ESKALASI

BEM UNS 2026

ESKALASI

Survei Awal BEM UNS 2026

454 Responden • 15 - 25 Maret 2026 • mandiri • Voluntary Sampling
Survei Awal BEM UNS 2026

Survei Awal BEM UNS 2026 yang dilaksanakan oleh Kementerian Riset dan Data pada 16–25 Maret 2026 melibatkan 454 responden dari 15 fakultas, dengan mayoritas berasal dari angkatan 2025 (59,9%) dan 2024 (33,5%). Dominasi mahasiswa angkatan awal ini menempatkan isu tata kelola dan transparansi kampus sebagai prioritas utama, khususnya terkait UKT dan biaya pendidikan (41,0%), dana organisasi, kurikulum, serta fasilitas kampus. Mahasiswa menuntut keterbukaan informasi publik karena kebijakan-kebijakan tersebut berdampak langsung pada kehidupan akademik dan finansial mereka. Selain tata kelola kampus, survei ini memotret adanya pergeseran ekspektasi terhadap model pergerakan dan layanan kemahasiswaan. Sebanyak 32,2% responden lebih mengharapkan gerakan BEM yang berlandaskan kajian dan riset berbasis data dibanding sekadar aksi demonstrasi atau advokasi formal. Di sisi lain, isu kesehatan mental menjadi kebutuhan krusial yang memerlukan ruang konseling privat (41,9%), kemudahan akses, dan jaminan kerahasiaan, alih-alih kegiatan massal seperti seminar. Secara keseluruhan, temuan ini menjadi landasan penting bagi BEM UNS untuk merumuskan arah gerak dan program kerja berbasis data yang solutif serta berdampak nyata bagi mahasiswa.

Suara Mahasiswa, Arah Gerakan: Potret Aspirasi Mahasiswa melalui Survei Awal BEM UNS 2026

Sebelum menyusun program kerja dan menentukan arah gerakan selama satu periode ke depan, organisasi mahasiswa perlu terlebih dahulu mendengar suara mahasiswa yang diwakilinya. Atas dasar itu, Kementerian Riset dan Data BEM UNS melaksanakan Survei Awal BEM UNS 2026 sebagai upaya memetakan aspirasi, kebutuhan, dan harapan mahasiswa terhadap isu-isu kemahasiswaan di lingkungan UNS. Survei ini melibatkan 454 responden dari 15 fakultas dan dilaksanakan pada periode 16-25 Maret 2026.

Hasil survei menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya menaruh perhatian pada persoalan akademik dan fasilitas kampus, tetapi juga pada transparansi tata kelola, akses informasi, kesehatan mental, pengembangan diri, serta efektivitas gerakan mahasiswa. Temuan-temuan tersebut menjadi dasar penting dalam membaca kebutuhan mahasiswa secara lebih komprehensif sehingga program kerja yang disusun benar-benar berangkat dari aspirasi mahasiswa.

Profil Responden

Gambar 1. Sebaran Responden Berdasarkan Angkatan

Dari sisi karakteristik responden, mayoritas berasal dari angkatan 2025 (59,9%) dan angkatan 2024 (33,5%). Komposisi tersebut menunjukkan bahwa hasil survei banyak merepresentasikan mahasiswa yang masih berada pada fase awal perkuliahan dan sedang beradaptasi dengan berbagai layanan maupun kebijakan kampus. Selain itu, survei berhasil menjangkau mahasiswa dari seluruh 15 fakultas di Universitas Sebelas Maret dengan proporsi yang beragam sehingga memberikan gambaran yang cukup luas mengenai kondisi mahasiswa.

Gambar 2. Sebaran Responden Berdasarkan Fakultas

Sebaran responden ini menjadi konteks penting dalam membaca hasil survei. Dominasi mahasiswa angkatan baru menjelaskan mengapa isu-isu seperti layanan akademik, biaya pendidikan, akses informasi, dan fasilitas kampus muncul sebagai prioritas utama dalam berbagai pertanyaan survei.

