa yang harusnya menjadi suatu kesadaran bagi tiap-tiap warga negara terkhusus pemuda.Namun apa daya kini belom terlaksana sebagaimana mestinya, di era globalisasi ini.Kecanggihan IT membawa dampak positif dan negatif.Munculnya gadget pintar terkadang membawa virus bagi pemuda, virus yang menjadikan pemuda diam layaknya raga tanpa jiwa.Hanya memikirkan kepentinganya sendiri.Sungguh memalukan apabila kita berkaca kepada sumpah-sumpah pendahulu kita seperti sumpah Palapa sang Gajah Mada yang tidak ingin melepaskan puasa ketika belom menyatukan nusantara, atau sumpah Muhammad Hatta yang tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka.Kedua sumpah itu sangat bermakna, bahwasanya perjuangan tidak hanya untuk kepentingan individu namun juga untuk kepentingan kolektif.

Perjuangan pemuda dalam membangun bangsa belumlah usai !!!

Benar adanya bahwa perjuangan pemuda dalam membangun bangsa belumlah usai.Semangat ikhtiar dan doa haruslah selalu menjadi senjata utama pemuda untuk mencapai tujuan kemerdekaan yang seutuhnya dalam membangun bangsa ini.Ingatlah esensi hidup adalah sebuah perjuangan.Perjuangan untuk membangun bangsa, ketika kita berjuang ingatlah juga walau mungkin laras panjang menembus kepala kalian, walau mungkin belati menusuk dada kalian,akan tatapi jangan sampai kalian rela hati kalian tertembus kemunafikan, dan kalian rela bumi pertiwi ini yang dahalu diperjuangakan dengan darah-darah syuhada pahlawan bangsa hancur.Dikuasai tikus-tikus berdasi sehingga pembangunan bangsa adalah angan-angan belaka.

Hidup mahasiswa, hidup mahasiswa, hidup rakyat Indonesia

Salam membara dari mahasiswa yang sedang berproses di kota Bengawan.

Muhammad Shidiq Fathoni/Sosiologi/2015/Universitas Sebelas Maret

Kota Bengawan Mau di-Apakan?

kota bengawan

kota bengawan

Sebuah babak baru kota Bengawan telah dimulai. Penguasa baru yang bercokol di kursi walikota telah resmi menjalankan amanahnya. Apabila beliau sadar, tidur malam bagi beliau seharusnya tak nyenyak. Mengingat banyak sekali masalah kota ini yang beliau harus tuntaskan. Entah sadar atau tidak, masyarakat kota pun seharusnya resah apabila mengetahui segala problematika mereka. Tak peduli seberapa besar massa yang dahulu memilihnya, Pak Walikota jangan sampai jumawa dengan kemenangan dan harus berfokus pada kewajiban.

Surakarta, kota yang kerap mendapat berbagai julukan ini nyatanya belum mampu memenuhi beban julukannya. Solo Kota Layak Anak, Solo Kota Inklusif, Solo Kota Ramah Demokrasi dan banyak jargon kota Solo sering dikampanyekan oleh berbagai pihak, utamanya pemerintah. Namun, apakah julukan sejalan dengan keadaan? Atau hanya wacana tidak tentu ujung eksekusinya?

Coba lihat keadaan kota yang kita huni ini. Di sebuah daerah masih tertimbun sampah menggunung dari warga se-kota yang mengisolir hidup orang – orang di lingkungannya. Atau pula kabar mengagetkan tutupnya museum Radya Pustaka, yang tertua di negeri ini. Pembangunan demi kebutuhan pemodal pun menjulang tinggi menggusur hajat hidup warga. Atau dipindahnya pedagang kaki lima ke tempat yang belum jelas bagaimana nasib ke depannya.

Namun, satu masalah yang terbesar ialah adanya sebuah kampus besar Indonesia yang bervisi internasional di kota Solo, Universitas Sebelas Maret. Masalahnya adalah, segala problem kota  itu seakan tidak meresahkan hati para insan cendikia di dalamnya. Keengganan untuk peduli dengan kota ini masih cukup besar eksistensinya. Padahal kampus inilah yang sering berkoar mampu menjadi solusi untuk negeri.