Transparansi dan Tata Kelola Menjadi Prioritas Utama

Dalam dunia perkuliahan, ketersediaan informasi mengenai kampus menjadi hal yang penting untuk diketahui tiap mahasiswa. Namun, tidak jarang informasi penting tersebut tidak tersampaikan secara menyeluruh kepada mahasiswa. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh beberapa fenomena seperti media publikasi informasi yang kurang terlihat, informasi yang disajikan susah untuk dipahami, bahkan informasi tersebut tidak dipublikasikan.

Gambar 3. Isu yang Paling Mendesak untuk Diadvokasikan Secara Transparan

Salah satu temuan dari hasil survei adalah tingginya perhatian mahasiswa terhadap transparansi tata kelola universitas. Ketika diminta menentukan isu yang paling mendesak untuk diadvokasikan secara transparan, sebanyak 41,0% responden memilih UKT dan biaya pendidikan sebagai prioritas utama. Selanjutnya diikuti oleh transparansi dana organisasi (31,9%), kurikulum dan sistem penilaian (26,2%), fasilitas dan sarana kampus (24,7%), serta beasiswa (22,0%).

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perhatian mahasiswa lebih banyak tertuju pada kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan akademik dan kondisi ekonomi mereka. Transparansi dipandang bukan sekadar bentuk keterbukaan informasi, tetapi sebagai bagian dari tata kelola yang memengaruhi rasa kepercayaan mahasiswa terhadap kampus maupun organisasi kemahasiswaan.

Gambar 4. Word Cloud Isu Advokasi

Hasil analisis jawaban terbuka memperkuat temuan tersebut. Dominasi kata seperti kampus, akademik, kebijakan, transparansi, beasiswa, pendidikan, dan akses menunjukkan bahwa mahasiswa mengharapkan proses penyusunan hingga pelaksanaan kebijakan dilakukan secara terbuka dan mudah dipahami.

Gerakan Mahasiswa Diharapkan Lebih Berbasis Kajian dan Data

Gerakan mahasiswa selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa, tidak hanya sebagai penyampai aspirasi, tetapi juga sebagai pengawal kebijakan agar tetap berpihak pada kepentingan masyarakat. Seiring berkembangnya tantangan yang dihadapi mahasiswa, ekspektasi terhadap bentuk gerakan organisasi kemahasiswaan pun mengalami perubahan.

Hasil survei menunjukkan bahwa mahasiswa lebih mengharapkan gerakan yang didasarkan pada kajian dan riset berbasis data. Sebanyak 32,2% responden memilih mekanisme tersebut sebagai bentuk gerakan yang paling diharapkan, lebih tinggi dibandingkan advokasi formal (19,8%) maupun aksi demonstrasi (19,8%). Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa tidak lagi hanya menilai gerakan dari seberapa besar gaungnya, tetapi juga dari seberapa kuat landasan ilmiah yang mendukungnya.


Gambar 5. Mekanisme Gerakan BEM yang Paling Diharapkan

Temuan tersebut diperkuat oleh analisis jawaban terbuka yang didominasi oleh kata-kata seperti data, kajian, riset, strategi, advokasi, terstruktur, dan berkelanjutan. Pola ini menunjukkan bahwa mahasiswa menginginkan BEM menyusun sikap dan langkah organisasi berdasarkan bukti yang kuat sehingga setiap gerakan tidak hanya bersifat responsif terhadap isu, tetapi juga mampu menghasilkan rekomendasi dan solusi yang berdampak serta berkelanjutan.

Gambar 6. Word Cloud Mekanisme Gerakan

Kesehatan Mental : Hal Penting Yang Sering Dihiraukan

Perhatian mahasiswa terutama responden tidak hanya tertuju pada tata kelola kampus. Terdapat kebutuhan personal yang krusial namun jarang diprioritaskan, yaitu kesehatan mental.

Gambar 7. Layanan Kesehatan yang Diinginkan

Survei mencatat bahwa 41,9% responden menginginkan layanan konseling atau ruang untuk konseling, curhat atau sekedar berserita. Hal ini cukup menarik untuk diperhatikan lebih lanjut. Namun, urutan model layanan berikutnya tidak kalah menarik untuk diperhatikan. Kemudahan akses layanan (31,5%) dan jaminan kerahasiaan (25,1%) justru lebih unggul dibanding dengan format kegiatan seperti workshop atau sharing session yang selama ini lebih sering diselenggarakan.

Artinya, bukan model atau formatnya yang menjadi masalah utama. Mahasiswa tidak menolak workshop atau seminar. Mereka ragu untuk menghadiri workshop atau seminar karena terdapat kemungkinan hal yang diceritakan akan tetap aman. Menurut mahasiswa, kerahasiaan bukan sekedar fitur atau manfaat tambahan dalam layanan kesehatan mental akan tetapi menjadi hal yang wajib ada dalam suatu layanan kesehatan konseling

Temuan ini tentu dapat menggeser cara pandang mengenai apa yang dimaksud dengan "program kesehatan mental yang baik". Selama ini tolak ukur keberhasilan program sering berupa jumlah kegiatan atau banyaknya peserta. Padahal yang dibutuhkan mahasiswa adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana, yakni satu tempat yang bisa dipercaya, yang mudah dijangkau, dan yang tidak meminta mereka untuk terlebih dahulu berani tampil di depan banyak orang sebelum bisa mendapatkan bantuan serta yang paling penting tempat tersebut bisa menjaga rahasia dengan baik.

Penutup

Survei Awal BEM UNS 2026 memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai arah kebutuhan mahasiswa saat ini. Temuan-temuan survei menunjukkan bahwa mahasiswa mengharapkan tata kelola yang lebih transparan, gerakan organisasi yang berbasis data, kampus yang inklusif dan mudah diakses, serta program-program yang mampu mendukung kesejahteraan maupun pengembangan diri.

Meskipun hasil survei masih didominasi oleh responden dari angkatan 2025 dan 2024, temuan ini tetap memberikan potret awal yang penting mengenai kondisi dan harapan mahasiswa. Oleh karena itu, Survei Awal BEM UNS 2026 diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi aspirasi mahasiswa, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan, program kerja, dan arah gerak BEM UNS selama satu periode kepengurusan. Dengan menjadikan data sebagai landasan pengambilan keputusan, setiap program yang dirancang diharapkan mampu menjawab kebutuhan nyata mahasiswa serta memberikan dampak yang lebih luas bagi Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Sebelas Maret.



Survei Lainnya

Solusi Mencari Kos Mahasiswa melalui BungaRampai Maps

1 Januari - Desember 2025 • kolaborasi

Solusi Mencari Kos Mahasiswa melalui BungaRampai Maps

BEM UNS dan BEM FMIPA meluncurkan platform BungaRampai Maps (bem.uns.ac.id/maps) berdasarkan hasil survei lapangan pada 20–30 April 2026 yang menghimpun data 421 kos di sekitar Universitas Sebelas Maret. Hasil survei menunjukkan bahwa persebaran kos didominasi oleh kawasan Kampus Kentingan dengan proporsi 65,3% kos putri dan 32,1% kos putra, sementara kawasan lain seperti Pabelan, Kleco, dan Kebumen jumlahnya masih relatif sedikit. Dari segi biaya, mayoritas sewa kos tergolong terjangkau dengan kisaran Rp300.000–Rp700.000 per bulan serta nilai median sebesar Rp578.000. Meskipun terdapat beberapa pilihan kos putri premium yang lebih mahal, secara umum tidak ada perbedaan harga yang mencolok antara kos putra dan putri. Sebagian besar tempat tinggal telah dilengkapi dengan fasilitas dasar seperti kasur (98%), air (97%), lemari (97%), Wi-Fi (95%), parkiran motor (94%), hingga area jemuran (92%). Sebaliknya, fasilitas premium seperti AC (24%), mesin cuci (10%), dan water heater (1%) masih terbilang terbatas. Selain itu, calon penghuni diimbau untuk lebih teliti karena sebanyak 50,5% kos menerapkan biaya tambahan di luar sewa bulanan, di mana listrik, Wi-Fi, dan air menjadi komponen yang paling sering dipisahkan. Kehadiran BungaRampai Maps memudahkan mahasiswa dalam menyaring kos berdasarkan lokasi, harga, fasilitas, hingga kontak pemilik. Namun, karena keterbatasan foto fasilitas yang tersedia pada platform tersebut, mahasiswa tetap disarankan melakukan survei langsung ke lokasi sebelum membuat keputusan.