Kalau saat ini kita masih mengira Solo baik – baik saja, bisa dikatakan kita belum hidup disini. Apakah titel mahasiswa begitu menjadikan kita serasa angkuh untuk menyapa warga kota, bertanya dan merasa ada keresahan di banyak orang yang serba susah hidup di kota Solo. Mereka yang harus pasrah dengan relokasi tak pasti. Atau yang harus menahan marah dari dibangunnya hotel dan gedung mewah yang merenggut air dan kehidupan mereka. Adalagi nasib budaya yang terombang ambing aset – asetnya di kota yang katanya Kota Budaya ini.

Apabila di awal masa kepemimpinannya, Pak Walikota ternyata juga belum sadar akan keadaan wiayahnya, ini menjadi sebuah kegagalan baginya. Atau apabila beliau tahu jelas namun tak peduli dan hanya berkebijakan atas dasar kepentingan dan materi, maka tangan masyarakat yang dahulu memilihnya, harus segera memberi pukulan telak untuk menariknya mundulr dari jabatannya. Namun pastinya, kita semua tidak berharap demikian.

Kalau mau diingat, janji walikota dahulu untuk menggaet pemilih adalah dengan menmastikan terwujudnya beberapa hal. Wasis, wareg, waras, mapan lan papan menjadi andalannya dahulu. Dan di awal, harus ditilik lagi apakah walikota beritikad untuk mewujudkannya. Indikatornya jelas, apabila sampai keberjalanan pemerintah masyarakat tidak bisa merasakan wareg, keadaannya tidak waras, tidak tercipta wasis serta mapan lan papan yang tidak jelas manfaatnya, maka ada yang salah dengan walikota dan jajarannya.

Namun, akankah kita membiarkan segala kegagalan itu terjadi? Tentunya tidak. Maka satu aksi harus dilakukan, Ingatkan! Ingatkan di awal ini bahwa janji beliau dahulu harus direalisasikan. Jangan sampai beliau lupa akan segala daya pikat kampanyenya. Dan di saat – saat menuju seratus hari kerjanya, kita harus kuatkan barisan untuk berjabat tangan dan meminta kepastian kepada beliau ribuan hari ke depan harus benar tindakannya.

Inilah bentuk kepedulian untuk kota ini. Memastikan san pemimpin tetap amanah sambil berumul dengan keresahan masyarakat. Arah gerak mahasiswa di kota Solo harus terus bergeliat. Di kota Solo kita hidup dan selama bertahun – tahun kita akan menjadi saksi kesuksesan atau kegagalan sebuah pemerintahan dan sejahtera tidaknya warga kota. Dan kesemuanya, butuh kontribusi dari mahasiswa. Lantas, maukah kita menanyakan kepada pemimpin baru, “Kota Bengawan Mau di-Apakan, Pak?!”

Faith Aqila Silmi / Kementerian Kebijakan Publik / BEM UNS 2016

‪#‎KawalKotaSolo

‪#‎DariSoloutkIndonesia

‪#‎Menuju100HariRudyPurnomo

Predikat Kota Layak anak, Apa Obyek kota Layak Eksis ?

Kota anak

Kota anak

Meninjau dari kesadaran akan potensi strategis anak untuk sebuah bangsa, pemerintah mencoba menjadikan seluruh kota di Indonesia sebagai kota yang peduli terhadap anak. Oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan pada 2006, Kota Surakarta, Malang, Jambi, Padang, Manado dan Kupang dijadikan pilot project pengembangan Kota Layak Anak. Penobatan kota Surakarta sebagi kota layak anak menjadi prestasi yang tersendiri bagi cacatan kepemimpinan pemerintahan Solo. Pemerintah kota Surakarta memperoleh piala predikat ke – 3 sebagai Kota Layak Anak dari Penjabat Walikota Solo Budi Suharto kepada Kepala Bapermas PA PP dan KB, yang dikukuhkan di Taman Balekambang, Sabtu 22 Agustus 2015 diadakan acara puncak peringatan Hari Anak Nasional.

Kota Layak Anak sendiri merupakan kota yang menjamin setiap anak untuk memperoleh semua haknya selayaknya warga sebuah kota. Baik hak kesehatan, pendidikan, mendapatkan perlindungan dan berpendapat tanpa ada diskriminasi. Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kota Surakarta (Bapermas P3KB) Drs Widhi Srihanto MM mengutarakan, pengembangan Kota Layak Anak membutuhkan jangka waktu yang lama. Prestasi Kota Solo sebagai kota yang dianggap Layak anak tergolong tinggi, pasalnya kota yang identik dengan budaya keraton ini menyandang status kota layak anak dengan tingkatan Nindya. Tingkatan Nindya merupakan tinngkatan ketiga dari Lima tahapan tingkatan yang dimulai dari pratama, madya, nindya, utama, dan KLA.

 

Pemerintah kota Surakarta tengah mengejar predikat utama sebelum ditetapkan sebagai KLA. Berbagai gerakan dan kebijakan pemerintah kota terus digenjot untuk menapai target resebut. Pembenahan kota terus digiatkan demi tercapai target tersebut, salah satunya dengan himbuan dari pemerintah kota sendiri mengenai predikat solo sebagai kota layak anak, yang terbukti adanya papan papan penuturan hal tersebut yang tersebar banyak diberbagai trotoar pinggir jalan dikota ini. Pemerintah kota juga tak tanggung tanggung dengan mengembar gemborkan akan pencapai prestasi kota sebagai penyandang kota layak anak dengan berbagai program yang dianggap mampu menjadkan kota Solo sebagai iconnya kota layak anak. Usaha pemerintah tersebut tentunya membawa banyak damapak positif bagi pemerintahan dan kota Surakarta sendiri. Seperti ketenaran dan keeksissan Surakarta yang semakin diakui dan diunggulkan dari kota lain, bahkan menjadi hashtag sebagai kota yang layak untuk anak.

Keseriusannya pemerintah kota memang perlu dipertayakan dalam mewudjukan target kota layak anak ini. Berkaca dengan kondisi lapangan keadaan kota di Solo sendiri nyatanya masih banyak polemik dan permasalahan kota sebagai penunjang layaknya kota sebagai ruang likup hidup anak-anak. Berbagai Standar kemapanan kota untuk menyandang kota lanyak anak masih sangat dipertayakan. Nyatanya masih sangat Nampak berbagai indikator buruk yang menjadi pantangan sebagai kota lanyak anak. Seharusnya Pemerintah kota Surakarta tidak hanya muluk-muluk mengejar predikat sebagi kota layak anak dengan tingkatan yang benar benar Layak anak (KLA). Pemerintah kota mungkin harus mengkaji ulang bagaimanakah kondisi keadaan kota seperti fasilitas, kurikulum pendidikan, insfrastruktur kota, hingga kenyamanan tata letak kota dalam penataan ruang dan publik bagi anak-anak. Kenyataannya seperti masih banyaknya poster dan iklan-iklan rokok yang menghiasi sudut-sudut kota ini, masih adanya kecenderungan anak dibawah umur yang bekerja meminta-minta dipinggir jalan. Padahal salah satu indikasi kelayakan kota yang benar-benar layak bagi anak adalah kota tersebut bebas dari iklan rokok. Prasarana dan insfrastruktur kota yang menunjang kota sebagai Layak anak juga masih perlu banyak perbaikan. Seperti alih fungsinya lahan edukasi anak-anak, berkurangnya ruang terbuka hijau seperti lapangan, taman hijau, taman bermain, yang sebagai penunjang tumbuh kembang bahkan pendidikan anak, Prasarana yang dimaksud, antara lain yakni ketersediaan Zona Selamat Sekolah (ZOSS) untuk setiap sekolah dasar (SD), SMP dan SMA yang berada di tepi jalan raya, dianggap mampu menunjang keselamatan anak, yang nyatanya keberadaan ZOSS tersebut dikota solo dapat dihitung jari.

Banyak permasalah dari yang kecil-kecil yang ada dikota ini sebagai kendala terwujudnya kota yang layak bagi anak, namun pemerintah kota Surakarta diharapkan mampu menwujudkan kota ini sebagai kota yang benar-benar mampu menyandang status kota Layak anak,bukan hanya sebagai predikat kota layak anak tapi kenyataan hanya sebuah wacana yang dijadikan alat untuk menjadikan kota sebagai tren senter oleh kota yang lain, bahkan sebagai ladang penyalahgunaan amanah oleh aparat pemerintahan dalam pelaksanaan berbagai program kerayataan. Pemerintak kota seharusnya mampu merangkul berbagai pihak untuk mewujudkan target utama sebagai Kota layak anak dengan mengandeng peran serta masyarakat, bahkan pihak-pihak swasta yang mampu memberikan kontribusi.

Isnaini Rohmawati / Kementerian Kebijakan Publik / BEM UNS 2016

‪#‎KawalKotaSolo

‪#‎DariSoloutkIndonesia

‪#‎Menuju100HariRudyPurnomo